Internet Killed The Video Star

hoc5

Beberapa hari yang lalu. House of Cards Season 3 baru saja rilis melalui Netflix. Bukan HBO atau TV lainnya. Tanggapannya positif dari musim pertama hingga ketiga. Tiga belas nominasi Emmy Awards di musim pertama. Terakhir Kevin Spacey mendapatkan Golden Globe pertamanya melalui perannya sebagai Frank Underwood di serial tersebut. Memang sudah waktunya dia mendapatkan piala itu. Breaking Bad sudah tamat. Frank Underwood, sang politisi dengan gaya ruthless pragmatism-nya sekarang menggantikan tempat Walter White, guru kimia di SMA yang over-qualified dan menjelma menjadi Heisenberg, produsen sekaligus penjual meth.

Media Right Capital membeli copyright ini dari BBC dan membuatnya menjadi versi Amerika. Fokus dari serial ini ada pada Frank Underwood, seorang congressman dari Partai Demokrat (kalo di sini anggota DPR mungkin ya), yang berhasil meloloskan jagoannya menjadi Menlu AS. Selanjutnya, siapa yang menghalangi jalannya akan dia libas. Siapapun dia.

Apa sih yang spesial dari serial yang diadaptasi dari judul yang sama buatan BBC ini? Terus terang saya tidak pernah mengantisipasi sebuah serial televisi seantusias ini. House of Cards di mata saya sudah berada di kelas The Wire, Breaking Bad, The Sopranos, Friends atau mungkin X-Files (pencinta Glee dan The Big Bang Theory melipir dulu ya). Saya sengaja menghabiskan akhir pekan kemaren melahap semua episode House of Cards musim ketiga ini yang tentunya akan ada lanjutannya.

Seluruh episode? Koq bisa? Kan baru rilis? Ya bisa. Karena Netflix, penyedia layanan media streaming (maaf saya belum menemukan padanan kata streaming dalam Bahasa Indonesia) dan pemilik hak siar dari serial ini memutuskan untuk merilisnya sekaligus. Semua episod bisa dilihat. Kapan saja. Di mana saja. Selama koneksi internet anda ngaceng. Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari seminggu. Tidak seperti serial dari TV Kabel konvensional seperti Indovision, First Media, Big TV atau Orange, Aora, atau yang lainnya yang hanya menayangkan per episod setiap minggunya.


Di tengah kesibukan merampungkan The Curious Case of Benjamin Button, David Fincher mendapat tawaran dari agennya untuk menggarap House of Cards. Ide ini diterima dengan suka cita oleh David Fincher. Dia memang sudah lama menginginkan membuat karakter dalam format yang panjang seperti televisi. Tidak seperti film.

hoc10

Ketika dia membaca naskah tersebut hanya ada satu orang yang ada di benak David Fincher untuk memerankan Frank Underwood. Dia adalah Kevin Spacey (masih ingat film Se7en?). Akhirnya mereka berdua berkolaborasi sebagai produser pelaksana. Tapi Fincher membutuhkan orang yang berpengalaman di bidang politik. Orang dalam yang mengetahui seluk beluk Gedung Putih dan Capitol Hill.

Orang itu adalah Beau Willimon, seorang penulis naskah lulusan Julliard yang telah menelorkan The Ides Of March, yang diganjar nominasi Best Adapted Screenplay oleh Academy Awards. Beau juga pernah menjadi sukarelawan Hillary Clinton untuk menjadi Senat, dan juga membantu kampanye Howard Dean dan Bill Bradley untuk menjadi Presiden dari Partai Demokrat. Pas.

Ted Sarandos, Chief Content Officer dari Netflix, mencium adanya potensi kesuksesan di House of Cards. Maka Netflix membeli hak siar dari serial itu sebelum diambil HBO, AMC, atau Showtime. Netflix juga membutuhkan serial produksi sendiri, eksklusif. Tidak hanya sekedar “menyediakan film dan serial yang sudah ada”.  Ted juga melihat statistik dan kebiasaan dari pelanggan Netflix bahwa ada penonton yang yang cukup signifikan jumlahnya yang menyukai film yang dibintangi Kevin Spacey, film yang disutradarai David Fincher, dan film dengan genre political thriller.  Restoran pun membutuhkan makanan khas, enak dan tidak dipunyai restoran lain kan? Kalo sudah punya keunikan. Makanan yang lain pasti dicicip. Yakan? Yasih.

Lalu hasilnya apa? Dengan masuknya House of Cards sebagai serial unggulan dari Netlix yang menghabiskan $100 juta dollar per musim ini? Pelanggan berbayar Netflix melonjak drastis. Dari 24 juta pelanggan sekarang menjadi 50an juta pelanggan, dan terus bertambah. Setengahnya adalah dari Amerika Utara. Harga sahamnya pun terus naik.

Jika HBO dulu mempunyai serial unggulan The Sopranos dan Sex And The City. Maka Netflix mempunyai House of Cards dan Orange Is The New Black. Netflix adalah HBO-nya internet. HBO versi streaming. Ala carte. 

“This is the future, streaming is the future. TV will not be TV in five years from now…everyone will be streaming.” 


 

Lalu, kalo begitu internet kencang buat apa? Coba tolong tanya Pak Rudiantara yang sempat bercokol di Telkom, Indosat, PLN dan juga XL yang entah sedang apa, di mana dan bersama siapa dia sekarang.

Udah ah jangan ngomongin politik aja. Mending denger lagu ini. Lebih suka versi Buggles sih Tapi pake yang ini aja. Biar tematik gituu. Kan yang bawain The President Of The United States America.

Gimana kalo judul lagunya diganti aja jadi Internet Killed The Video Star? Hmm?

 

 

 

7 thoughts on “Internet Killed The Video Star Leave a comment

  1. House of Cards ini amazing!! Baru nonton 2 episode di season 3 (dan belum nonton season 1 & 2) tapi udah jatuh cinta abis :))

  2. Oh my! Saya suka banget sama video killed the radio star 🙂
    Thanks for the reminder. Udah lama ngga denger lagu ini >.<

    lha, ngakses netflix darimana tho? kan di Indo ngga tersedia?

Leave a Reply