Style is Forever

People watching sambil duduk di bagian luar sebuah kafe atau restoran adalah salah satu kegiatan kegemaran saya ketika berkunjung ke negeri orang. Terutama kalau saya sedang ada di kota-kota Eropa yang penduduknya terkenal stylish. Begitu pun ketika di Milan beberapa minggu yang lalu, senang rasanya menyesap kopi atau minuman apa lah sambil memerhatikan orang lalu lalang. “Kalau kataku di sana lebih gaya kaum prianya daripada wanita, kak” seorang teman meninggalkan komentar di salah satu akun social media saya. Setelah saya perhatikan, ternyata memang benar. Tetapi ada yang menarik juga saya perhatikan; ketika seorang perempuan sudah cukup berumur, mereka malah terlihat sangat gaya. Memang tidak terlalu mencolok atau menarik perhatian berlebihan, tetapi umumnya mereka mengenakan jaket atau blazer dengan potongan rapi dan pas, baju dalaman yang tidak neko neko tetapi neckline sangat sesuai bentuk tubuh, rok atau celana yang jahitannya terlihat rapi dan sepatu dengan ujung lancip, baik kitten heels, sol datar maupun hak sedang. Menyenangkan sekali dilihatnya.e94c97463f156275057836521535b0c2

Beberapa tahun yang lalu ketika saya menceburkan diri di media yang cukup banyak membahas fashion dan tren, saya sempat silau. Dikelilingi oleh para editor fashion, bertemu dengan desainer maupun tokoh-tokoh ritel fashion membuat saya ingin mengikuti apa yang sedang in saat itu. Tetapi ketika mencapai usia tertentu, saya mulai berpikir kalau mengikuti tren sepertinya sudah kurang sesuai. Saya mulai memerhatikan perempuan-perempuan stylish yang sudah berumur dan mempelajari formula mereka.

Mengenakan pakaian yang kita merasa nyaman ternyata penting; bagaimana kita bisa percaya diri kalau tidak merasa nyaman? Berlaku pula untuk sepatu. Kalau merasa bukan tipe yang mengenakan hak tinggi, sepatu model maskulin seperti loafers atau brogue yang bermutu baik juga sangat pantas digunakan, terutama untuk gaya androgini. Peraturan berikutnya yang saya tengarai adalah; busana dengan kualitas baik, tidak perlu kuantitas banyak. Kalau mampu membeli basic pieces dengan harga cukup tinggi lebih baik, dan pastikan mereka dapat dipadupadankan dengan apa saja. Salah duanya bisa jadi jaket atau blazer tailored berkualitas baik sesuai dengan bentuk tubuh dan kemeja katun dan sutra. Perlu diperhatikan juga, ketika mencapai usia tertentu, frill, renda dan perpaduannya dengan warna pastel tak lagi membuat kita terlihat girly, justru tampak lebih tua. Siluet tegas dan sederhana selalu lebih baik, apapun acaranya.

2235954b551dbf63dc2ca8e352ee16f5

Tidak hanya soal busana, terlihat pantas di usia ‘dewasa’ juga berarti harus menjaga agar potongan rambut selalu rapi dan tidak ada uban yang nampak (kecuali kalau memang memutuskan mewarnai rambut abu-abu, yang saya akui sempat saya pertimbangkan). Selain itu riasan juga harus strategis, karena warna kulit tak sesegar ketika usia (lebih) muda, tetapi juga tidak perlu menggunakan warna berlebihan, cukup fokus di satu bagian, seperti bibir ATAU mata. Oh ya, ada satu lagi poin favorit saya; jadikan sunglasses aksesori tidak ada matinya yang bisa menyembunyikan banyak hal (baca: kerutan), bahkan semua hal.STREET STYLE RED LIPSTICK THEURBANSPOTTER 3

Fashions fade, but style is forever, kata Yves Saint Laurent. Mungkin tak usah muluk-muluk ingin segaya Iris Apfel atau seelegan Anna Wintour, tapi tetap menjadi diri sendiri tanpa harus menolak kenyataan usia saja sepertinya sudah cukup jadi lifegoal.

(Gambar diambil dari Fashion Over 50 Street Style Pinterest)

Iklan

2 thoughts on “Style is Forever

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s