Gawai

Hape. Saya lebih suka menyebutnya dengan gawai.  Sekarang, semakin canggih dan mudah dibawa kemana-mana.

Pertanyaannya:

1. Sudah berapa banyak aplikasi ngobrol atau juga media sosial yang kita pasang?

2. Sudah berapa banyak aplikasi tersebut yang dihilangkan karena ribut dengan pasangan?

Saya ndak paham benar dengan gaya hidup dan pola pikir anak kelahiran akhir 80-an dan awal 90-an. Faktanya mereka sudah memasuki dunia kerja. Sebagian pegawai magang dan karyawan baru di tempat kerja saya rata-rata kelahiran 90-an.

Hal yang menarik dari mereka adalah mereka bisa mendapatkan pasangan dari aplikasi yang ada di gawai, lalu PDKT, lalu jadian, lalu marah-marahan, lalu putus. Semuanya terjadi di layar gawai tanpa pernah sempat bertemu.  Ini agak mendingan.

Sebagian lain ada yang setiap kali hendak pulang ke kosan menghapus semua riwayat obrolan. Biar aman katanya. Biar ndak ribut dengan pacar saat inspeksi mendadak.

Sebagian lain malah memiliki kata kunci untuk akses masuk beberapa aplikasi seperti twitter, facebook, instagram, icloud, bahkan path secara bersama-sama.

Ada yang mention gebetan ketahuan pacar. Ada yang lope-lope path mantan, ketahuan bini. Ada yang iMessage mesra-mesraan dengan tetangga, eh ketahuan anak.

Banyak yang menemukan pasangan lewat teknologi. Namun lebih banyak yang merasakan sakit hati karena teknologi. (ini lebih mirip curhat ndak sih?) 😀

28_2013-beritagar-istri-intip-ponsel-suami

 

Jika ternyata membuka gawai pasangan itu adalah perbuatan yang dapat dipidana, kenapa kita tetap terus melakukannya?

Jika tahu bakal ketahuan, kenapa kita tetap bermain perasaan saat menggenggam gawai?

 

Baiklah. Ini tidak hanya dialami generasi (kelahiran) 90-an. bagi generasi sebelumnya, yang agak tergagap dalam menyesuaikan diri dengan pesatnya teknologi mengalami hal serupa. Kehidupan sosial yang terkait erat dengan teknologi. Gawai menjadi pengganti merpati pos dan secarik surat.

Pertanyaan lain yang dapat diajukan lagi, misalnya:

Apakah gawai yang tak terkunci boleh kita akses?

Apakah gawai yang terkunci tapi kita tahu kata kuncinya boleh kita akses?

Apakah kita boleh memaksa pasangan kita membuka gawai kita?

Ndak percaya dengan pasangan? Kenapa harus dipertahankan?

Bukankah salah satu bualan terbesar di dunia ini adalah “pasangan yang saling mencintai tanpa ada rasa saling percaya?”

 

 

Salam anget,

Roy

Iklan

3 thoughts on “Gawai

  1. Jenaka dan hangat.

    Konon katanya, orang lebih tertarik dengan yang terkunci.
    Gawai yang tak terkunci dianggap paling tidak asik. 😀

    Udah tau bakalan sakit kalau nemuin sesuatu, masih aja dicari.
    Bentuk penyiksaan diri sendiri yang mungkin tidak disadari.

    Suka

  2. Hal yang menarik dari mereka adalah mereka bisa mendapatkan pasangan dari aplikasi yang ada di gawai, lalu PDKT, lalu jadian, lalu marah-marahan, lalu putus. Semuanya terjadi di layar gawai tanpa pernah sempat bertemu. Ini agak mendingan.

    rasanya sudah lama sekali, sejak terakhir ngakak

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s