I Admit, I Know Nothing and I’m not Jon Snow

Saya dan satu teman dekat saya bisa dibilang memulai karier baru di tahun ini. Sebenarnya tidak seluruhnya baru dan berbeda. Tetapi teman saya yang pengalaman dan kredibilitasnya bisa dibilang jauh di atas rata-rata orang kebanyakan mengakui, kalau sekarang dia cukup sering merasa insecure dengan hasil pekerjaannya. Walau hampir selalu mendapat respon positif dari user. That’s exactly my sentiment about my new job. Kami mengakui sedang mengalami impostor syndrome. Dan lebih gawatnya, saya tipe yang tidak berani berbicara banyak atau “menjual’ hasil yang saya kerjakan jika saya sendiri belum merasa cukup tahu. I feel like, most of the days, I’m just winging it. Tetapi kemudian saya meyakinkan teman saya itu kalau, walaupun yang kami kerjakan sekarang rasanya lebih memerah otak dan tenaga, karena belum terlalu yakin akan apa dan bagaimana, paling tidak ada thought process  yang masih tersimpan di muscle memory cara berpikir dan proses bekerja akibat pengalaman berpuluh tahun. Teman saya mengiyakan.

Lain lagi kekhawatiran rekan saya yang satu lagi. Dia baru akan pindah pekerjaan, dari PR agency yang satu ke PR agency yang lain. Suatu hari dia mengatakan, “Lu enggak khawatir Lei, kalau profesi seperti kita ini tak lama lagi akan obsolete”. Saya menjawab dengan, “Kita? Elu kali” Maaf ya teman. Tapi walaupun saya cukup sering merasa tua di industri ini, paling tidak saya bisa agak tenang karena berada di industri yang “benar”. Walaupun itu juga belum tentu 100 persen benar dalam beberapa tahun ke depan ya. Siapa yang bisa tahu. Tapi saya mau agak sok tahu sedikit, berdasarkan pengalaman bekerja berpuluh tahun, yang bisa dibilang sudah membentuk bulat sempurna (come in full circle), karena saya memulai karier di media dari media digital, pindah ke radio, baru ke cetak, dan sekarang kembali lagi ke digital.

  1. Sebanyak apapun pengalaman, ketika masuk ke tempat baru, anggap saja kita tak tahu apa-apa.tumblr_n9mxn1hker1tfg6t4o1_500

    Karena perusahaan baru, kebijakan baru, atasan baru, bawahan baru dan segalanya baru. Penyesuaian yang harus dilakukan bisa berat bisa ringan; sebenarnya bisa dibilang tergantung diri sendiri. Just keep an open mind about new ways to get things done. Jangan memaksakan cara yang selama ini kita lakukan. Nanti ketika sudah lebih lama di perusahaan ini, dan orang mulai percaya, kita (mungkin) bisa menerapkan cara yang kita anggap lebih efisien. 

  2. Love your boss.badboss2


    Saya dua kali punya pengalaman dengan atasan yang saya tidak merasa cocok. Ada yang kejamnya seperti ibu tiri, ada lagi yang saya sulit respek karena menurut saya dia bodoh kurang kompeten. And it was hell. Sungguh kondisi yang saya tidak ingin ulang lagi. Karena itu menurut saya chemistry dengan atasan sangat penting. Karena kita harus bisa berkonsultasi dengan beliau, belajar dari beliau dan percaya bahwa beliau akan menjaga kita dari melakukan hal atau membuat keputusan yang (terlalu) bodoh. Bukan malah menjatuhkan. 

  3. Absorb knowledge like a sponge. 
    2014officespace4
    Don’t be this guy.


    Jangan pernah berpikir kalau kita sudah cukup pintar. Atau cukup puas dengan skill dan pengetahuan di satu bidang saja. Dalam kondisi gonjang ganjing seperti ini, nobody is irreplaceable. Belajar dari mana saja, tentang apa saja dan asah cara berpikir agar bisa menganalisa dari segala sisi, tidak hanya satu dimensi saja.

     

  4. Jangan merasa lebih tinggi dari siapa pun.tumblr_lze6un214b1qabcs6o1_500


    Oke lah, dari segi pengalaman mungkin Anda lebih dari sebagian besar karyawan di kantor. Posisi di hierarki organisasi juga, yaaa hanya satu atau dua level di bawah CEO. Tetapi bukan berarti semua orang yang di bawah posisi Anda itu kurang pintar atau kurang pengalaman dibandingkan Anda. Ada kutipan yang relevan, “Always be nice to people on your way up, you’ll meet them on your way down.” Karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Sudah ya, sepertinya segitu saja, nanti keterusan sok tahu beneran. Selamat menikmati sisa akhir pekan panjang, dan maafkan kemalaman.

Posted in: @linimasa

12 thoughts on “I Admit, I Know Nothing and I’m not Jon Snow Leave a comment

    1. aymen! tetapi menikmati ketidaktahuan itu jauh lebih baik dari merasa paling tahu, ya ngga siiiii??

    1. Semisal di lingkungan kerja saat ini justru yg dihadapi:
      1. Lingkungan kerjanya lama, tapi atasan hampir semuanya baru. Jadi rasanya kerepotan sendiri karena harus menjelaskan situasi dan proses yg sudah ada sebelumnya.
      2. Pemimpin yang semakin hari bersikap seperti bos, bukan leader. Jadinya bukan belajar cinta, justru belajar benci. :'(
      3. Saat kita menganalisa situasi dan menyampaikan apa yang sedang terjadi serta apa yang diharapkan oleh klien, pak bos malah komentar, “Jadi kamu merasa lebih pintar?”
      4. Tiap diskusi, pak bos malah membanggakan dirinya yang lebih berpengalaman, bekerja lebih lama, Jadi lebih tahu tentang masalah dan solusinya.

      Apa sebaiknya saya pindah kerja aja? *galau

      Terima kasih sarannya..

      *beneran curhat

      1. Hai Emanyza,
        maaf beru jawab, perasaan sudah jawab komen, rupanya dalam mimpi sepertinya. Situasinya cukup pelik ya. Kalau bosmu itu punya bos, apalagi yang sudah lebih kenal dirimu, kalau saya ya, akan coba diskusi dengan beliau tentang posisimu yang sulit ini. Kalau tidak, apakah ada kemungkinan minta reassign ke tim lain atau divisi lain? Kalau tidak ada kemungkinan itu juga, apakah bosmu ini suka micromanaging? Kalau enggak, mungkin kamu bisa keep doing things your way, tanpa harus lapor sampai detail ke dia, hanya hasilnya saja yang dia perlu tahu. Kalau memang semua kemungkinan itu tak ada, baru mungkin mempertimbangkan untuk move on. I feel you, kalau harus menghadapi itu setiap hari sangat lah menjadi beban. Semoga membantu!

Leave a Reply