But First, Persepsi

Sejak SMA saya sudah doyan kopi hitam dalam bentuk kopi tubruk, karena ketularan orangtua. Tapi baru 3-4 tahun belakangan ini saya meminumnya tanpa gula. Dan sejak itu juga lidah jadi lebih sensitif dengan berbagai aroma dan rasa kopi. Apalagi setelah saya berhenti merokok beberapa minggu yang lalu. Kalau dulu dengan tak adanya air mendidih di kantor, saya dengan santainya bisa belok ke kopi instan di dalam sachet, setelah tak lagi konsumsi gula pilihan saya sangat terbatas. Kemudian setelah pindah ke kantor baru ternyata banyak yang punya selera serupa, saya akhirnya menyimpan sebuah french press di kantor, kemudian membeli kopi yang saya suka untuk dibuat di kantor. Lalu saya jadi kurang puas jika kopi yang saya simpan dalam keadaan digiling, saya membeli biji kopi dan menggilingnya sendiri. Ternyata ritual ini sungguh memuaskan dan menenangkan batin. Kemudian muncul pertanyaan baru, kok saya mulai bosan dengan merk dan jenis kopi yang saya beli hampir setiap dua minggu sekali itu? Tetapi untuk mencari dan mencoba yang baru setiap kali kopi habis, rasanya tak ada tenaga, waktu dan kemauan.

Lalu teman saya yang telah menjadi coffee snob duluan mengenalkan pada gordi.id. It’s an odinsend. Kalau Anda malas klik link yang saya berikan itu, Gordi ini sistem penyedia kopi langganan, yang akan mengirimkan kopi ke pelanggan setiap dua minggu. Berapa banyak kopi, berapa jenisnya dan berapa lama langganannya tentu bisa Anda pilih. Tetapi jenisnya tidak bisa Anda pilih. I love that they have the element of surprise. Karena kalau tidak begitu, bisa saja kita memilih kopi yang itu itu saja, tanpa berani bertualang mencoba yang lain. Untuk harga, setelah saya bandingkan dengan kopi kualitas baik yang dijual di coffee shop atau penyalur terpercaya, tidak terlalu jauh berbeda, malah ada yang lebih murah. Jadilah saya berlangganan dua bulan dengan Gordi, dengan harapan khazanah pengetahuan saya tentang rasa-rasa dan jenis-jenis kopi bisa dibandingkan dengan para coffee snob yang (kadang) nyebelin itu. Alasan utama tentunya karena saya tetap tak bisa hidup tanpa kafein. But of course, a little pretension and snobbery in my little life won’t hurt.

img_20161020_211549
Kotak Gordi yang unyu

Ketika datang paket pertama saya dari Gordi, girang sekali rasanya. Kemasan keren, ada pesan yang di personalisasi. Saya baru mencoba satu jenis kopi, tapi rasanya memang berbeda, dan tentu jenisnya bukan yang saya akan pilih kalau saya tidak jadi pelanggan Gordi. Jika dipikir lagi, kira-kira apa yang membedakan Gordi dengan penjual kopi biasa yang juga mengambil kopinya dari roaster lokal dan mendapatkan stock dari penjuru Indonesia ya?

img_20161020_211730
Personalized message. I feel so important!

Lalu saya tiba tiba teringat salah satu dari Ted Talk yang berkesan dari Rory Sutherland. Tidak seperti orang jebolan biro iklan lainnya yang saya sering simak, sudut pandang Rory tidaklah basi. Dia mengatakan bahwa sebagian besar masalah – jika semua kebutuhan primer dan sekunder telah terpenuhi – adalah masalah persepsi. Jadi jika masalahnya persepsi, tak ada gunanya (sebagai sebuah perusahaan atau pemilik badan usaha) untuk menghabiskan uang banyak demi mengubah realita. Ubah saja persepsinya. Caranya? Tentu tak mudah, di sini yang namanya “kreativitas” sungguhan diperlukan. Bukan kreativitas yang sering dieluelukan para artis.

img_20161020_211737
Dua jenis kopi untuk Leila Safira

Dia memberi contoh; Kemal Ataturk yang mengadakan reformasi di Turki yang awalnya merupakan negara Islam menjadi negara sekuler. Sebelumnya ada disclaimer kalau cerita ini anekdot yang belum tentu benar. Dan sebenarnya banyak contoh lain, tapi saya sedang ingin memilih yang ini saja. Ataturk ingin agar para perempuan di Turki tidak menggunakan cadar, tetapi merasa enggan melarang dengan keras, karena paham pasti akan mengalami penolakan. Akhirnya Ataturk tidak melarang, tetapi malah mengharuskan perempuan dengan profesi penjaja seks komersial menggunakan cadar, agar persepsi cadar berubah.

Contoh lain adalah kereta cepat antara Perancis dan Inggris; bagaimana perusahaan kereta ini ingin membuat pengalaman penumpang lebih nyaman ketika mengendarainya. Keluarlah biaya hingga jutaan poundsterling untuk menciptakan teknologi kereta yang lebih cepat, dan mereka hanya berhasil mengurangi waktu tempuh 14 (atau 40? Them British accent is hard to hear sometimes) menit saja dari total 3.5 jam waktu tempuh. Padahal, menurut Rory, hanya dengan secuil bujet dari jutaan pound itu bisa digunakan untuk memasang WiFi gratis di kereta, yang, mungkin tidak akan mengurangi waktu tempuh, tetapi akan meningkatkan kenyamanan dan persepsi penumpang. Atau, menurut Rory lagi, hanya dengan sepuluh persen dari bujet itu bisa digunakan untuk membayar top model perempuan dan lelaki untuk berjalan sepanjang gerbong dan membagikan wine gratis, yang tidak hanya membuat persepsi penumpang semakin baik, tetapi juga akan membuat penumpang meminta kereta diperlambat!

ryan4_905

Apa hubungan Rory dan Gordi? Saya berpikir kalau nyaris tak ada perbedaan proses usaha Gordi dan penjual kopi lain. Hanya Gordi berhasil mengubah persepsi kita tentang stok kopi yang tidak selalu lancar supply-nya dari satu sumber, dengan mengganti istilahnya menjadi “kopi yang diambil dari penjuru Indonesia untuk Anda coba, dan kami kurasi”. Sungguh jenius bukan? Saya berdoa agar Gordi selalu ada sehingga saya tidak lagi bosan minum kopi yang itu itu saja.

Iklan

9 thoughts on “But First, Persepsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s