Surat Cinta untuk Restoran Restoran di Jakarta

Saya masih ingat ketika Jakarta masih terbatas sekali pilihan restorannya. Makanan cepat saji yang ada baru Kentucky Fried Chicken. Dulu belum terkenal sebagai KFC. McDonald’s hanya angan-angan. Dairy Queen dan Burger King sempat buka sebentar di Ratu Plaza kemudian menghilang begitu saja, membuat saya patah hati karena rindu Blizzard-nya. Masakan Italia yang lumayan autentik tetapi masih terjangkau jarang sekali. Mungkin juga pilihan saya lebih terbatas lagi karena ketika itu kantung saya masih kantung uang jajan anak sekolah yang sesekali ditraktir makan orang tua, ya. Saya ingat waktu itu mengidamkan makan di sebuah restoran Italia di Plaza Indonesia, berjudul Maxi’s. Ketika akhirnya terjadi rasanya senang sekali, karena pada zaman itu memang rasanya mahal.

Thanks, Google Image!
Thanks, Google Image!

Kalau sekarang? Mau restoran gaya apa pun ada di Jakarta. Tinggal pilih sesuai selera dan bujet, tentunya. Sebagai seorang yang doyan makan, saya cukup sering mencoba restoran baru yang hampir setiap bulan atau bahkan minggu buka di ibukota tercinta ini. Kalau tidak bayar sendiri, saya cukup beruntung – karena bekerja di media gaya hidup – sering diundang ke restoran-restoran oleh klien, partner, maupun tempatnya sendiri sehingga bisa mencicipi tanpa harus bayar.

Dari segi rasa, restoran di Indonesia cukup bersaing. Tidak semua istimewa, memang, tetapi nyaris tidak pernah yang jauh dari pengharapan. Underwhelming, sometimes, but still good enough. Yang menurut saya bisa menjadi jauh lebih baik justru di bidang pelayanan. Rasanya seperti tidak ada renjana dalam menyajikan hidangan maupun layanan kepada para tamu.

Contoh dari masa lalu; saya pernah terdampar di Amerika Serikat dan karena mendadak miskin, harus jadi tenaga kerja gelap dan bekerja sebagai seorang pramusaji di restoran yang cukup sederhana dan menurut saya makanannya tidak istimewa. Tetapi kepala pramusaji kami, namanya Alex (saya tidak ingat nama keluarganya), punya standar yang cukup tinggi dalam servis. Sistem kami dulu lebih ke sistem zona; setiap pramusaji pegang beberapa meja yang dia layani dari awal (mencatat pesanan) hingga akhir (memberikan bill dan membayarkannya ke kasir sampai mengembalikan uang). Ketika saya baru masuk, Alex mengajarkan saya sebuah sistem, bagaimana mencatat pesanan tamu, sehingga ketika makanan siap, saya langsung tahu tanpa bertanya kembali ke tamu (atau istilahnya “melelang piring”) siapa memesan apa. Hal ini sepanjang ingatan saya jarang sekali diterapkan di restoran-restoran di Jakarta. Bahkan ketika di sebuah meja hanya ada dua orang tamu, kami akan ditanyakan kembali apa adalah pesanan siapa ketika hidangan datang.

everytime-i-visit-a-restaurant

Baru saja siang hari tadi (saya menulis ini di malam hari) saya menghadiri pertemuan kecil di restoran, tamunya kurang lebih 20 orang. Restoran ini cukup baru, di sebuah mal besar di pusat kota, dan sepertinya cukup populer. Kami disajikan set menu dengan tiga pilihan hidangan utama. Saya termasuk yang awal datang, bersama tiga orang undangan lainnya yang juga sudah datang langsung diminta dan dicatat pesanannya. Tamu lain mulai berdatangan, acara sudah hampir dimulai. Tiba-tiba ada pramusaji lagi yang mendatangi kami yang datang awal dan bertanya soal pesanan kami beserta detailnya, kami pun mengulanginya lagi. Acara pun berlangsung, dan setelah selesai dan para tamu masih meneruskan diskusi informal, pramusaji berdatangan dengan hidangan utama, sambil bertanya-tanya, “Grilled chicken? Siapa tadi yang pesan grilled chicken?” Yang sedang berdiskusi tetapi diam-diam perutnya sudah keroncongan dan kebetulan memesan grilled chicken dengan segan, malu malu tapi mau ada yang memanggil, ada yang mengangkat tangan atau mengangguk. Proses ini pun berulang beberapa kali sampai semua hidangan keluar. Diskusi pun terganggu alirannya. Koreksi saya kalau saya salah, tetapi acara seperti ini kemungkinan besar tidak direncanakan mendadak, berarti restoran punya waktu beberapa hari – paling tidak – untuk mempersiapkannya. Termasuk mengatur set menu. Dan harusnya termasuk mengatur sistem pemesanan. Misalnya saja – saya agak mengkhayal – menggunakan stiker yang mewakili tiga hidangan utama. Stiker warna hitam mewakili barbecue brisket, kuning spaghetti, merah japanese style beef, yang diam-diam ditempel di belakang sang pemesan (sebagai tambahan informasi yang sudah dicatat). Makanan datang, langsung diletakkan dengan tepat ke sang pemesan, tamu senang, sang pengundang tenang, restoran juga menang. Mungkin sudah waktunya menjadikan restoran tidak hanya “tempat makan di luar rumah” tetapi jadi pengalaman santapan yang menyenangkan dan berkesan?

Iklan

9 thoughts on “Surat Cinta untuk Restoran Restoran di Jakarta

  1. Seingetku pernah baca tulisan kak Lei ttg hal ini di suatu tempat.. Di mana ya persisnya? Twitter?

    Soalnya stlh baca tulisan itu, tiap kali saya makan di resto (mau jenis fine dining atau ala warteg) selalu memperhatikan tingkah waitress nya. Ya semoga ini menjadi koreksi buat para pemilik usaha makanan..

    Suka

    1. huhu terima kasih yaaa. Aku lupa sih mungkin pernah post di tempat lain versi pendek dan ngomelnya. Tetapi yang panjang ya baru di sini.

      Semoga ya, jadi kita bisa makan di luar bukan hanya membeli makanan belaka, tetapi juga servis yang excellent!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s