Atur Waktu

Ada satu rahasia umum tentang saya. Saking sudah dimaklumi sama teman-teman, sampai bukan jadi sebuah rahasia lagi.
Saya mempunyai time management atau pengaturan waktu yang jelek.
Dan, entah ini kebetulan atau tidak, saya sadar banget punya kelemahan ini.

Sejelek apa?
Kalau menurut saya yang mempunyai kelemahan ini, cukup jelek. Sangat jelek, malah.

Contohnya begini.
Saya sering datang meeting mepet, bahkan terlambat.
Kalau janjian dengan teman-teman, pasti saya yang terakhir datang.
Lantas, “penyakit” orang yang sedang berada dalam tekanan agar tidak terlalu telat datang adalah berbohong.
Misalnya, di Jakarta. Ketika ada janji temu di Blok M, saya akan bilang kalau saya sudah di Senayan. Padahal baru sampai di Bunderan HI.
Misalnya, di Singapura. Ketika ada janji di Bugis, sementara saya berangkat dari Clementi, saya akan bilang kalau sudah sampai Redhill. Padahal baru sampai Holland Village.
Artinya, berbohong tentang posisi yang seolah-olah sudah dekat dengan tempat tujuan. Padahal masih cukup jauh.

Sepertinya satu-satunya kegiatan yang hampir tidak pernah terlambat datang adalah menonton film di bioskop. Atau datang konser. Atau kegiatan lain bersifat eventual yang memerlukan apresiasi dan konsentrasi penuh kita. Mungkin penjelasannya kurang mengena, tapi bisa dibayangkan, kira-kira jenis kegiatan apa yang biasanya membuat kita cenderung lebih taat waktu.

time-management

Tentu saja ketaatan waktu ini bergantung pada kebiasaan. Kebiasaan bisa muncul dari didikan dan lingkungan sekitar. Kalau sehari-hari naik angkutan umum, di mana tertulis jelas kendaraannya datang jam berapa, lalu menjelang datang ada tulisan “arriving in 2 minutes”, misalnya, dan kita terpapar dengan pemandangan seperti itu setiap hari, mau tidak mau alam bawah sadar kita sudah menggerakkan kita agar tidak melewatkan angkutan ini. Lalu ia akan menular kepada aktivitas lain yang memerlukan kehadiran kita.
Idealnya begitu.

Demikian juga dengan bagaimana kita dididik untuk menghargai waktu. Bisa lewat media agama, misalnya agar sholat lima waktu atau tidak alpa ke gereja setiap hari Minggu. Atau lewat media lain, seperti bangun pagi agar tidak lupa sarapan.

Namun ketika kita menginjak dewasa, tentu saja tidak ada lagi yang membimbing. Semuanya tergantung kita sendiri. Termasuk cara menghargai waktu. Soalnya, dibanding uang yang bisa dicari lagi, waktu tidak bisa kembali. Sekali terbuang ya terbuang selamanya.
Segala hasil didikan di masa lampau hanya akan membekas saja. Exposure lingkungan sekitar hanya sekedar mempengaruhi. Keputusan untuk hadir tepat waktu atau mengulur waktu, semuanya kembali ke kita sendiri.

24960207-Time-management-Vector-modern-illustration-in-flat-style-with-male-hand-holding-stopwatch-Stock-Vector

Dalam kehidupan nyata, kalimat-kalimat di atas sedang saya upayakan untuk diterjemahkan seperti ini.
Misalnya saya akan menonton film Bridge of Spies di bioskop jam 7:15 malam.
Sementara saat saya merencanakan nonton film tersebut, saya masih berkutat dengan pekerjaan saya sebelum makan siang.
Saya coba menghitung mundur:
– nonton jam 7:15
– kayaknya beli tiketnya nanti aja deh, 15 menit sebelumnya. Siapa tahu tiba-tiba gak jadi ‘kan Berarti jam 7 malam harus sudah di bioskop.
– hmmm, kayanya sebelum nonton, olahraga dulu masih bisa. Tempat olahraganya memang jadi satu dengan gedung bioskop sih. Tapi kan gak berarti tinggal menclok aja. Perlu jalan kaki (ini yang saya lupa! Kita perlu menghitung waktu berjalan dari satu tempat ke tempat lain!) lho. Ya let’s say jalan kaki 10 menit. Berarti jam 6:50 sudah keluar dari tempat olahraga.
– kalo jam 7 kurang sudah keluar dari tempat olahraga, berarti ganti baju dan mandi sebelum itu dong? Jam-jam abis Maghrib kayanya gak perlu antri deh. Ya udah, 15 menit. Berarti udah siap-siap mandi dari jam 6:35. Ya jam 6:30 lah.
– olahraga ngapain ya nanti? Lari dan light exercise aja deh. Dua jam cukup. Berarti jam 4:30 udah mulai olahraga. Jam 4:15 nyampe di tempat buat ganti baju dan sepatu.
– OMG! Jam 4:15 nyampe tempat olahraga? Dari kantor jam berapa? Itu kan jam macet! Berarti pesen ojek jam 3:30 deh.
– OMG, gue cuma punya waktu sampe jam 3 sore ngelarin kerjaan!

Skenario di atas pernah berhasil saya lakukan. Pernah gagal juga. Rasionya masih seimbang antara yang gagal dan yang sukses.
Yang jelas, jangan lupakan faktor-faktor penambah kegiatan saat mengatur waktu. Perhatikan berapa lama yang diperlukan hanya “sekedar” untuk berjalan, memesan dan menunggu taksi atau ojek, nge-check pesan masuk di ponsel, dan lain-lain. Semua terlihat sepele, terlihat kecil. Tapi, namanya juga kecil-kecil menjadi bukit. Sejumlah hitungan detik dan menit yang terlihat remeh temeh, bisa menjadi besar saat diakumulasi. Tahu-tahu, kita terbirit-birit berlari. Mengejar angkutan, memasuki bioskop, menghabiskan makanan.

When it comes to managing time, all we can do is just trying, and always trying, baby. Can we?

timeout

Iklan

3 thoughts on “Atur Waktu

  1. waktu. highlight beberapa minggu ini di hidupku.

    ada yang bilang kalau salah satu tanda cinta adalah waktu; saat seseorang mau meluangkan waktunya untuk seseorang yang dicintainya.
    kurasa, semakin tua daku semakin meyakini dan punya pemahaman baru ttg pendapat tadi.

    anyway, nonton Little Prince yuk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s