Saya Tahu Niatmu Baik…

Beberapa hari yang lalu terbaca di post salah satu sahabat saya di media sosial mengenai pertemuannya secara tidak sengaja dengan teman lama yang jarang sekali bertemu, di bandara. Melihat sahabat saya baru sampai ke kotanya dari perjalanan yang sifatnya pekerjaan, temannya ini terucap, “Aduh ibu ini kerja terus deh, nggak kasihan anaknya ditinggal-tinggal terus? Suaminya siapa yang urus dong? Ngga komplain mereka?” Sahabat saya yang sudah lelah menerima saran yang tidak diundang hanya mendengus, “Kayaknya yang komplen cuma elu deh, nek” (catatan penulis: “nek” di sini bisa jadi hanya improvisasi penulis belaka).

Di negara yang warganya terkenal ramah ini memang jika diperhatikan, kita kaya sekali akan nasihat dan petuah, tetapi cukup miskin uluran tangan yang konkret dan tulus. Everybody seems to have an opinion about you, but no one actually wants to do anything about it. Pikiran lalu melayang ke hampir sembilan tahun yang lalu. Sebagai ibu yang baru melahirkan dan sudah dirumahkan selama lebih dari sebulan, begitu situasi dan kondisi memungkinkan, saya memberanikan diri berbelanja ke supermarket berdua saja dengan bayi berusia 7 bulan. Berbekal car seat dan baby carrier (dengan yakin saya memikirkan kalau sepertinya stroller akan terlalu merepotkan untuk dibawa kalau jalan hanya berdua) alias gendongan, kami berangkat. Setelah belanja, saya baru teringat kalau harus mengambil uang tunai di ATM, jadi dengan membawa dua jinjingan ditambah satu bayi digendong di depan saya pun mengantri. Seorang perempuan separuh baya yang juga mengantri di belakang mencolek dan bertanya,”bayinya masih kecil sekali ya, itu berapa bulan?”

“Hampir dua bulan,”

“Kok sudah dibawa jalan-jalan?”

Saya hanya menyeringai.

“Ini berangin loh, kok nggak dipakaikan topi? Nanti masuk angin.”

(Nyengir)

Si Ibu tampaknya masih ingin komentar tapi sudah giliran saya masuk bilik ATM. Begitu selesai, saya dengan kerepotan berusaha membuka pintu bilik dengan kedua tangan menjinjing belanjaan, Ibu yang penuh perhatian itu menonton saja kejadian tersebut.

Beberapa bulan sebelum itu, dalam sebuah lift. Seorang perempuan hamil besar (saya, dan yang besar bukan hanya perutnya) lagi-lagi menenteng beberapa plastik besar yang cukup berat. Lift berhenti, dan seorang perempuan setengah baya masuk. Menatap perempuan hamil, sang perempuan setengah baya berucap, “hamil gede gitu harusnya jangan nenteng-nenteng barang berat.” Perempuan hamil hanya tersenyum tak tahu harus bicara apa.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah keriaan dalam mal pusat kota. Seorang perempuan (saya) bertemu dengan seorang pria cukup muda yang dikenalnya, tetapi sudah lama tidak berjumpa. Sambil air kissing sang pria berucap, “Kok kamu segeran sih sekarang, hepi nih di tempat baru?”

“…”

MjAxMy01NzI4YzM1ZDQxODAwZjYx

Semua yang telah dialami seolah meneguhkan hati, untuk:

  1. Tidak berkomentar yang sudah jelas, apalagi kalau tidak ada niat untuk menolong.
  2. Tidak memberikan nasihat jika tidak diminta.
  3. TIdak perlu mengisi keheningan, karena seringnya suara yang dikeluarkan justru lebih mengganggu dari keheningan yang terjadi.
  4. Jangan pernah berbasa-basi (terutama kepada perempuan) kalau dia terlihat tambah besar dengan segala eufimismenya. Kita tidak pernah tahu situasinya.
Iklan

8 Comments

  1. Ping-balik: Triple H | LINIMASA
    1. Kadang kita suka lupa ya, terutama kalau sama orang yang kita rasa dekat. Tapi begitu merasa ga enaknya digituin langsung memecut diri supaya lebih baik diam dari komen ga penting.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s