Lemesin Aja Tsaaay…

COVERLINIMASA

Tadinya saya ingin menunda tulisan ini sampai film Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC2) selesai tayang di bioskop. Khawatir kalau tulisan ini menjadi spoiler. Tapi demi #kekinian tidak waktu yang lebih tepat selain sekarang. Karenanya, demi ketenteraman hidup bermasyarakat, bagian spoiler akan saya beri tanda SPOILER ALERT. Atau kalau ada pembaca yang berhaluan garis keras anti spoiler, silakan kembali membaca tulisan ini setelah menonton filmnya. Buat saya yang sudah menonton film AADC2 sebenarnya pun sudah diceritakan, film ini akan tetap bisa dinikmati. Jadi, lemesin aja tsaaay…

Tulisan ini diawali dari pengamatan akan generasi saya, Gen X terhadap generasi Millennials. Gen X yang sekarang dikondisikan untuk bekerja sama dan hidup berdampingan dengan para Millennials, punya keluhannya sendiri-sendiri. Sebenarnya saya pun kurang paham garis jelas Gen X dan Millennials. Tumpang tindihnya cukup lebar. Akan lebih mudah sebenarnya mengkategorikannya sebagai generasi analog-digital untuk Gen X dan generasi digital untuk Millennials. Apakah perbedaan ini benar merupakan fenomena atau sebenarnya bisa-bisaannya orang marketing, media, researcher dan kawanannya saja, tak perlu kita bahas lebih jauh.

Secara singkat, Gen X adalah generasi yang dilahirkan tahun 1966 sampai akhir 1970. Sementara Millenials dilahirkan tahun 1980 sampai 2000an. Untuk definisi dan sejarah lebih jelasnya, silakan kunjungi Perpustakaan Google. Karena di tulisan ini kita akan membahas soal Rangga dan Kambing Jantan. Kenapa Rangga? Karena Rangga (bukan Nicholas Saputra) adalah tokoh fiktif Millennial yang dilahirkan oleh Gen X. Sementara Kambing Jantan (bukan Raditya Dika) tokoh setengah fiktif Millennial yang sepenuhnya dihadirkan oleh Millennial sendiri.

Rangga adalah tokoh berusia Millennials yang secara kolektif dianggap “cool” atau keren oleh Gen X. Pemberontak yang diam. Di saat teman-temannya bermain basket, dan mengekspresikan diri, Rangga sembunyi dan masuk ke ruang-ruang berdebu untuk berteman dengan Chairil Anwar. Teman-teman periklanan pasti masih ingat bagaimana kata “ekspresi” semacam menjadi kata wajib dalam slogan saat itu. Diikuti lagu Ekspresi – Titi Dj yang diputar hampir di segala penjuru kota. Di tengah hingar bingar berekspresi itu, Rangga hadir sebagai tokoh “kelam” yang introvert. Hidup di dunianya sendiri dan cenderung sinis terhadap kehidupan teman-temannya yang sibuk mengurusi majalah dinding dan menari bersama di kamar.

Pada saat itu belum ada internet apalagi media sosial. Jadi Rangga tak bisa menemukan teman-teman “sejenis” apalagi bertukar pikiran. Apa yang ada di pikirannya, berkecamuk dalam dirinya sendiri yang membawanya semakin dalam masuk ke dalam dunianya. Rangga menemukan kenyamanannya dalam keheningan di tengah keriaan zaman. Rangga punya attitude, atau bahasa Indonesianya disebut sikap. Rangga pun ditahbiskan sebagai tokoh yang cool.

Sementara Kambing Jantan, memiliki gejolak pencarian jati diri. Permasalahan menemukan apa “passion” dirimu. Temukan passionmu. Dibumbui dengan masalah keuangan. Bagaimana Kambing yang sekolah ekonomi di luar negeri menjalani LDR (Long Distance Relationship) sehingga memerlukan biaya tambahan untuk komunikasi jarak jauh. Sampai akhirnya melalui blognya yang bertajuk Kambing Jantan, Kambing menemukan dia bisa menjadi penulis komedi. Kambing sudah hidup dalam dunia internet dan media sosial.

Kalau Rangga adalah tokoh yang cool, maka Kambing adalah tokoh yang fun. Bandingkan saja kedua puisi yang mereka tulis.

Puisi Rangga

Tentang Seseorang

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku


Aku lari ke pantai, kemudian teriakku


Sepi-sepi dan sendiri


Aku benci

Aku ingin bingar,


Aku mau di pasar


 

Bosan Aku dengan penat,


Dan enyah saja kau pekat


Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,

biar mengaduh sampai gaduh,

 

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang

di tembok keraton putih,

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

Enyah saja kau pekat

seperti berjelaga jika kusendiri

bosan aku dengan penat

 

Puisi Kambing

Wanita itu lahir dengan satu tulang rusuk dan laki-laki ada dua.

Gimana jauhnya kita, kepisah dua benua. Tapi kita masih bisa lihat bulan yang sama.

Orang yang bisa tertawa lepas, pasti juga bisa menjerit sama kencengnya.

Aku berantakan kalo nggak ada kamu.

Kamu udah beda, aku udah beda. Sekarang kita udah beda.

Yang namanya gelap itu nggak ada. Yang ada itu kekurangan cahaya.

Mungkin jarak yang memisahkan hubungan ini. Atau kita udah sesimpel, 

“nggak lagi melihat bulan yang sama”

Sekarang dunia masih terus berputar dan aku masih terus berdiri.

Moga-moga dengan berakhirnya lagu ini, aku udah bisa ngelupain kamu.

Cita-citaku sebenarnya sederhana. Aku cuma kepengen cerita. Dan aku kepengen orang ketawa denger cerita aku, baca cerita aku. Aku kepengen orang lupa sejenak sama stress-nya hidup.

Gue gagal di Australia. Bukan, yang bener Australia yang gagal sama gue.

Tenang, tentunya ada penulis puisi Gen X yang “fun” dan penulis Millennials yang “cool”. Rangga dan Kambing di tulisan ini semata dipakai untuk menunjukkan perbedaan nuansa pada pandangan Gen X dan Millennials. Iya, nuansa. Hal yang tak mudah untuk dipahami selain dialami sendiri. Seperti sulitnya membedakan seksi dan sensual.

Nuansa inilah yang kemudian menjadi bahasan dan seperti masalah besar. Mulai dari media mainstream sampai masuk ke ruang-ruang perbincangan pribadi seperti Group Whatsapp. Yang pada intinya “meresahkan dan membingungkan”. Seorang CEO dari GenX pernah mengeluhkan soal kelakuan Millennials di Instagram yang mengkritik produk yang baru diluncurkannya. Menurutnya, komentar Millennials dinilai kurang ajar. Padahal kalau sering membuka Instagram, komentar-komentar seperti itu adalah hal yang biasa. Bahkan banyak yang lebih parah. Sebenarnya pun banyak pula Gen X yang lebih kasar dan kurang ajar di media sosial.

Atau misalnya soal kelakuan Millennials yang sepertinya sulit fokus bertamengkan multi tasking. Sebentar-sebentar ngecek handphone, update status dan ngobrol di group chat. Yang Gen X tidak bisa merasakan adalah banyaknya kanal yang tidak tersedia saat ini. Sementara Gen X di usianya terlatih untuk mencatat saat meeting dan membawa agenda ke mana-mana. Kemungkinan besar kalau semua kanal sudah tersedia saat itu, Gen X tak beda kelakuannya dengan Millennials.

Secara simplistik (ingat, ini pendapat suka-suka) Gen X dan Millennials sama-sama bingung soal jati diri. Tapi Gen X bingung soal bagaimana menjadi cool. Sementara Millennials bingung soal bagaimana menjadi fun. Cool adalah soal attitude, sementara fun adalah soal #kekinian. Yang detik ini fun, detik berikutnya sudah basi dan ada fun yang lain. Ini semua semakin dimudahkan dengan adanya internet. Bayangkan, dari satu fun ke fun yang lain semua dalam genggaman. Mengharapkan Millennials fokus pada satu hal berlama-lama seperti Rangga membaca buku macam Aku, tentunya bukan hal yang mudah. Seorang teman Millennials mengakui “baca buku zaman sekarang ini usahanya harus luar biasa. Banyak gangguan.” Dan seorang Millennials lain menambahkan “Dan gampang ngantuk”.

Perbedaan ini seharusnya bukan masalah. Melainkan perubahan peradaban manusia yang memang harus dilewati. Hanya menjadi masalah adalah ketika Generasi Cool (Gen X), mencoba memahami dan berbincang dengan Generasi Fun (Millennials) ngotot menggunakan paradigma Gen X. Sapa suruh, lemesin aja Tsaaay…

Fun untuk Generasi Cool memiliki nuansa yang berbeda dengan Millennials. Begitu pun sebaliknya. Perbedaan nuansa ini hanya bisa ditemukan kalau Gen X mau mencoba menyelami yang Millennials alami. Tapi mustahil dan sia-sia untuk berharap sebaliknya. Millennials adalah pemilik masa depan. Gen X juga pemilik masa depan, tapi mungkin gak selama Millennials.

Gen X memiliki pemahaman jangan sampai salah, jangan sampai gagal. Karena kesalahan dan kegagalan yang dilakukan pada masanya akan memberi dampak selamanya. Sementara bagi Millennials, semua hal berlalu dalam hitungan detik. Hampir tak mungkin untuk mengingat semua kejadian, dalam waktu yang berlama-lama. Akan ada kejadian yang lebih dahsyat yang membuat kejadian sebelumnya tiada artinya lagi. Berlaku untuk kegagalan maupun keberhasilan. Semua berlalu cepat. Seperti Snapchat, dipost sekarang, hilang kemudian.

Apakah Rangga masih bisa relevan bagi Millennials? Ini adalah pertanyaan saya pribadi sebelum menonton AADC2. Lagi-lagi sebagai Gen X, saya melupakan satu hal. Millennials memiliki banyak panggung dan setiap panggung punya penontonnya sendiri-sendiri. Sementara bagi Gen X, hanya ada satu panggung dan satu primadona, yang lain hanya embel-embel (kutipan dari Opera Primadona, Teater Koma). Jadi, tentu Rangga punya “kawanannya” dan masih relevan di era Millennials. Tapi jangan berharap Rangga bisa “menjangkau semua hati” seperti di AADC1.

Rangga di AADC2 bisa dibaca sebagai usaha Gen X untuk memahami dan berbincang dengan generasi Millennials.

SPOILER ALERT ON

Misalnya kini Rangga dihadirkan sebagai barista dan penikmat kopi. Atau Rangga yang tadinya berkutat di toko buku bekas, mendadak fasih dengan perbedaan makna liburan dan travelling. Rangga juga tentu mengalami perubahan analog ke digital. Sehingga dia menghayati surat bertulis tangan yang memutuskan hubungannya dengan Cinta, memiliki makna yang lebih dalam ketimbang email dan sms. Kehadiran Eko Nugroho sebagai seniman kontemporer generasi muda Indonesia menjadi latar yang #kekinian. Puisi Rangga yang kini usianya 32 tahun ditulis oleh Aan Mansyur, pun seperti membahasakan soal ruang dan waktu yang terus berubah pasti dalam hidup.

Batas

Semua perihal diciptakan sebagai batas


Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain


Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin


Besok batas hari ini dan lusa.

 

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota,

bilik penjara, dan kantor wali kota,

juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita

 

Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi

dipisahkan kata begitu pula rindu.

Antara pulau dan seorang petualang yang gila

Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang


Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya


Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan

Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur.

 

Apa kabar hari ini?

Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku

memilikimu sekali lagi.

Bagaimana dengan Cinta? Lebih menjadi latar yang menemani Rangga. Menjadikan judul film ini lebih cocok “Ada Apa dengan Rangga?” Perubahan kehidupan Cinta di era Millennials seperti tak terlalu banyak di AADC 2 ini. Pekerjaannya sebagai pemilik galeri (pengusaha – entrepreneur) yang mengikuti passionnya pada arts. Dan handphone yang sering menghiasi banyak kejadian di film ini. Tapi ada satu kejadian yang mungkin bisa membuat Cinta mewakili “perempuan Millennials”. Laki-laki yang selama ini telah memporak porandakan hatinya, diselesaikan Cinta dengan sekali kecup.

SPOILER ALERT OFF

 Sebenarnya, Millennials sudah dengan caranya sendiri seolah menyampaikan pesan kepada Gen X yang masih berkutat untuk menjadi keren. “Lemesin aja, Tsaaay…”, mungkin bagi Millennials, Gen X terlalu serius dalam berusaha untuk berbincang dan menjangkau mereka. Sementara Millennials berada dunia yang seolah berputar lebih cepat dari sebelumnya. Millennials pun dituntut untuk lebih luwes, atau dalam bahasa #kekinian, adaptif. Menjadi keras kaku akan kesulitan untuk ikut menari di lagu yang dentumnya cepat berganti.

Sebelum menulis ini, salah seorang Gen X bertanya di Pathnya “Pertanyaan mendasar. Untuk menikmati AADC2 apakah harus menonton AADC dulu?” Begitulah kami Gen X dibesarkan. Semua ada sebab akibat. Tak ada reaksi tanpa aksi. Sementara kini adalah soal reaksi beranak reaksi tanpa selalu harus diawali aksi. Untuk sebuah film kisah cinta Rangga dan Cinta, jawaban yang paling tepat atas pertanyaan tadi adalah “lemesin aja, tsaaay…”

Tulisan ini tak bertujuan untuk memberikan kesimpulan akhir. Mana mungkin membuat kesimpulan akhir pada pengamatan akan sekitar yang terus berubah dan berkembang. Bahkan mungkin saat Anda membaca tulisan ini, keadaan sudah berubah drastis dan menjadikan tulisan ini sia-sia. Ada baiknya bagi GenX untuk mencoba ikut menyelami sambil sesekali menarik diri dan membaca kejadian tanpa harus membuat kesimpulan.

Budi Setiawan - Dewan Kesepian Jakarta
Budi Setiawan – Dewan Kesepian Jakarta

 

Iklan

6 thoughts on “Lemesin Aja Tsaaay…

  1. Ping-balik: LINIMASAKami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s