Ketika Nilai Tak Lagi Dinilai


Salah satu penulis linimasa, Lei, adalah punggawa salah satu situs online bernama womantalk. Dalam sebulan hampir 2 juta laman yang terbaca pengunjung. Linimasa? Seperempatnya. Itupun bukan sebulan melainkan 9 bulan. 

Jazz. Seperti musik jazz. Begitu kata Agun. Linimasa seperti musik Jazz yang ndak perlu banyak penggemar namun fanatik. 

Bukan. Linimasa itu layaknya butik. Bukan toserba atau usaha waralaba. Glenn meyakini ini. Syaratnya Roy jadi kurator. 

Roy, iya saya sendiri, melihat hal ini sebagai sebuah fenomena biasa. Pelan tapi pasti itu sudah biasa. Melesat kilat lalu wafat. Ini juga biasa. Saya lebih menyukai lambat tapi nikmat.

Banyak nilai yang lebih luhur untuk diperhatikan dan dijaga. Saya lebih menyukai kata rawat. Ada hal-hal yang lebih mulia dari sekadar statistik. Ada hal yang lebih bermakna dari sekadar terkenal. Ada sesuatu yang lebih elegan dari sekadar “menghasilkan”.

Saya masih ingat betul ketika Glenn berpendapat suatu ketika, sembari menyesap kokakola di sebuah kedai yang letaknya di atap sebuah gedung. Bahwa begitu banyak penulis muda yang serius untuk belajar menulis. Ikut kursus menulis sana-sini. Ikut seminar penulisan kreatif, jurnal sastrawi, atau puisi. Tapi banyak yang tak memiliki kesempatan menulis dan memperoleh tempat istimewa. Punya jurnal harian yang tak dapat diganggu gugat. Itulah istimewa-nya Penulis linimasa. 

Linimasa bukan terdiri dari Penulis, kecuali Lei dan Gandrasta. Linimasa adalah warga yang ingin bercerita. Harapannya “wajah” warga terus melekat hingga akhir hayat.

Cerita kami adalah cerita biasa dari orang biasa. Idealnya kami masing-masing punya waktu 7 hari untuk hidup, dan 1-2 jam untuk menuliskan hodup kita ini. Bisa juga soal ide, soal wacana, atau soal curahan hati. 

Karena linimasa adalah soal pertemuan yang jarang terjadi dan hidup masing-masing yang perlu diperjuangkan. Saya benci sensasi. Saya lebih menyukai esensi. Kami tak menjual diri tapi tak menolak jika ada yang membeli. Prinsip ini yang kami, atau setidaknya saya pegang. 

Rasanya bangga jika banyak yang membaca. Tapi tak menjadi gundah gulana jika pun yang membaca ya orang ya itu-itu saja. 

Saya tak mau tergesa-gesa menjadikan linimasa sebuah karya yang juara. linimasa cukup menjadi anak kecil yang tumbuh kembang secara wajar. Ndak perlu dapat ranking 1, asal punya banyak teman. Ndak perlu juara kelas, asal memiliki budi pekerti yang wajar. Bolos seperlunya, nyontek sesekali, tapi jangan pernah membully. 

Linimasa akan tumbuh sebagai saksi hidup ide-ide dan curahan hati penulisnya. Lalu berbagi dengan pembaca. Soal suka-tidak suka, itu soal lain. Apakah nantinya anak ini menjadi anak yang sukses? Itu harapan kita semua, tapi biarkan saat ini ia bermain tanpa perlu terbebani banyak pekerjaan rumah. Selain soal sekolah, anak juga perlu membantu membersihkan rumah, mengasuh adik, dan bandel. 

Ukuran statistika, laba pemasukan, dan popularitas memang menggoda. Tapi percayalah, tak rugi untuk senantiasa berbagi. Mungkin tidak menguntungkan secara materi, tapi kami yakin kelak semakin kaya hati dan tetap manusiawi. 

Selamat Jumat Malam!

Salam anget

Roy

Iklan

5 thoughts on “Ketika Nilai Tak Lagi Dinilai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s