Triple H

Kita mengenal Triple H, sebagai bintang acara gulat di Amerika. Nama julukan ini berasal dari nama nama si pemeran Hunter Hearst Helmsley.

Kemarin dan saat ini saya masih berada di Kuta, Bali dalam rangka kerjaan. Dalam suatu sesi pertemuan dengan salah satu rekan kerja, dia bicara soal Triple H, akan tetapi  HHH yang dia maksud adalah Head, Heart, dan Hand.

AIGA-head-heart-hand

Sudah banyak teori yang bicara ini, namun sepertinya memang masih perlu terus menjadi perhatian karena begitu kontekstual dengan kehidupan kita sehari-hari.

Membaca tulisan Lei kemarin, ada satu kalimat yang bagus:

“… saya dengan kerepotan berusaha membuka pintu bilik dengan kedua tangan menjinjing belanjaan, Ibu yang penuh perhatian itu menonton saja kejadian tersebut.”

Dalam cerita Lei, seorang Ibu penuh perhatian banyak bertanya soal kondisinya, termasuk dengan beberapa komentarnya. Namun pada saat seharusnya dia menunjukkan perhatian dengan tangannya, misalnya membuka pintu,  si Ibu justru tak tergerak sama sekali. Sepertinya ada hubungan yang terputus antara isi kepala, isi hati dan gerakan tangan.

Kita memang peduli. Kita memang baik hati. Namun belum pada tataran praktek.

Sejak kecil, isi kepala anak-anak begitu dibangga-banggakan orang tua. Tapi kita terkadang lupa, isi kepala seharusnya diiringi dengan pencaran hati. Lalu diikuti dengan uluran tangan.

Tidak sulit namun sulit. Sederhana namun tidak sederhana. Begitu mudah namun ternyata tidak mudah.

Dalam lanjutan ceritanya, Lei juga menulis:

Seorang perempuan hamil besar (saya, dan yang besar bukan hanya perutnya) lagi-lagi menenteng beberapa plastik besar yang cukup berat. Lift berhenti, dan seorang perempuan setengah baya masuk. Menatap perempuan hamil, sang perempuan setengah baya berucap, “hamil gede gitu harusnya jangan nenteng-nenteng barang berat.” Perempuan hamil hanya tersenyum tak tahu harus bicara apa.

Kita terbiasa menasehati. Tanpa pernah mau melayani. Bisa jadi kecenderungan ini juga ada dalam diri saya sendiri.

Sewaktu saya kecil, saya teringat suatu kejadian. Kira-kira usia saya saat itu delapan atau sembilan tahun. Seorang rekan kerja Bapak datang ke rumah dan melihat tanaman di halam rumah yang cukup rimbun. Karena tertarik, Bapak itu meminta beberapa tanaman.  Ayah saya memang memiliki kesukaan berkebun. Beberapa tanamannya dia rawat dan melebihi perhatiannya pada Ibu.  Ada tanaman teh-tehan, soka, dan beberapa tanaman bonsai adalah caranya dia berpoligami. Istri-istri yang setiap sore diajak bicara dan disirami.

Ketika teman Ayah meminta tanamannya, Ayah  begitu semangat.  Dicabutnya tanaman soka miliknya, dibersihkan akarnya, dan dipotong beberapa daun-daunnya. Ayah  tidak memberikan kepada rekannya.

Mari saya antar“.

Saya ikut  Ayah  ke rumah temannya. Lalu, ayah, dengan peralatan yang dibawanya mengaduk tanah di halaman depan rumah rekan Ayah, menggemburkannya dan meletakkan soka yang dibawa. Menuntaskannya dengan riang gembira.

Setelah seminggu, Bapak bisa ganti ke media pot. Tapi sementara ini disini dulu saja…. Setiap sore jangan lupa disirami.“, Ayah berkata sembari memotong beberapa daun soka.

Saat perjalanan pulang, dia berkata: “Mas, bahkan berbuat baik itu juga harus hingga tuntas. Jika kita hanya memberikannya tanpa membantu menanamnya sendiri dan memberi tahu bagaimana merawatnya, kita tak membantunya seratus persen. Berbuat baik itu jangan nanggung. Dan jika ada kesempatan berbuat baik, maka jangan sia-siakan kesempatan itu.”

Kalimat itu sampai saat ini masih terngiang-ngiang. Menolong hingga tuntas. Berbuat baik jangan nanggung. Jika ada kesempatan berbuat baik, SIKAT!

Saya masih ingat, bagaimana di atas vespa, Ayah bersama saya pernah bertemu seorang pejalan kaki yang sibuk mencari alamat. Bukannya menunjukkan jalan, Ayah malah berkata: “Ayo naik, saya antar ke rumah saudara Adik“.  Padahal saya tahu sendiri sebetulnya, saat itu ayah dan saya berencana hendak pergi ke toko pancing langganan, tempat di mana ayah saya bisa mencari “istri muda” yang lain sebelum membawanya ke laut mengail ikan kakap.

Hal kecil semacam  itu sejatinya begitu banyak ditemui di sekitar kita. Perihal basa-basi dan tegur sapa sepertinya kita sudah jago semua. Namun, menawari teman kerja yang pulangnya searah,  membagi sebagian sarapan yang kita bawa dari rumah, menawari mobil yang akan berbelok untuk terlebih dahulu jalan daripada mobil kita, menawari teman yang lupa membawa dompet namun sudah terlanjur memesan banyak menu atau menawari banyak kesempatan kecil yang sebetulnya selalu tersedia kapan saja, setiap hari.

Jika kita sudah begitu canggih dalam praktek menawar di pasar senggol, mengapa kita tak mencoba menambah akhiran -i dalam setiap kesempatan?

Karena isi kepala yang baik dan hati yang tergerak, ternyata belum selesai. Masih ada giliran uluran tangan untuk menuntaskannya.

Salam hangat dari Kuta,

Roy

(yang lagi sebal cuaca Kuta kok hujan melulu).

 

Oiya, satu tembang menjelang Bulan Juni untuk kamu. Selamat menikmati. 🙂

Iklan

8 thoughts on “Triple H

  1. Terharu membaca kata-kata ayahmu Roy. Tapi memang demikian ya, aku juga insya cosmos akan lumpat kalau ada kesempatan membantu tuntas untuk orang yang membutuhkan. That’s kindness too, maybe in a smaller scale no?

    Disukai oleh 1 orang

  2. Saya kalo lagi di jalan terus ada yang nanya alamat suka saya suruh install Google Maps atau Waze biasanya. Soalnya saya liat dia pake gawai bikinan Foxconn sana. Sudah cukup altruismekah saya? 😦

    Suka

  3. tulisan mas roy ini sungguh menyentil😊, sy bayangkan mas roy dalam tataran laku yang kalo disamakan berbusana senantiasa edi peni
    berbuat baik lebih seringnya sekedar wacana, termasuk sy😁
    sering kali kita ndakik2, memenangkan, menjaga perasaan orang luar(dibaca pencitraan), tapi lupa, nganggep remeh perasaan orang terdekat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s