Titik Balik Yang Membuat Kita Kebalik Sebelum Akhirnya Membaik

Akhir pekan lalu, saya menonton film The Happy Ending (1969). Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Mary Spencer, yang juga seorang istri dan ibu rumah tangga (diperankan sangat baik oleh Jean Simmons, yang mendapatkan nominasi Oscar lewat perannya di sini). Film diawali dengan masa pacaran Mary sebelum akhirnya dia menikah. Saat pernikahan, pikiran Mary melayang pada ending film-film klasik Hollywood yang sering ditontonnya, yang semuanya berakhir dengan adegan pernikahan, dan tulisan “The End”.
Bahkan di film ini sendiri, tulisan “The End” itu muncul di awal film. Namun sejalan dengan bergulirnya cerita film, tiba-tiba kita diperlihatkan Mary yang secara impulsif pergi ke luar kota dengan tiket sekali jalan, meninggalkan keluarganya. Adegan demi adegan flashback muncul.
Ternyata selama ini Mary depresi. Dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia mengisi botol parfum kosong dengan vodka, supaya orang tidak curiga dia sedang minum alkohol. Suaminya sempat selingkuh, tapi itu pun ditanggapi dengan dingin.
Mary terjebak dengan idyllic idea of marriage, dan tidak siap dengan kehidupan nyata. Maka dia memilih untuk keluar, meskipun dengan resiko hidupnya berantakan. Suami Mary sempat meminta kembali, meskipun di akhir film Mary bertanya lagi:
“Tell me. If we were not married in the first place, if we’re still single, would you still consider me?”
Suami Mary, yang sekarang sudah jadi mantan suami, cuma terdiam.
“The End”.

The Happy Ending (1969)
The Happy Ending (1969)

Akhir dekade 60-an di Amerika Serikat memang dipenuhi dengan karya seni, baik itu musik, buku, atau film, yang mempertanyakan jati diri karakter. Banyak pengamat berkata, inilah awal era “me-attitude”. Orang banyak memberontak, mendobrak pakem atau norma kehidupan suburban style era 50-an. Revolusi budaya dimulai. Gerakan women lib dimulai. Perempuan mempertanyakan fungsi mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Tetapi, sepanjang menonton film The Happy Ending ini, saya justru melihat relevansi ide cerita itu sampai sekarang. Tentu saja, ada beberapa film lain dengan tema serupa yang saya ingat. Misalnya, film Audrey Hepburn favorit saya, Two For The Road (1967). Cerita tentang sepasang suami istri (Hepburn dan Albert Finnery) yang setiap tahun dalam annual holiday trip mereka selalu berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan: masihkah mereka cinta satu sama lain?

Two for the Road (1967)
Two for the Road (1967)

Beberapa tahun kemudian, tema serupa banyak diangkat kembali oleh film-film lain, salah satunya The Story of Us (1999), salah satu film underrated dari Rob Reiner, di mana Bruce Willis dan Michelle Pfeiffer mati-matian mempertahankan rumah tanggal mereka selama 15 tahun.

Saya tidak menikah, belum ada rencana juga untuk menikah. Meskipun begitu, saat menonton (ulang) film-film di atas (berkali-kali), pertanyaan yang sama menghinggap di kepala:
At what point does a relationship go wrong? Di titik mana sih hubungan asmara ini menjadi kacau balau? Doesn’t it start well at the beginning? Isn’t everything starting great?

Kalau kita menuruti beberapa teori, ada yang bilang, 3 bulan pertama setelah pacaran pasti akan bosan. Atau kalau tidak, setelah 5 tahun menikah, pasti muncul friksi besar yang akan menentukan masa depan pernikahan itu, mau langgeng atau tidak.

The Story of Us (1999)
The Story of Us (1999)

Namun nyatanya, tidak pernah ada angka absolut. Jangankan beda orang, kita sendiri pun berubah sesuai dengan waktu yang terus berjalan. Maksudnya, cara kita menjalani hubungan dengan orang 10 tahun lalu dengan cara kita sekarang, pasti berbeda.
Different sets of expectation, different sets of practicality, and other countless differences.

Namun terkadang, tidak ada trigger atau pemicu apapun yang membuat seseorang menjadi tidak bahagia. Sometimes, the sparks just stops. Keceriaan berhenti. Komunikasi tidak lancar. Hubungan fisik semakin jarang terjadi.
Happiness lasts not forever. Happiness lasts while it lasts.

Mungkin tidak perlu dicari tahu apa penyebabnya. Mungkin pertanyaannya bukan “apa yang menyebabkan”, tapi “bagaimana sekarang?”
We are not happy. Now what?

Ada yang memilih untuk mencari solusi bersama. Ada yang memilih untuk berpisah. Titik balik hubungan kita mungkin bukan untuk membalik atau reset ke awal hubungan yang bahagia, tetapi untuk melangkah maju.

Dua dari tiga film yang saya tulis di atas memilih untuk memisahkan karakter utama pria dan perempuan. Satu lagi memilih untuk meneruskan hubungan, meskipun luka, mistrust, sakit hati yang timbul akibat percecokan tidak akan pernah bisa hilang.
Dan ketiga film itu punya kesamaan setelah credit title mulai dinaikkan: mereka semua membuat saya berpikir lama setelah filmnya selesai.

Berpikir, bahwa mungkin yang namanya happy ending is only the beginning.

And life, with or without love, still goes on.

22 thoughts on “Titik Balik Yang Membuat Kita Kebalik Sebelum Akhirnya Membaik Leave a comment

  1. Menikah itu menurut saya untuk memenuhi kebutuhan biologis. Urusan bahagia, hmm… saya sudah bahagia, dan tidak hobbi sedih lama – lama.
    Tulisannya bagus, emang selalu kalau tulisan Mas Nauval selalu bagus – bagus sih ya. Saya belum pernah nemu tulisan tidak bagus dari anda. 🙂

  2. Pertama-tama, terima kasih atas tulisan yang begitu sesuai dengan perdebatan kalbu pribadi akan pernikahan dan teman hidup. Hingga sebelum tulisan ini saya baca, saya kerap berpikir bahwa pernikahan diperlukan untuk “melegalkan” sepasang manusia yang ingin hidup bersama dengan mengandalkan komitmen dan cinta sebagai elemen utama. Di luar itu, menurut saya, pernikahan pada umumnya hanya dilakukan atas kebiasaan heteronormativitas yang telah berlangsung bertahun-tahun entah sejak kapan mengikuti beberapa dogma agama yang menganjurkan dua manusia lawan jenis terikat dalam suatu ikatan suci dalam kehidupan.

    Tinggal bersama dengan ikatan pernikahan hanya salah satu pilihan dalam menjalani hidup.
    Tinggal bersama dengan sahabat, anggota keluarga lain, orang-orang lain tanpa ikatan pernikahan, atau sendiri juga merupakan pilihan.

    Yang terpenting adalah bagaimana mengetahui pilihan yang paling tepat dalam menjalani kehidupan dan membuat kebahagiaan di dalamnya. Sekali lagi terima kasih atas tulisan yang singkat, tetapi penuh akan kehangatan.

    Salam.

  3. Sebagai blogwalker yg super rajin, sebaliknya saya adalah tipe reader yg nggak suka meninggalkan komentar. But this article deserves it.
    Sebagai tulisan orang yg belum menikah, maka tulisan ini bagus. Sangat. Sekali. Membuat saya berpikir dalam dan menyemangati hidup sendiri. Because, i believe that (often) love is overrated.

  4. Jadi ingat nonton Story of Us dan betapa nangis bombay akibat perih seperi dikucur cuka (deramak). Tapi yaowoh sungguh.

  5. Happiness and sadness are only a matter of perspective, isn’t it?

    Illusions, delusions, and hallucinations are one way the neurons creating happiness (and sadness) out of nowhere. Hubungan yang diteruskan atau tidak hanyalah produk lanjutan dari ciptaan neuron itu sendiri

  6. :’)
    Kemarin aku terlewat membuka linimasa, pagi ini baca dua postingan dan berhasil membuat mata berkaca-kaca.
    Terima kasih banyak Mas Nauval, sudah menuliskannya.

    Aku teringat sebuah quote dari Shel Silverstein,

    “There are no happy endings.
    Endings are the saddest part,
    So just give me a happy middle
    And a very happy start.”

  7. makasih udah menulis, kak.
    seperti biasa, tulisanmu selalu menggugahku. hangat dan manis meski ada bitternya.

    entah kenapa jadi bikin inget “me before you” yang kemarin aku tonton.

    i guess i need another spontaneus yet impulsive random trip.

  8. Ah ditulis dengan apik. Kebanyakan kita mengejar atau mencari kebaahagiaan. Kita fokus mencari keluar daripada mencari kedalam diri kita sendiri. We are what we think. Kebanyakan berpendapat jika menikah itu untuk bahagia yang mana sebelum menikah berarti belum bahagia. Kita kadang kurang mencintai diri kita sendiri. Lebih berkurat dengan mencari keluar jati diri dan kebahagiaan. Bahagia atau tidak kita sendiri yang menciptakan.

    1. Terima kasih. Memang kadang susah buat sekedar menciptakan kebahagiaan buat diri sendiri. Seringnya kita mikir, kita baru bahagia kalo udah punya pasangan. Padahal ya ndak juga.

Leave a Reply