Kita Juga Koruptor Apabila..

IMG_9729

Naik motor ndak pakai helm. Menerobos lampu merah. Beri uang damai kepada polisi. Melawan arus jalan. Serobot jalur pengendara lain lewat kiri. Ngebut di tol jalur darurat.  Masuk jalur busway. Naik motor gunakan trotoar. Menunggu lampu merah melebihi batas zebra cross.

Menyeberang jalan tergopoh-gopoh padahal ada jembatan penyeberangan di atasnya. Menunggu bus di jalur untuk penumpang keluar pintu. Menyeberang jalan ketika lampu hijau masih menyala. Naik bus bukan di halte.

Mengoper penumpang seenak jidat. Menghentikan kendaraan umum di tikungan. Menunda jadual keberangkatan tanpa alasan jelas. Ngetem terlalu lama. Memuat penumpang terlalu penuh hingga penumpang berasa jadi ikan sarden.

Buka restoran tanpa sedia parkir memadai hingga luber ke pinggir jalan. Ndak setor pajak hiburan. Kutip bahkan memaksa ikut serta sumbang PMI. Jualan pakai mobil di parkir pinggir jalan. Bikin daftar menu tanpa tertera harga. Gambar di daftar menu lebih gede, komplit, dan menggiurkan daripada pesanan yang nyata-nyata datang dan disajikan.

Ndak punya uang kembalian dan memberikan permen.

Pulang larut tapi ndak kerja melainkan numpang unduh dari jaringan internet kantor. Waktu istirahat buat tidur dan waktunya kembali kerja malah makan siang. Bikin-bikin rapat di luar kantor padahal bisa dilakukan di kantor sendiri. Pacaran pakai telpon kantor. Sibuk ngetwit dan ngepath saat jam kerja. Rapat cuma numpang ambil konsumsi tanpa pernah bicara dan berdiskusi. Bikin-bikin acara kantor demi kunjungi salah satu staf atau bos yang adakan resepsi di luar kota. Kebanyakan ambil fasilitas kantor: rumah istirahat misalnya. Setel musik selera sendiri keras-keras dan yang lain diem aja karena sedih dan ndak tega: sedih terganggu kerja dan ndak tega karena tahu selera musiknya rendah. Nunggak uang kas, tapi mau ikut makan-makan dan ngumpul-ngumpul pas ada acara.

Menunda pekerjaan dan lebih memilih internetan.

Tidak tertib administrasi sehingga waktu kerja dipakai untuk membereskan dan mencari-cari dokumen yang tercecer. Akibat banyak yang tercecer harus masuk di hari Sabtu -Minggu dengan pemakaian listrik, akses internet, dan telpon kantor.

Marah-marah pada bawahan tanpa alasan yang jelas. Marah-marah berlebihan di kantor. Menghambat izin cuti anak buah. Terima gaji tapi ndak berani ambil risiko. Masukkan ponakan jadi staf, manajer atau apapun, tanpa seleksi sewajarnya. Memasukkan anak anggota DPR ke kantor biar “dekat”. Memasukkan anak anggota Mahkamah Konstitusi biar perkara terkait kantornya “aman”.

Disapa  bukannya senyum malah merengut, padahal gigimu bukanlah aurat.

Memasukkan anak sendiri ke perusahaan rekanan. Membeli alat tulis kantor dengan anggaran kantor di luar spesifikasi yang wajar. Sudah dapat mobil dinas tapi masih minta reimburse uang transport. Mobil dinas dipakai buat kondangan.

… atau setidaknya kita adalah koruptor kelas teri maupun wannabe.

 

 

*gambar karya Glenn Marsalim dan mengambilnya tanpa izin.

 

Iklan

9 thoughts on “Kita Juga Koruptor Apabila..

  1. Hahaha…Menohok sekali yang terakhir2…semoga jd pengingat buat para pelakunya..

    Btw yg terakhir2 banyak yg gak bisa disebut koruptor tuh..tapi kolutor dan nepotitor bener ga ya istilahnya?

    Suka

  2. Kalo itu korupsi sdh pasti subjeknya koruptor…
    Tapi kalo semua itu tentang perilaku koruptif yang sdh mendarah daging dan mengurat nadi, apakah dapat dikatakan koruptor?
    Wallahu’alam bisshawab..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s