Kamu Orang Mana?

Maka dari kecil kita akan menjawab “orang Indonesia”.

Orang Indonesia dari mana?

Maka kita akan menjawab tempat kita dilahirkan. Kadang diikuti dengan suku.

Dari mana kah suku-suku orang Indonesia berasal?

Lebih dari 5 tahun, dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. bersama rekan-rekannya dari Eijkman Institute, mengelilingi seluruh kepulauan Nusantara untuk bertemu dengan orang-orang suku asli. Dengan berbagai pendekatan sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat Ibu Hera mengambil darah dari orang-orang asli untuk dicek DNA masing-masing. Buat apa?

“Jangan berani-berani lawan DNA” katanya saat menyampaikan hasil penemuannya. Karena DNA tak pernah berdusta. Dari DNA lah kita bisa mengetahui asal usul genetika kita. Campurannya dari mana saja. Pewarisan DNA kita ada tiga. Dari ayah dan ibu yang menikah, dari penurunan hanya ibu (ayah tidak ada kontribusi) dan hanya dari kromosom Y.

Gen campuran ternyata ditemukan pada hampir semua etnik di Indonesia. Yang dari ratusan ribu tahun yang lalu merupakan campuran dari Alatic, Sino-Tibet, Hmong-Mien, Tai Kadai, Austro Asiatik, Austronesia, Papua, Dravidia, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
Manusia Jawa asli misalnya, ternyata membawa gen dari Austro-Asiatik dan Austronesia. Austronesia hampir ditemukan pada semua entik di Indonesia. Papua yang full gen Papua, saat bergeser ke kepulauan Alor ternyata ditemukan gen dari Formosa. Orang Mentawai 100% sama dengan Formosa.

“Tak ada gen murni. Manusia Indonesia ialah campuran beragam genetika dan semuanya pada dasarnya berasal dari Afrika” kata Hera menutup penjelasan yang menarik setelah menampilkan video perjalanan migrasi umat manusia 200.000 tahun yang lalu saat Homo Sapiens pertama.

Ada yang bertanya, apakah Pithecantropus Erectus (manusia purba yang juga disebut Java Man) ada hubungannya? “PUTUS” kata Hera, “dengan Bumi Nusantara. Tidak ada hubungan dengan turunan kita. Kemungkinan besar karena bencana alam.”

Pertanyaan mendasar, kalau sumbernya satu: AFRIKA kenapa kita bisa terlihat berbeda-beda? DNA kita bereaksi terhadap lingkungan kita. Lapangan mempengaruhi ketebalan kulit, tinggi badan, melanin dan pigmen. Makanya pelari Indonesia tak berlari secepat orang Kenya yang merupakan moyang orang Indonesia.

Penemuan yang membuka mata dan menjawab misteri asal mula orang Indonesia ini, menjawab satu misteri: lalu siapakah Pribumi dan Non-Pribumi?
Pribumi adalah sebutan untuk orang Indonesia ASLI. 100% orang Indonesia. Sekarang kita bisa menjawab dengan lantang: TIDAK ADA. Tidak ada orang Indonesia asli. Semua pendatang.
Kalaupun ingin dipecah, pribumi pertama datang dari Afrika 40-50 ribu tahun lalu di Timor yang terbukti dari bentuk tubuh berkaki panjang dan berambut keriting. Pribumi kedua, Deutro Malay dari daratan Asia Tenggara ke Sumatera melalui Sungai Siak. Pribumi ketiga, Proto Malay yang datang dari dan ke tempat yang sama. China pertama datang tahun 400-an bertemu dengan Cheng Ho di dekat Semarang. Pribumi India diketahui datang abad ke 4-5 dan seterusnya. Penjelasan ahli tata kota Marco Kusumawijaya ini digenapi oleh JJ. Rizal dengan perkataan “Pribumi itu sikap bukan darah”.

Orang Indonesia baru ada pada tahun 1945 sebagai kategori politik (warga) tak tergantung dari kategori genetiknya. Padahal dalam panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ada 3 orang berdarah China dan 1 orang berdarah Arab. Lanjut Marco lagi. Yang berarti kalau kita saat ini masih menyebut Pribumi dan Non Pribumi artinya kita masih hidup di zaman kolonial.

Perspektif waktu menjadi penting karena 40-50 ribu tahun yang lalu kita semua pendatang. Maka soal rasa kebangsaan, nasionalisme dan kecintaan pada Nusantara, siapa yang dapat mendefinisikannya? Soe Hoek Gie, Hok Djin dan Ong Hok Ham yang saat itu disebut Non-Pribumi akan terasa lebih nasionalis ketimbang Pribumi yang membantai pasca 65.

Perbincangan ini akan semakin mengasyikkan saat kita bisa melepas atribut “pribumi dan non-pribumi” untuk kemudian menerima fakta bahwa kita semua adalah pendatang. Sehingga nasionalisme bukan lagi soal darah, tapi sikap. Tak lagi terbutakan oleh pemakai Batik setiap hari dan hafal Pancasila menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud “Cinta Indonesia”. Tapi lebih kepada sikap, perilaku, perbuatan dan hasil yang memajukan peradaban orang Indonesia semakin beradab.

 

20160123_104552 20160123_104600 20160123_104612 20160123_120044

Tentunya temuan ini melegakan bagi saya sebagai keturunan China yang lahir di Indonesia. Sejak kecil sulit bergaul dengan tetangga sekitar di kampung Betawi. Belum lagi tuduhan Komunis dan Atheis. Bertahun lamanya di awal kehidupan bermasyarakat, saya merasakan kelimbungan identitas. Kalau saya bukan orang Indonesia lalu siapa saya? Di negara mana kah saya diterima? Ke dataran China tentu bukan pilihan. Tak ada saudara dan kampung halaman di sana.

Untuk ini semua, saya merasa kehadiran bintang-bintang bulu tangkis di masa jayanya seperti Liem Swie King dan Susi Susanti mulai meleburkan kita. Semakin ke sini semakin banyak bintang-bintang dari dunia POP yang keturunan China dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Tentunya para politisi, negarawan, ahli sejarah, seni dan budaya keturunan juga semakin menghilangkan jarak. Dan yang sekarang paling hits di beragam media, gubernur DKI Jakarta: Ahok.

Sebentar lagi Sincia, Gong Xi Gong Xi.

 

Posted in: @linimasa

3 thoughts on “Kamu Orang Mana? Leave a comment

  1. welcome monkey year,

    3 day to go

    jangan sedih,
    semua yang telah terjadi berdasarkan kepentingan,
    dan dicerna bersama sedikitnya informasi yang bisa terkonsumsi.

    kita yang sekarang,
    mempersiapkan generasi yang lebih berisi.

    seperti seharusnya perjalanan hisup,
    semakin bertambah.. umur, … ilmu,…pengalaman

    (hendaknya) semakin berkualitas.

    xin nian kuai le,
    gong xi fa cai

Tinggalkan Balasan