Hari Pertama

(1 Ramadhan, 04:05 pagi)

I am so not looking forward to this”, gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur dengan berat hati.

Hari puasa pertama. Hari yang berat buat yang berpuasa. Jam tidur terganggu. Tubuh kita kaget dengan perubahan jadwal makan.

But every Ramadhan feels anew.

Hari ini hari pertama Andi puasa sendiri lagi. Well, technically, tidak sendiri. Ada Kevin Spacey, Robin Wright, dan sejumlah bintang serial televisi lain yang menemaninya saat sahur. Tapi di kehidupan nyata, Ramadhan ini adalah Ramadhan yang menurut Andi akan terasa sepi.

Sekitar empat tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, siapakah yang akan menemaninya berpuasa di rumah kecil yang baru dia lunasi.

Sekitar tiga tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah perlu membuat meja makan yang cukup untuk dua orang, padahal dia tinggal sendiri.

Sekitar dua tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah pantas membangunkan seseorang di waktu sahur, meskipun orang itu sebenarnya memang selalu mengharapkan sapaan Andi di awal hari.

Sekitar setahun yang lalu, dia sempat bertanya-tanya, bagaimanakah rasa makanan yang buru-buru dia siapkan untuk sahur berdua, meskipun senyuman manis dari seseorang di meja makan sudah menghapus kekhawatirannya.

Sekitar sebelas jam yang lalu, dia masih bertanya-tanya, kapankah pekerjaan membungkus kardus dan boks yang berisi sejumlah pakaian ini selesai. Ini baru pakaian. Belum lagi barang-barang pemberian lain yang Andi ingin segera kembalikan ke pemberinya.

Andi menghela nafas panjang. Diaduknya bubur ayam instan yang masih panas. Layar televisi mulai memainkan lagu tema House of Cards. Andi tak bergeming. Matanya masih menatap ke arah pojokan kamar. Setumpuk kotak-kotak coklat bertuliskan nama dan alamat pengiriman telah Andi susun dengan rapi.

It’s gonna be fuckingAstaghfirullah. Udah puasa, ya. Shit. Astaghfirullah lagi. Goodness! It’s gonna be freaking hard!”, gumam Andi.

Mangkuk bubur sudah cukup hangat untuk bisa dimakan. Tapi Andi masih terus mengaduk. Nafsu makannya lenyap begitu saja. Dia letakkan mangkuk di meja makan, dan mengambil cangkir kosong di lemari.

Damn it. Aduh, ya Allah, sorry, I mean, sialan! Ini kenapa belum masuk kardus sih?”

Dada Andi tiba-tiba terasa sesak. Cangkir itu masih dipegang dengan erat. Teringat lagi saat mereka membeli perabotan bersama, sampai ke ujung timur Singapura. Semakin erat pula genggaman tangan Andi di cangkir itu.

Lalu terdengar suara SMS masuk di ponsel. Terkesiap, Andi meletakkan cangkir itu di meja.

Nama ayah Andi terpampang di layar. Andi melihat sepintas isi SMS yang terpotong. Slide to view.

Andi menggigit bibir membaca pesan panjang itu.
Dia tersenyum menahan haru.

Dia balas, “insya Allah, Pa.”

IMG_8456

(1 Ramadhan, 03:15 pagi)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Ali menolehkan kepalanya ke kanan, mengakhiri sholat tahajud. Dia duduk, terpekur sesaat, sebelum melihat jam dinding. Pukul 03:15 pagi. Oh, masih jam tiga, pikirnya. Dia lanjutkan berdoa.

Tiba-tiba dia tersadar.

Masya Allah, jam 3 pagi!”

Buru-buru dia berdiri dan merapikan sajadah. Setengah berlari dia pergi ke dapur. Sampai di sana, satu panci dan satu wajan sama-sama mengeluarkan asap. Ali heran, siapa yang masak?

Nuwun sewu, pak. Sahurnya sebentar lagi siap.”

Mbok Parmi, masih mengenakan mukena, mematikan kompor. Ali hanya mengangguk dan mengucapkan “terima kasih” dengan lirih.

Di meja makan, supirnya, Darmo, sudah menyiapkan piring dan gelas. Masing-masing hanya ada satu piring, satu sendok, satu garpu dan satu gelas. Kursi makan yang lain pun sudah disingkirkan Darmo, hanya menyisakan satu kursi untuk majikannya.

“Monggo, pak. Saya makan di dapur nanti sama Parmi.”

Ali menarik kursi. Ada yang terasa janggal buat Ali. Padahal sudah lebih dari enam puluh Ramadhan dia lalui.
Dia nyalakan televisi, tapi dia matikan lagi.
Dia bangkit menuju musholla mengambil Al Qur’an.
Namun langkahnya terhenti di ruang tamu.

Di situ terpampang foto keluarga Ali. Foto yang diambil waktu Lebaran lima tahun lalu. Saat itu anak perempuannya sedang hamil besar, anak laki-laki tertuanya akan pindah ke luar negeri, dan anak laki-laki paling kecil hampir selesai mencicil rumah.

Di foto itu ada seorang perempuan lain yang menggamit lengan Ali. Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum yang tak pernah berubah dari saat mereka bersanding di pelaminan.

Senyuman yang sekarang hanya bisa Ali lihat dari foto itu, dan foto-foto lainnya. Senyuman yang membuat benda mati seperti foto lama masih terasa hidup.

Paling tidak itu yang Ali katakan untuk menghibur dirinya.

“Mah …”, tutur Ali, nyaris tak terdengar.

Panggilan sayang Ali untuk perempuan itu selama lebih dari tiga puluh enam tahun.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang tak pernah alpa menyiapkan sahur untuk Ali, meskipun tak pernah ada kewajiban baginya untuk mengikuti dan menjalani apa yang Ali tekuni.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang dia ucapkan saat Ali menciumnya delapan bulan yang lalu, yang merupakan ciuman terakhir di antara mereka.

Ali menghela nafas panjang. Dia merebahkan badan di kursi ruang tamu. Dia tengadahkan kepalanya, menerawang ke langit-langit rumah. Dia ingat-ingat lagi, semua makanan yang pernah Ali santap selama sahur hampir empat dekade ini. Semua yang istrinya siapkan semalam sebelumnya. Semua yang selalu tersaji hangat. Kini hanya mata Ali yang terasa hangat, karena ada yang jatuh menetes di pipi.

“Pak, sahurnya sudah siap.”

Ali menyeka matanya. Dia berdiri menuju meja makan. Saat dia duduk dan mulai membuka piring, ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda pesan masuk. Rupanya anak-anak Ali sudah meninggalkan pesan selama dia sholat tadi.

Dibacanya satu per satu. Ada yang aneh. Tidak ada pesan masuk dari anaknya yang paling kecil, Andi.

Tapi Ali paham. Di antara ketiga anaknya, Andi yang paling jarang berkomunikasi. Seminggu sekali sudah cukup. Itu pun kalau mereka sama-sama ingat. Seakan ada bagian dari hidup Andi yang tidak ingin dia sampaikan ke ayahnya, meskipun Ali mengetahui segalanya.

Ali membalas pesan-pesan dari kedua anaknya, yang dia yakin masih belum bangun, karena perbedaan waktu.
Tapi Andi?

Ali terdiam sejenak.
Lalu dia tulis:

Assalamualaikum, Ndi. Jangan lupa sahur. Papa juga mulai puasa hari ini.”

Ali terdiam lagi. Jarinya sudah siap memencet send. Namun dia lanjutkan menulis pesan:

“Ini puasa pertama Papa tanpa Mama kamu. Tapi insya Allah Papa siap. Puasa itu yang tahu cuma kamu sama Allah. Papa ndak tau kamu sebenarnya puasa apa ndak, kamu juga ndak tau puasa Papa gimana. Meskipun selama ini kita puasa didampingi orang yang kita cintai atau sayangi, tapi kalau kita memang niat puasa karena ibadah, meskipun orang yang kita cintai sudah pergi, pasti ibadah akan tetap dilancarkan. Jangan lupa minum madu supaya sehat ya, Ndi. Wassalamualaikum.”

Send.

Beberapa detik kemudian, Ali melihat tulisan Read di layar ponsel.

Ali tersenyum.

Alhamdulillah.”

Posted in: @linimasa

Tagged as: , , , , ,

17 thoughts on “Hari Pertama Leave a comment

  1. Makasih buat tulisannya mas.

    Selamat berbuka dan melanjutkan puasa esok hari.

    Sebelum tidur, baca ini sungguh…:’)

  2. yang puasanya sendirian. tetep semangat sahur ya walau hanya ditemani tipi dan indomie. 😊😊
    pesannya nyampe, puasa tetep latihan buat jadi baik lagi jiwa maupun raga.
    aku suka ayah Ali. adain lagi ya karakternya di next cerpen. #ehmalahrequest

  3. haha..
    sebagai perantauan yang hidup sendiri, ramadan selalu menawarkan suasana tertentu. antara sedih, senang, rindu, campur aduk menjadi haru.

    dan tulisanmu semacam merangkum mood ku semalam 🙂

    begitulah.

  4. Sudah lama skeptis, tapi baca ini tersentuh juga, Mpal..

    Aku merasa bersalah, aku menularkan skeptisku ke orang orang terdekat..

    1. Sama-sama, mas Danasmoro. Kemiripan dengan yang dipikirkan semalam itu cuma kebetulan. Eh bener kan ya, nyambung komen di Path? #lintassocmed Selamat berpuasa juga.

Leave a Reply