In the Future, the Past will be Present

Semalam saya menonton ulang film Still Alice. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini berkisah tentang Alice, seorang profesor linguistik yang terserang penyakit Alzheimer. Padahal usianya belum lanjut. Padahal sebagai ahli bahasa, dia terkenal dengan artikulasi tutur bahasa yang baik, dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Mendadak, semua hal yang sudah dipelajari selama hidupnya, yang membuat dia dikenal banyak orang, hilang begitu saja. Dia bilang, “It’s like the words are hanging in front of me, but I can’t reach them.

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film ini dengan harapan Julianne Moore, yang memerankan Alice, akan mendapatkan Oscar sebagai Aktris Terbaik atas penampilannya yang luar biasa. Beberapa bulan setelah Julianne Moore akhirnya mendapatkan Oscar tersebut, saya masih terkesima melihat penampilannya yang, saking luar biasanya, membuat saya terpekur lagi setelah film berakhir.

Still Alice
Still Alice

Dari awal film, kita diperlihatkan kebiasaan Alice bermain “Words with Friends” (semacam “Scrabble”) bersama anak tertuanya. Permainan yang membuat saya tersenyum, karena sampai sekarang, saya masih suka bermain “Scrabble” pula di iPad. Lalu dalam hitungan sekitar 90 menit, kita melihat cepatnya penyakit Alzheimer menggerogoti jiwa Alice, sehingga dia tidak lagi mengenali anaknya sendiri, dan tidak mampu menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. Semua terasa begitu nyata, meskipun cerita ini hanya rekaan di layar saja.

Kebetulan sebelum menonton film ini untuk kedua kalinya, sekitar dua minggu lalu saya membaca buku Then Again, karya Diane Keaton. Ini memang Diane Keaton, aktris pemenang Oscar di film Annie Hall, dan istri Sonny Corleone di The Godfather Trilogy itu. Ternyata dia seorang penulis yang cukup mumpuni.

Hal itu sudah terbukti di bagian awal buku “Then Again” ini. Tanpa menunggu sampai bagian tengah buku, dia bercerita bahwa sebagian besar buku ini terinspirasi dari sang ibu, Dorothy Hall, yang selalu menulis jurnal setiap hari selama hidupnya. Jurnal ini dimulai dengan catatan yang deskriptif tentang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Namun seiring perjalanan usia, entries jurnal ini menjadi semakin pendek. Saat sang ibu mulai didiagnosa penyakit Alzheimer, seperti Alice di atas, catatan di jurnal pun menjadi satu kata saja. “Think. Again. Doors.” Dan kata-kata yang seolah tak berhubungan, namun sebenarnya mengungkapkan perasaan yang tak bisa lagi tersampaikan dengan jelas.

Then Again
Then Again

Baik Alice maupun Dorothy tak akan pernah menyangka bahwa mereka akan menghabiskan hari tua mereka tanpa masa lalu. Siapa yang akan pernah mengira kalau suatu hari kita akan kehilangan ingatan? Tidak ada yang pernah menginginkan hal itu terjadi.
Dan kita tidak pernah mengira, bahwa ternyata kenangan masa lalu yang akan membuat kita hidup di masa depan. Bahwa ternyata kehidupan di masa depan akan ditentukan oleh apa yang bisa kita kenang dari masa lalu. Masa kini akan menjadi masa lalu di masa depan.

Delapan bulan yang lalu (ternyata Linimasa sudah lama juga ya berkiprah), saya pernah menulis tentang kebiasaan. Apa yang biasa kita lakukan sekarang akan menjadi bagian dari masa lalu di masa depan. Dan hasil dari kebiasaan ini akan menjadi bagian yang bisa kita kenang. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Kebiasaan menulis setiap film yang selesai ditonton di bioskop, ditambah serial atau film televisi, masih berjalan sampai sekarang. Yang baru saja dilakukan dari awal tahun kemarin adalah mulai mencatat buku apa saja yang sudah selesai dibaca. Yang belum dilakukan adalah menulis jurnal atau catatan harian pribadi. Entah kenapa, menulis catatan pribadi untuk berlaku jujur pada diri sendiri masih terasa berat dilakukan. Semoga suatu hari keengganan ini bisa berubah.

Sepatutnya memang kita sibuk mempersiapkan diri untuk masa depan saat ini. Tetapi pastikan bahwa nantinya ada sesuatu dari masa sekarang yang bisa kita ingat dengan manis sebagai bagian dari masa lalu di masa depan. Apalah artinya hidup di hari tua tanpa kenangan yang berbuah senyuman.

It’s good to remember. It always is.

Iklan

4 thoughts on “In the Future, the Past will be Present

  1. Waktu pertama kali nonton Still Alice, gue teringat quote yang sering terlihat “buy experience, not things” tapi kalau ingatan kita diambil dari kita, bahkan experience pun akan jadi worthless. Sedihnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s