Ada Kos di Ongkos

Sebelum ini saya berpikir dalam hati “mengapa para eksekutif muda sehabis jam kantor suka menghabiskan waktunya di mall, cafe, resto dan sejenisnya?” Waktu menjadi bos dan memiliki anak buah, saya sempat berpikir kenapa anak-anak ini tak mau segera pulang? Mereka lebih suka menghabiskan waktunya di kantor. Kadang terasa seperti sengaja melemburkan diri.

Selain mengeluarkan uang lebih banyak juga menghabiskan energi tak berguna. Apa enaknya nongkrong di cafe mengenakan pakaian yang dipakai seharian tanpa ganti kancut peliket? Bukankah lebih enak olahraga lalu pulang tidur untuk beristirahat mempersiapkan tubuh menyambut hari esok? Atau mengistirahatkan dompet setelah mengeluarkan uang seharian. Sekedar menyendiri pun sepertinya ide yang baik untuk dilakukan.

Sampai seorang teman hijrah ke Jakarta dari Samarinda. Hampir seharian penuh kami mencoba mencari sebuah kamar kos yang layak dengan harga yang menurut kami cukup pantas. Mulai dari pencarian di internet sampai langsung mengunjungi lokasi kos-kosannya. Ada yang berlokasi di pinggir jalan besar ada yang masuk ke gang. Ada yang bangunan tua, ada yang muda. Ada yang di rumah besar ada yang bangunannya memang dibikin untuk kos-kosan.

Perlahan jawaban di alinea satu sepertinya mulai terjawab. Dengan ongkos 3 jutaan sebulan di kawasan pusat Jakarta ini pun, kita baru bisa mendapatkan sebuah kamar kecil berukuran kurang lebih 3×5 m2. Di kawasan Cikini, dengan uang segitu kamar kos-kosannya bentukannya lebih mirip penjara tanpa jendela. Bau apek pun tak jarang menyengat. Kamar mandinya? Jangan ditanya. Biar kata di daerah mentereng, tetap tidak terurus. Beberapa menggunakan karpet yang melihatnya saja bisa bikin bersin-bersin.

Kesimpulan sementara, semakin strategis lokasinya maka semakin tidak terurus. Buat apa, toh tetap laku bahkan mengantre orang yang ingin mengontraknya. Kalau lokasinya masuk ke gang-gang, banyak kos-kosan yang mirip dengan gedung apartemen mini. Ukuran per kamar tetap kecil tapi karena gedung baru jadi lebih bersih. Harganya tentu lebih mahal. Tapi kalau gedung lama? Jendela berdebu pun tak ada yang membersihkan. Intinya, bahkan dengan uang sebesar 2-5 juta sebulan pun, kita belum mampu mendapatkan kamar yang nyaman di tengah kota Jakarta. Belum lagi tikus yang dengan leluasa berseliweran.

Lalu, siapa yang hendak buru-buru pulang ke kos-kosan dengan situasi seperti ini? Jawabannya bisa jadi sederhana, di kantor lebih nyaman daripada di kos-kosan. Setidaknya di kantor ada penyejuk ruangan, ada internet, ada sofa di pojokan buat membaca dan ada teman-teman menemani. Begitu badan letih tak tertahankan, balik ke kos tinggal tidur, mandi, berangkat lagi ke kantor. Dan berulang terus sampai situasi membaik dan bisa pindah dari kos ke tempat yang lebih baik.

Melihat menjamurnya bisnis kos-kosan dan kondisi seperti ini, kita bisa membuat sebuah lingkaran. Kerja di Jakarta – Tinggal di kos-kosan tidak nyaman – Pulang kantor ngemall – Uang lebih banyak keluar – Akhir bulan selalu kurang atau pas-pasan – Tuntutan hedon lain semakin meningkat – Selalu merasa kurang -Selalu merasa miskin – Cari kerja lagi dengan gaji lebih tinggi – Sementara harga hunian semakin tak terkejar – silakan lanjutkan sendiri.

Untuk masak sendiri? Lupakan. Hampir semua kos-kosan yang kami sambangi tak memiliki dapur yang layak dan bersih. Lalu bagaimana dengan kualitas makanan terjangkau yang sehari-hari kita makan? Silakan perhatikan sendiri kalau makan di restoran kelas menengah yang semakin ramai dan marak di Jakarta. Kualitasnya tidak semakin membaik seiring kenaikan harganya. Belakangan kita sering melihat cafe mewah yang menawarkan semua menunya terbuat dari mi instan. Bahkan resto di mall pun tak sedikit yang menawarkan kenikmatan maksimal tanpa diiringi dengan kualitas. Ada dua bahan pokok yang merajai: gula dan msg/perasa.

Energi dan gizi seperti apa yang bisa kita harapkan masuk ke dalam tubuh para pekerja muda kita? Jangan belaga gila membandingkan dengan Jepang yang sangat amat memperhatikan soal kualitas makanan yang masuk ke dalam tubuh generasi mudanya bahkan sejak masih SD. Bukan hanya ketinggalan, tapi Jakarta juga semakin mahal. Dengan asupan yang “asal” ditambah kegemaran olahraga yang semakin semarak, ini pertanda yang mengkhawatirkan.

Sempat terlontar “kenapa tak ada hunian yang nyaman tak harus mewah, bersih, terawat, dengan harga terjangkau sehingga para pekerja Ibu Kota bisa kerasan sehingga tak perlu menghabiskan uang lebih banyak di luar?” Seorang teman yang sebagian besar hidupnya di Ibu Kota tinggal di kos-kosan berkata “sepertinya kebutuhan untuk bergaul dan hedon tak bisa digantikan dengan hunian yang nyaman”. Kalau benar seperti itu, satu-satunya harapan yang bisa menggunting lingkaran mahal ini ada dari niat sendiri-sendiri. Siapa suruh tinggal di Jakarta?

IMG_9500

Posted in: @linimasa

5 thoughts on “Ada Kos di Ongkos Leave a comment

  1. Kayakny terlalu berlebihan deh gan…
    Ane yang udah tinggal 5th di jakarta, klo cari2 kos dng harga 2jt++ udah pasti banyak yang bagus bin mewah :). Minimal sudah termasuk bbrp servis tambahan seperti Tv, Wifi, Cuci-setrika, air panas(kadang),dsb.

  2. Hmm.. Koq kayanya terlalu hiperbolis ya, saya perantauan juga dari Bandung yg saat ini bekerja di Jakarta (sudah menginjak tahun ke 3), pengalaman saya selama kerja di Jakarta, kosan kalo udah harga 2 juta keatas gada tuh yg kaya disebutin sama penulis di artikel diatas, kos yg saya tempati saat ini di wilayah Jaksel aja 2 juta/bulan dan ini sudah cukup nyaman (kamar mandi dalam, ac, tv lcd 32 inch, free wifi hi-speed, dapur bersama, kulkas bersama, dll) kalo berdasarkan deskripsi penulis, kos yg kondisinya seperti itu biasanya kos low end dgn harga sewa berkisar di 500-900rb an. Kalo udah diatas 2 juta itu biasanya udah hunian yg cukup nyaman koq. Laen kali jangan terlalu lebay yahh kalo berkhayal.. hehehehe…

  3. Maaf ikut komen meskipun ga kenal, hehe.
    Gemes aja karena ada tulisan di Cikini kosan 3 juta bentukannya mirip penjara tanpa jendela. Well saya dulu (by ‘dulu’ I meant baru 4 bulan lalu keluar) kosan saya di Cikini 2 juta, enak banget, bangunan ga baru2 banget tapi bersih kok, km dalem, ac, jendela, dapur bersama yg bersih juga. Pindah karna merit dan ngontrak rumah. Kalo nggak mah saya betah banget di sana.
    Well maybe that’s not the point of this article sih, tapi info aja, hehe. Pis ✌

Leave a Reply