Rabu Terakhir 2018: Tempat Tinggal

SUDAH umum, anggapan bahwa menjadi dewasa berarti termasuk siap bertempat tinggal, atau memiliki tempat tinggal sendiri. Kedewasaan pun diidentikkan dengan kemapanan, kesuksesan finansial, serta kemampuan mengambil dan menjalani keputusan-keputusan besar dalam hidup.

Banyak orang tua yang merasa/dinilai berhasil mendidik dan membesarkan anak-anaknya, ketika mereka telah bisa membeli rumah. Sebab menunjukkan kemandirian, selain tiga aspek kedewasaan di atas. Pandangan ini pun langgeng, terus diturunkan lintas generasi.

Upaya memiliki hunian pribadi tentu bukan perkara mudah–terkecuali bagi sebagian kecil orang. Ada yang melihatnya sebagai tantangan dan target pencapaian dalam hidup; ada yang melihatnya sebagai bagian penting dari rencana masa depan; ada pula yang melihatnya sebagai beban, sesuatu yang sangat memberatkan. Padahal, masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah mulai menempati rumah sendiri, apa pun bentuk dan konsepnya, kita akan berhadapan dengan pertanyaan “Mau diisi apa?“, dan “Bagaimana menatanya?” Dalam hal ini, setiap orang memiliki pandangan dan pertimbangannya masing-masing. Ada yang menginginkan kesan mewah dan lengkap untuk kenyamanan maksimal, ada yang menginginkan efisiensi dan efektivitas segala hal di dalam rumah tersebut, ada yang lebih berat kepada desain cantik dan indah untuk dipamerkan di media sosial, serta lain sebagainya. Pada akhirnya, semua kembali ke preferensi, selera, gaya hidup, dan ketersediaan dana.

Ada orang yang gampang bosan, ada yang tidak terlalu acuh, ada yang sangat rapi dan tertata, ada yang sederhana dan mudah merasa puas, ada yang kreatif, ada yang ambisius, ada yang mengedepankan kenyamanan privat, ada pula yang lebih suka keramaian dan kumpul-kumpul bersama teman atau keluarga. Semua kondisi tersebut memengaruhi hunian mereka, dan bisa kita rasakan saat berkunjung dan berkegiatan di sana.

Bagi saya, yang baru setahun terakhir merasakan tinggal dan bertanggung jawab atas hunian sendiri, gaya minimalis ternyata lebih cocok diterapkan. Simpel, mudah diurus, dan sesuai bujet. Lebih intens dibanding saat masih indekos dahulu, karena kesan bahwa senyaman-nyamannya, tempat tersebut tetaplah milik orang lain. Sementara.

…dan berikut barangkali adalah beberapa hal yang menggambarkannya.

  • Kalau kebetulan berjodoh dengan apartemen, pilih lantai tertinggi. Apalagi kalau lingkungan sekelilingnya tidak banyak gedung menjulang, dan berjendela menghadap selatan atau utara. Supaya tanpa dipasangi gorden pun, unit tidak akan panas ditembak sinar matahari. Privasi pun tetap terjaga, termasuk dari balkon unit sebelah. Apabila jendela berada di kamar tidur utama, bonus pemandangan langit.
  • Rangka tempat tidur memang memberikan kesan tinggi dan nyaman. Namun, akan ada kolong yang mesti disapu dan dipel berkala. Kita berada di Indonesia, debu halus berterbangan di mana-mana. Kasur dapat diletakkan langsung di atas lantai, memang mirip kamar kos, tetapi sama-sama nyaman dan mudah dibersihkan. Cukup dialasi. Bisa dengan karpet (asal harus sedia penyedot debu), atau karpet bilah kayu serupa parket.
Sumber: FLjasmy
  • Masih tentang tempat tidur, sangat menarik, hemat tempat, dan cakep pula jika menggunakan dipan lipat. Bermanfaat untuk ruang yang kecil atau sempit.
  • Begitu pula terhadap sofa. Pilih dengan bahan, bobot, dan desain yang sedemikian rupa agar mudah saat ingin membersihkan bagian bawahnya. Tidak ada salahnya juga bila membeli bean bag, terutama jika hunian akan lebih sering dikunjungi teman dekat. Sehingga bisa bersantai tanpa sungkan, macam ketika menerima tamu formal.
  • Sudah punya kulkas? Maka, apakah masih memerlukan mesin dispenser panas dan dingin? Perlu air dingin, silakan ambil dari kulkas. Perlu air panas, bisa masak air. Suhu didihannya pun bisa relatif berbeda dibanding di mesin dispenser. Hanya saja, dispenser akan menyediakan air dingin dan panas saat itu juga, dengan catatan selama mesinnya beroperasi.
  • Masih menonton lewat televisi? Tempelkan di dinding, agar meja di bawahnya bisa digunakan untuk barang-barang lainnya. Padahal makin banyak orang yang menghabiskan sebagain besar waktunya di luar. Sesampainya di rumah hanya tersisa sedikit waktu dan tenaga untuk mengerjakan yang perlu, lalu beristirahat.
  • Ada berapa orang di rumah? Sendirian atau berdua? Bisakah bila meja makan dijadikan meja bekerja, atau tetap harus dengan meja dan ruang berbeda? Apabila bisa, gunakan meja berbahan kayu solid agak panjang. Gunakan satu sisi untuk makan, agar masih ada sisi lainnya untuk buka laptop dan melakukan beragam aktivitas lain.
  • Belilah barang yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar diinginkan. Apabila fungsinya masih bisa digantikan dengan barang yang lain, maksimalkan yang telah ada. Pemanas air untuk mandi? Seberapa sering mandi dini hari atau subuh? Sedingin apakah air yang mengalir?
  • Perlukah menggunakan cooker hood atau kipas penyedot yang kencang? Jika tinggal di apartemen model loft atau berkonsep studio, akan seberapa sering memasak? Terutama masakan yang heboh, tumisan, gorengan, panggangan. Sebab aroma dan partikel minyak akan berterbangan, dan menempel bahkan sampai di tempat tidur (tidak terhalang dinding). Di sisi lain, apartemen tipe studio mengingatkan kita dengan kamar-kamar hotel yang lumayan cukup.

Selain hal-hal tersebut, bisa jadi masih terdapat banyak “inspirasi” hidup minimalis yang layak, bukan ngenes. Oleh sebab itu, beruntunglah mereka yang sudah pernah merasakan jadi penghuni indekos semasa muda, dan kemudian berkemampuan memiliki tempat tinggal pribadi pada waktunya. Mereka setidaknya bisa menakar kadar ugahari saat mengisi dan menata hunian. Agar tidak malah menjadi beban tambahan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Terlebih bagi mereka yang berkuliah arsitektur atau desain interior. Pasti bisa jadi kece. Kalau teknik sipil, bisa membangun rumah secara efisien.

Teriring doa dan harapan di Rabu terakhir 2018 ini, semoga kita semua dilancarkan/bisa memiliki tempat tinggal sendiri yang ideal, mudah diisi, mudah ditata, dan nyaman dihuni.

Selamat Natal, dengan berkat dan kasih yang menenteramkan.
Selamat tahun baru, dengan masa depan yang menyejahterakan.

[]

Leave a Reply