You and Me will Linger

Sudah lebih dari sebulan sejak Dolores O’Riordan, vokalis grup band The Cranberries, meninggal dunia. Tapi entah kenapa, rasa “baper” saya terhadap berita ini tak kunjung usai. Mungkin memang tak akan pernah usai.

Padahal untuk urusan soal pesohor musik yang meninggalkan kita terlebih dulu, bisa dibilang saya “cepat” untuk move on. Oke, kecuali Whitney Houston. Tapi dalam dua tahun terakhir, di mana banyak sekali musical legends yang mendadak berpulang, kesedihan saya terhitung agak cepat usai. Yang paling lama sempat membuat murung adalah kepergian George Michael. Maklum, karena albumnya yang berjudul “Older” adalah salah satu album yang saya dengarkan berulang-ulang saat remaja.

Mungkin pada akhirnya ini karena faktor kedekatan emosional. Musik yang kita dengarkan saat kita tumbuh dan berkembang, atau istilahnya formative years, akan cenderung terus lekang dalam memori kita sampai kita dewasa. Bisa jadi sampai kita hilang ingatan sama sekali.

Saya belum terlalu menaruh perhatian lebih kepada musik saat album “Everybody Else is Doing It, So Why Can’t We?” keluar di pasaran. Selain waktu itu televisi swasta belum masuk secara resmi di kota kelahiran saya, akses musik saya dapatkan secara terbatas lewat radio FM yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah kiri. Justru lagu “Dreams” baru terdengar familiar di telinga beberapa tahun kemudian, setelah lagu tersebut digunakan di beberapa film.

Tetapi lain cerita saat album kedua The Cranberries muncul. Waktu itu saya dan kakak saya diberi jatah membeli kaset lagu barat masing-masing satu buah. Saya memilih album “Crossroads” milik Bon Jovi. Soalnya waktu itu saya suka mendengarkan lagu “Always” di radio. Lagi pula, saya pikir, ini album “the best of”. Pasti satu album isinya bagus-bagus, pikir saya.

Kakak saya membeli album berjudul “No Need to Argue”. Saya heran, kenapa dia membeli album dari band yang belum pernah saya dengar namanya sebelumnya. Sampul album itu pun tidak menarik perhatian saya. Cuma ada empat orang anggota band yang duduk di sofa, satu orang duduk di lantai. That’s it. Kakak saya bilang, kalau lagu “Zombie” ini sering diputar di radio di Jakarta. Saya yang waktu itu masih jadi “putra daerah” cuma mengangguk-angguk kecil.

Lalu saya mulai memutar kaset itu di tape deck. Sampai di lagu yang dibilang populer tadi, saya terperangah. Memang penuh jeritan, tapi entah kenapa, saya bisa memahami setiap kata yang diucapkan. Pengucapan katanya jernih dan jelas. Tidak seperti layaknya lagu-lagu alternatif lain kala itu.

Saya dengarkan lagi satu album itu. Ada satu lagu yang membuat saya tertegun. Judulnya “Ode to My Family”. Saya tidak paham apa maksudnya, meskipun sudah berulang kali membaca lirik lagu itu sampai hapal. Lama-lama saya paham, bahwa kadang kala kita tidak perlu mengerti sebuah lirik lagu seutuhnya. Cukup apa yang kita rasakan. Dan saya merasakan klangenan yang tak terbatas setiap mendengar lagu itu. Semacam ada inexplicable longing feeling saat vokalis sudah mulai melantunkan “du du du du …” di awal lagu.

Tak puas cuma dua lagu itu, saya pun melahap satu album ini seutuhnya, terutama di lagu “Twenty One”, “I Can’t Be With You”, “Dreaming My Dreams” dan “No Need to Argue” yang pernah sengaja saya rekam khusus di kaset kosong, agar isi satu kaset tersebut bisa terdiri dari lagu-lagu itu saja. Tidak ada yang lain.

Waktu berjalan. Di puncak masa remaja, saya sering jalan-jalan bersama teman-teman sambil bersenandung “Free to Decide” atau “When You’re Gone” dari album “To The Faithful Departed”. Tentu saja di sela bernyanyi lagu-lagu lain yang juga populer kala itu. Tapi entah mengapa, mendengar intro atau beberapa bait lagu-lagu ini, sontak ingatan langsung melayang ke masa silam.

Lalu saya bersiap-siap pindah negara sesaat untuk kuliah. Tidak banyak waktu untuk mendengarkan musik baru, sehingga saya baru ‘ngeh’ ada album baru The Cranberries beberapa bulan, hampir setahun malah, setelah dirilis. Di sela-sela kesibukan kerja part-time jadi pelayan restoran saat break kuliah, perjalanan jauh dengan bis umum selalu ditemani dengan lagu-lagu seperti “Animal Instinct” dan “Just My Imagination”. Semester berikutnya, dengan pekerjaan yang kurang lebih sama, lagu-lagunya masih sama, ditambah dengan “Never Grow Old”.

Saya tidak pernah menonton konser The Cranberries secara langsung. Selalu ada halangan saat mereka datang. Atau memang karena menonton konser musik memang tidak pernah menjadi prioritas pribadi.

Toh itu tidak mengurangi frekuensi saya mendengarkan lagu-lagu The Cranberries. Beberapa tahun setelah saya lulus kuliah, saat frekuensi kemunculan grup ini juga semakin berkurang, semakin berkurang juga intensitas saya mendengarkan lagu-lagu mereka. Kalau sekedar ingin ingat masa lalu, atau kalau muncul di radio di taksi, pasti akan mendengarkan dan diam-diam bersenandung.

Sampai sebulan yang lalu. Saat saya sadar kalau kepergian sang vokalis, Dolores O’Riordan, berarti kepergian masa lalu saya juga.

Saya pernah membaca sebuah kutipan, kalau kita tidak pernah mengerti kenapa kepergian musisi yang kita tidak pernah kenal secara personal bisa membuat kita merasakan kehilangan yang sangat besar. Itu karena musisi, seniman, atau artis-artis tersebut bisa mengekspresikan apa yang kita tidak pernah bisa ungkapkan. Kreasi mereka mewakili dan menyuarakan isi hati kita, dengan efek yang hanya kita sendiri yang tahu bagaimana merasakannya.

Saying goodbye to our departed idols often means saying goodbye to our old life.

Paling tidak, karya mereka akan abadi. And that is why, You and Me will Linger, forever.

Sebagai teman Anda hari ini, berikut playlist Spotify yang saya buat, berisi lagu-lagu The Cranberries yang menemani saya tumbuh dan berkembang.

Selamat mendengarkan.

Advertisements

4 thoughts on “You and Me will Linger

Leave a Reply