Keragaman Itu Perlu

AGAK janggal barangkali, tapi sebagai seseorang yang bukan muslim, sangat menarik bagi saya untuk sedikit tahu tentang ihwal empat mazhab besar fikih Islam Ahlussunah Wal Jamaah atau Sunni. Yakni mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, serta Hambali. Menjadi salah satu komponen penting dalam konfigurasi keislaman selama ini, lewat keberadaan Ijma’ dan Qiyas.

Perbedaan-perbedaan di antara keempatnya relatif ringan, trivial, bukan sesuatu yang fundamental atau mendasar, serta lebih bersifat preferensi. Setidaknya demikian yang saya tangkap sejauh ini dari sudut pandang eksternal.

Salah satunya seperti pembahasan tentang posisi tangan saat bersedekap kala menunaikan salat, maupun ketentuan untuk merapatkan saf dengan atau tanpa menempelkan ujung luar jari kaki dengan dalih-dalih tertentu.

Perbedaan-perbedaan tersebut hadir bersama argumentasi dan latar belakang, yang banyak di antaranya didasarkan pada observasi maupun praktik-praktik valid lainnya. Meski begitu, boleh dibilang tidak ada salah satu mazhab yang dianggap lebih benar dibanding lainnya. Pilihan untuk menjalankan salah satu mazhab dalam kehidupan beragama sehari-hari pun dipengaruhi budaya dan lingkungan sekitar, serta tentu saja kenyamanan. Termasuk di Indonesia, yang secara mayoritas melakoni mazhab Syafi’i.

Kondisi ini merupakan salah satu bentuk keragaman yang mustahil untuk dihindari, pun tidak hanya terjadi dalam institusi Islam saja. Hampir semua agama besar dunia, juga diwarnai perbedaan-perbedaan semacam ini. Hanya saja, lantaran berupa urusan langitan yang sakral dan suci, maka ada ranah perbedaan yang masih bisa dimaklumi, ada pula yang dianggap terlarang bahkan menghinakan. Misalnya antara Sunni dan Syiah, Buddhisme umum dan Nichiren Shoshu, bahkan antara Nichiren Shoshu dengan Soka Gakkai, Kristen umum dan Saksi-saksi Yehuwa, serta berbagai kasus lainnya yang melibatkan dua label agama berbeda.

Gara-gara itu, akhirnya muncul dorongan–umumnya dari para Puritan maupun yang merasa suciwan–untuk menghapuskan perbedaan. Metodenya hanya dua: penghapusan secara harfiah, atau mengubah perbedaan menjadi persamaan.

Tidak ada yang patut dipujikan dari keduanya. Akan tetapi, realitasnya, perjalanan sejarah kerap diwarnai dengan perayaan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Penumpasan kaum kafir dan para outsider yang disebut biadab karena berbeda (nama) sesembahan maupun caranya beribadah.

Memorabilia berlebihan atas seseorang yang berpindah agama dalam bentuk prasasti, monumen, dan sebagainya. Terus berlanjut sampai sekarang, apalagi jika yang bersangkutan adalah seorang figur publik. Kepindahan tersebut seakan jadi berita penting, terus menerus mendapatkan ekspose dengan porsi berlimpah. Anehnya lagi, perubahan label religius itu dihinakan oleh sekelompok orang namun malah disyukuri oleh kelompok yang lain. Padahal, apa gunanya sih? Toh, agama dan keimanan ialah urusan antara manusia pelaku dengan tuhannya masing-masing. Enggak ada hubungannya dengan elu pujian ataupun keluh hinaan orang lain.

Demikianlah keragaman, sebagai sebuah konsekuensi logis dari loncatan nalar dan akal.

Mau ditekan dengan bagaimanapun juga, keragaman pasti akan selalu muncul sebagai sebuah keniscayaan. Lagipula bila tanpa keragaman, mereka, para kaum Puritan dan yang merasa suciwan (baca: bigot) pasti kehilangan sasaran. Objek yang seolah melegitimasi mereka untuk berpikir dan bertindak macam-macam.

Tanpa keragaman, kepada siapa mereka akan meneriakkan pertentangan, (sok) kebenaran, dan seruan bertobat?

Suasana yang pasti membosankan.

Selain itu, jangan lupa, selalu ada bigot di setiap agama.

[]

Iklan

3 thoughts on “Keragaman Itu Perlu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s