Obituari: Bule Keren Bernama Bourdain

Sebelum dia menulis essai Don’t Eat Before Reading This di usia 40. Dia adalah bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang chef di kota New York. Tapi setelah tulisan itu rilis di New Yorker pada tahun 1997 maka namanya melesat dan bintangnya pun langsung bersinar terang.

Bourdain2

Good food, good eating, is all about blood and organs. Cruelty and decay.

Kalimat awal tulisan itu begitu mentah dan menghujam. Makanan itu tak lebih dari sekedar darah dan organ tubuh. Kekejaman dan kebusukan. Dia juga melanjutkan bahwa gastronomi adalah ilmu mengenai kesakitan. Tulisan ini mengungkap sisi gelap bagaimana makanan yang lezat dihidangkan. Tulisan ini memberitahu pembaca agar jangan membeli hidangan mengandung ikan tuna di hari Senin, karena ikan tersebut bisa jadi dibeli empat hari sebelumnya yang artinya ikannya sudah tidak segar. Dia juga bilang kalo di hari Selasa kita akan menemukan hidangan yang segar dan kebanyakan chef tidak bekerja pada hari Senin. Chef adalah pekerjaan yang keras dan kotor. Kita tidak tahu bahwa kita hanya tinggal menikmati hidangan yang hangat dan segar di meja yang dibalut kain putih bersih. Menjadi chef di dapur restoran di kota New York membuat dia menguasai permasalahan yang ada. Dia tidak sekedar menulis. Dia tahu banyak makanan yang tidak habis didaur ulang. Roti yang tidak termakan dihidangkan kembali. Sisa mentega disajikan menjadi hollandaise.

Esai ini tentu menimbulkan kontroversi. Tapi tidak ada yang menafikan bahwa essay ini ditulis dengan jujur yang hasilnya dia mendapatkan tawaran untuk membuat buku yang kelak mengubah jalan hidupnya. Kitchen Confidential adalah merupakan buku pertamanya yang laku keras. Bourdain pun dengan kepribadian yang unik mendapatkan tawaran dari Food Network untuk membawakan acara A Cook’s Tour. Yang dilanjutkan dengan No Reservations dan juga Parts Unknown.

Banyak chef yang mempunyai acara TV tapi hanya sedikit yang mempunyai banyak penggemar. Bourdain mempunyai wawasan yang luas. Dia menyukai film dan teknik perfilman dia terapkan di acaranya. Ini yang membuat dia banyak mendapatkan penghargaan. Kesukaannya akan musik rock membuat ia bisa dengan mudah banyak mengundang musisi rock ke acara televisinya. Dan yang paling penting adalah dia bisa melebur dengan kebudayaan dari masyarakat lokal di manapun dia berada di lebih dari 100 negara yang sudah dia kunjungi. Dia tidak mempunyai pantangan. Dia bisa memakan apa saja. Ini yang membuat dia banyak disukai. Dia pernah makan sup darah berisi otak babi di Thailand. Makan testikel kambing di Maroko. Telur semut di Meksiko. Tidak banyak bule yang bisa melakukan ini. Di televisi. Seorang chef apalagi. Dia merangkul kearifan lokal, bagaimana kita banyak menyebutnya. Ini yang tidak dipunyai vlogger semacam Logan Paul. Ataupun juri Masterchef yang bilang rendang itu harus renyah. Atau bahkan Marko Simic yang melakukan pelecehan seksual terhadap Via Vallen. Atau mungkin kebanyakan bule di Melly’s dan Jalan Jaksa.

Bourdain1

Tony, begitu dia dipanggil oleh teman dan koleganya, mempunyai banyak julukan. Hemmingway of Gastronomy, the Elvis of bad boy chefs, dan banyak lagi. Dia adalah rock star di dunia kuliner. Dia bisa dengan seenaknya mengeluarkan kata-kata kotor di televisi. Dia juga bisa mengkritik siapa saja, sesama chef atau kaum vegetarian. Dia memang dibesarkan ketika musik punk sedang berkembang. Ini yang ikut membentuk kepribadiannya Di tahun 70an akhir di New York, CBGB, dan narkoba adalah kegiatan yang lazim. Dan Tony pun ikut tenggelam di dalamnya. Dia menjadi pecandu heroin dan kokain. Dia bahkan mengaku dia sering kali dalam kondisi pengaruh narkoba ketika bekerja sebagai chef sambil mendengarkan The Ramones atau Grateful Dead. Bukunya yang berjudul The Nasty Bits, dia dedikasikan untuk Johnny, Joey, dan Dee Dee Ramone.

Anthony Bourdain juga merupakan seorang penggagas gerakan #MeToo. Asia Argento, kekasihnya, adalah korban perkosaan yang dilakukan oleh produser kondang bernama Harvey Weinstein. Dia ikut mendorong Asia agar mengungkap kasus ini, dibantu oleh Rose McGowan dan juga yang lainnya. Gerakan ini telah membuahkan hasil. Harvey Weinstein sekarang sedang menjalani proses pengadilan.

bourdain3

Sebelum berhubungan dengan Asia Argento, dia sudah dua kali menikah. Nancy Putkoski adalah istri pertamanya yang dinikahi pada tahun 1985 hingga bercerai di tahun 2005. Lalu di tahun 2007, dia menikahi Ottavia Busia yang memberinya puteri bernama Ariane. Mereka bercerai di tahun 2016. Tuntutan pekerjaan yang harus keliling dunia selama 250 hari selama setahun ikut menjadi andil mengapa mereka berpisah. Di bukunya Medium Raw,  dia menjelaskan bahwa kehidupannya menjadi tidak bermakna setelah perceraian pertamanya.

bourdain4

Empat hari lalu, saya mendapatkan berita bahwa Anthony Bourdain, ditemukan meninggal karena bunuh diri di kamar hotelnya yang mewah di Paris, di tengah kegiatan syutingnya untuk acara CNN, Parts Unknown, edisi Paris.

 

Advertisements

Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.