Homo Homini Celaterus*

Suka tidak suka, mau tidak mau, saat ini kita hidup di dunia yang serba salah, dengan aturan main tunggal: mencela atau dicela. Begini salah, begitu juga salah, sehingga selalu ada celah untuk dicela, terlepas dari persoalan benar atau salah.

Tidak ada seorang pun yang bisa merdeka dari urusan yang satu ini. Bedanya hanya di posisi. Hari ini mencela, besok malah dicela. Begitu seterusnya baik disadari atau tidak sengaja. Lantaran selalu ada celaan sejak seseorang dilahirkan sampai akhirnya berpulang. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, celaan sudah dimuntahkan ketika kehadiran sang jabang bayi sedang diusahakan.

Soal efek tinggal pilih, ingin merasakan kepuasan semu dengan sukses mencela orang lain, merasa sangat terganggu dengan celaan orang lain, atau berhasil cuek dan terus menjalani hidup tanpa peduli omongan orang lain.

Mengapa seseorang mencela orang lain? Entahlah. Dalamnya lautan bisa diukur, hati orang siapa yang tahu. Tapi, kalau ingin menduga-duga, setidaknya ada beberapa hal yang mampu mendorong seseorang berkomentar mencela orang lain. Beberapa di antaranya; memang hobi, ingin menyakiti dan mengganggu kehidupan orang lain, ingin dan merasa berhak memberikan nasihat bernada keras, maupun hasrat untuk memperbesar ego.

  • Merasa lebih pintar, seseorang mencela orang lain yang dianggap bodoh.
  • Merasa lebih cakep, seseorang mencela orang lain yang dianggap jelek.
  • Merasa lebih tua, seseorang mencela orang lain yang dianggap masih muda.
  • Merasa lebih kaya, seseorang mencela orang lain yang dianggap miskin.
  • Merasa lebih alim, seseorang mencela orang lain yang dianggap bejat.
  • Merasa lebih benar, seseorang mencela orang lain yang dianggap salah.
  • Merasa lebih baik, seseorang mencela orang lain yang dianggap buruk.

Hampir semua orang haus pengakuan, dan gampang terbuai dengan ilusi superioritas yang batasannya samar (merasa versus dianggap). Mencari perasaan lebih unggul dibanding orang lain, atau sebenarnya cuma kompensasi atas iri hati gara-gara termakan gengsi. Melontarkan celaan karena enggan mengakui kelebihan orang lain, atau berwawasan dangkal sampai-sampai tak punya topik pembicaraan lain.

Perlukah kita peduli dengan celaan orang lain? Tergantung. Tidak semua celaan itu benar, dan tidak semua pencela itu orang yang benar. Celaan dan masukan itu beda tipis, tergantung bagaimana kita melihatnya. Dalam proses mengenali dan meresponsnya, kita menjadi dewasa. Lagipula, toh hidup kita tidak bergantung pada mereka, para pencela.

Sebagai makhluk dengan hati dan otak, manusia seyogianya mampu dan mau membedakan yang tepat dan yang mengada-ada. Apa untungnya kita tenggelam dalam sakit hati, atas ucapan dari orang yang kelakuannya belum tentu benar? Cuek sajalah. Kecuali bila Anda termasuk masokis sosial, yang menikmati celaan sebagai objek penderita.

Bakal jauh lebih baik jika kita bisa mencela diri sendiri, menyadari kesalahan sebelum keburu dihujani tudingan. Ibarat atlet lompat jauh, mampu mengantisipasi momen jatuh. Supaya tidak terlampau sakit. Jika sudah begini, alih-alih terganggu dengan celaan, Anda mampu mengupas dan mengambil intisarinya. Efisien, enggak pakai drama.

Bagaimana cara kita menghadapi celaan? Terserah saja. Tapi jangan lupa, kita adalah tuan atas perasaan kita sendiri. Setelah menyadari bahwa celaan yang dialamatkan kepada kita tak lebih dari sekadar sampah, apakah sepadan dengan energi dan perhatian yang kita kerahkan?

Omong kosong berupa celaan tak ubahnya umpan lambung. Apabila disambut dengan pukulan balasan, permainan pun terus bergulir. Kian panas, namun ujung-ujungnya tak berguna. Tidak perlu meladeni para pencela, sebab bakal seperti menampar muka badak. Buatlah mereka kecele dan menganggap Anda sebagai lawan main yang tidak asyik. Kemudian biarkan mereka pergi.

Terus, harus ngapain lagi? Setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing. Ada kalanya kehidupan seseorang bersinggungan dengan kehidupan orang lain. Jalani saja sesuai keinginan, dengan tetap menyadari bahwa ada standar kepatutan yang mesti dijaga. Silakan punya impian, ambisi, cita-cita, idealisme, atau apa pun namanya. Silakan kejar dan berusaha mencapainya. Perkara berhasil atau gagal, biarlah tetap menyisakan kejutan di masa depan. Dengan kesibukan seperti ini, boro-boro punya minat untuk mencela orang lain.

Akan tetapi, ingin bebas dari celaan orang lain? Jangan harap.

“… hal itu telah ada sejak dahulu dan bukan baru ada sekarang saja,

mereka mencela orang yang duduk diam,

mereka mencela orang yang banyak bicara,

mereka juga mencela orang yang sedikit bicara.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tak pernah dicela.”

Dhammapada #227

[]

*) “Seseorang adalah pencela bagi orang lain.” (terj. suka-suka)

Iklan

6 thoughts on “Homo Homini Celaterus*

  1. Sebenernya para anggota Kelompencapir* itu adalah orang2 yg bekerja di Departemen Urusan Orang Lain. Makanya kerjaannya gitu.

    *Kelompok Pencela dan Pencibir, istilah yg duluuu sekali, waktu ngeblog masih ngetren, digunakan beberapa orang di Komunitas Cah Andong, Jogja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s