Saya dan satu teman dekat saya bisa dibilang memulai karier baru di tahun ini. Sebenarnya tidak seluruhnya baru dan berbeda. Tetapi teman saya yang pengalaman dan kredibilitasnya bisa dibilang jauh di atas rata-rata orang kebanyakan mengakui, kalau sekarang dia cukup sering merasa insecure dengan hasil pekerjaannya. Walau hampir selalu mendapat respon positif dari user. That’s exactly my sentiment about my new job. Kami mengakui sedang mengalami impostor syndrome. Dan lebih gawatnya, saya tipe yang tidak berani berbicara banyak atau “menjual’ hasil yang saya kerjakan jika saya sendiri belum merasa cukup tahu. I feel like, most of the days, I’m just winging it. Tetapi kemudian saya meyakinkan teman saya itu kalau, walaupun yang kami kerjakan sekarang rasanya lebih memerah otak dan tenaga, karena belum terlalu yakin akan apa dan bagaimana, paling tidak ada thought process yang masih tersimpan di muscle memory cara berpikir dan proses bekerja akibat pengalaman berpuluh tahun. Teman saya mengiyakan.
Lain lagi kekhawatiran rekan saya yang satu lagi. Dia baru akan pindah pekerjaan, dari PR agency yang satu ke PR agency yang lain. Suatu hari dia mengatakan, “Lu enggak khawatir Lei, kalau profesi seperti kita ini tak lama lagi akan obsolete”. Saya menjawab dengan, “Kita? Elu kali” Maaf ya teman. Tapi walaupun saya cukup sering merasa tua di industri ini, paling tidak saya bisa agak tenang karena berada di industri yang “benar”. Walaupun itu juga belum tentu 100 persen benar dalam beberapa tahun ke depan ya. Siapa yang bisa tahu. Tapi saya mau agak sok tahu sedikit, berdasarkan pengalaman bekerja berpuluh tahun, yang bisa dibilang sudah membentuk bulat sempurna (come in full circle), karena saya memulai karier di media dari media digital, pindah ke radio, baru ke cetak, dan sekarang kembali lagi ke digital.
- Sebanyak apapun pengalaman, ketika masuk ke tempat baru, anggap saja kita tak tahu apa-apa.
Karena perusahaan baru, kebijakan baru, atasan baru, bawahan baru dan segalanya baru. Penyesuaian yang harus dilakukan bisa berat bisa ringan; sebenarnya bisa dibilang tergantung diri sendiri. Just keep an open mind about new ways to get things done. Jangan memaksakan cara yang selama ini kita lakukan. Nanti ketika sudah lebih lama di perusahaan ini, dan orang mulai percaya, kita (mungkin) bisa menerapkan cara yang kita anggap lebih efisien.
- Love your boss.
Saya dua kali punya pengalaman dengan atasan yang saya tidak merasa cocok. Ada yang kejamnya seperti ibu tiri, ada lagi yang saya sulit respek karena menurut saya diabodohkurang kompeten. And it was hell. Sungguh kondisi yang saya tidak ingin ulang lagi. Karena itu menurut saya chemistry dengan atasan sangat penting. Karena kita harus bisa berkonsultasi dengan beliau, belajar dari beliau dan percaya bahwa beliau akan menjaga kita dari melakukan hal atau membuat keputusan yang (terlalu) bodoh. Bukan malah menjatuhkan. - Absorb knowledge like a sponge.

Don’t be this guy.
Jangan pernah berpikir kalau kita sudah cukup pintar. Atau cukup puas dengan skill dan pengetahuan di satu bidang saja. Dalam kondisi gonjang ganjing seperti ini, nobody is irreplaceable. Belajar dari mana saja, tentang apa saja dan asah cara berpikir agar bisa menganalisa dari segala sisi, tidak hanya satu dimensi saja. - Jangan merasa lebih tinggi dari siapa pun.
Oke lah, dari segi pengalaman mungkin Anda lebih dari sebagian besar karyawan di kantor. Posisi di hierarki organisasi juga, yaaa hanya satu atau dua level di bawah CEO. Tetapi bukan berarti semua orang yang di bawah posisi Anda itu kurang pintar atau kurang pengalaman dibandingkan Anda. Ada kutipan yang relevan, “Always be nice to people on your way up, you’ll meet them on your way down.” Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi.
Sudah ya, sepertinya segitu saja, nanti keterusan sok tahu beneran. Selamat menikmati sisa akhir pekan panjang, dan maafkan kemalaman.
Tinggalkan komentar