Perempuan Merah Delima Dengan Tas Jinjing Di Lengannya

Aku berasal dari kelas menengah dan aku merupakan bagian yang paling tangguh …

H. Hensley Henson – Retrospect of an Unimportant, vol.i

Jika Soekarno dikenal dengan tongkat komandonya, Che Guevara dengan topi petnya, maka puan jelita penyuka tas patut berterima kasih pada Margaret Hilda Roberts. Baginya, tas jinjing adalah perlambang kekuasannya.

 

Kita mengenalnya sebagai Wanita Besi. Perempuan yang malang melintang dalam percaturan politik Britania Raya. Iya. Margaret Hilda Roberts adalah nama kecil mendiang Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher.

Ketika menyambut Indira Gandhi di Downing Street, 1982, Kedua Perdana Menteri ini tidak melulu memperbincangkan soal hubungan diplomatik kedua negara. Mereka menikmati pertemuan untuk memperbincangkan juga persoalan mereka dalam menghadapi anak masing-masing.

Namanya juga ibu-ibu, tak akan pernah lekang dengan persoalan domestik rumah tangga. Saat berpolitik, soal dapur memang tak pernah dilupakannya. Zaman telah berubah. Tak asing lagi bahwa perempuan juga boleh dan cakap berpolitik. Jika pada akhirnya banyak pemimpin lelaki yang justru hanya sanggup lari-lari cantik, menjaga citra agar kelihatan berwibawa (jadi ingat bokapnya Mayor Agus, kan?), maka perempuan yang berpolitik sejatinya lebih tangguh dari kaum adam.

Apakah ketika perempuan menjadi pemimpin, maka ia meninggalkan kebiasannya untuk mematut diri di depan cermin dan lupa berdandan? Sepertinya tidak. Lihatlah bagaimana Margaret memperlihatkan pesonanya di depan publik. Hanya saja bisa jadi kesibukkan tidak menyisakan ruang untuk introspeksi diri. “Ketergesaan yang anggun”,  istilah yang disematkan Alan Hollinghurst (dalam “The Line of Beauty”) pada Margaret  Thatcher.

Margaret, di tahun 1951 mengantre tanda tangan Patricia Dainton untuk menandatangani tas jinjingnya
Margaret, di tahun 1951 mengantre tanda tangan Patricia Dainton untuk menandatangani tas jinjingnya

Apakah Margaret juga peduli pada Mary Kay, Chanel, SK II, atau Laura Mercier, La Prairie, Cle de Peau? Entahlah. Tapi bagi perempuan di manapun di dunia, persoalan dandan dan kecantikan, adalah harga mati. Bahkan bagi perempuan aktivis LSM sekalipun yang wajahnya sudah tak tertolong. Dengan bantuan kalung manik-manik, potongan rambut pendek, pashmina dan wajah judes, perempuan LSM mengira dirinya cantik, setara dengan buah pikirnya yang pun cemerlang. Padahal…. yagitudeh.

Toh inner beauty tanpa outer beauty, adalah minor beauty. Cantik yang sumbang. Wajah dan penampilan yang fals. Salah nada.

Berapa persen dari penghasilan kaum hawa dipergunakan untuk aneka rawat tubuh dan wajah? Bukankah menjadi perempuan itu mahal harganya?

Berdasarkan telaah Huffington Post pada medio tahun 2014, sejumlah 35% perempuan menggunakan satu atau dua produk kosmetik setiap hari, sedangkan 17% lainnya menggunakan tiga atau empat produk. Adapun 54 persen lelaki tak pernah menggunakan satu produk kosmetik apapun.  Tapi ternyata 33% lelaki juga menggunakan satu atau dua produk kosmetik setiap harinya. Beda tipis bukan? Bahkan manakala 7% perempuan menggunakan 6 produk kecantikan setiap hari, terdapat 1% lelaki yang merawat tubuhnya dengan 6 produk kosmetik.

Apabila mengacu pada hasil survey tersebut di atas, sebagian lelaki ternyata banyak juga bermain dengan kosmetik. Lelaki macam apa? dengan kantung mata di wajahnya? dengan wangi tubuh dan gemulai gerakannya? Entahlah.

Jika Anda bertanya apakah lelaki menyukai perempuan yang dandan? Ya tentu saja. Puan jelita yang dengan susah payah ingin menampilkan dirinya secantik mungkin, membuat saya ingin segera berlari ke Rawabelong dan membeli seikat bunga. Cantik itu tidak selalu luka. Cantik itu nyenengke’.

Bohong saja jika pria tak menyukai perempuan yang berdandan. Hanya saja akan keberatan jika seluruh kerusakan dompet dari dandan-dandan ini adalah dompet kaum adam. Maka sebagian perempuan akan bilang: ” Lumayanlah jadi perempuan karir, paling ndak untuk bedak sih pake duit sendiri.” Sayangnya banyak perempuan yang pakai duit sendiri itu berdandan tapi tak menolong penampilannya. Ini bukan menyinggung aktivis LSM aja lho ya?

Ketika seseorang cantik, atau ganteng, maka 50% urusan dunia sudah diselesaikan sendiri. Karena ketika penampilan menceminkan sikap hidup, maka yang cantik dan yang ganteng akan berkesan hidupnya baik-baik saja dan ndak njelimet. Bukankah, bahkan tuhan sekalipun menyukai keindahan? Aljamil. Karena tuhan adalah Maha Indah.

Baiklah. Jika cantik dikatakan anugrah dari Tuhan, tenang saja. lelaki pun memahami bahwa perempuan yang merawat tubuh dan wajah akan lebih dihargai dari sekadar yang cantik. Pandai merawat diri. Ini lebih adil. Semuanya mulai dari nol, tergantung usahanya.

Juga soal memilih tata busana. Karena cantik tak melulu fisik, namun juga bagaimana dia dalam menentukan selera. Pilihan sepatu, tas, kemeja, hingga warna bra.

Ketika seorang perempuan semakin banyak aktivitas dan menjadi perhatian orang-orang sekitar, maka sudah selayaknya berpenampilan prima. Apalagi jika dia seorang pemimpin. Margaret Thatcher, Lady Diana, dan Kate Middleton melakukannya.

Bagaimana dengan perempuan Indonesia?

Bukan Megawati. Perempuan tambun ini tidak masuk kategori. Apakah Megawati juga menggunakan kosmetik? Sepertinya tak perlu. Dirinya lebih genting untuk melakukan sedot lemak saja.

Peace, Love and Gaul.

Oiya jangan lupa:

To achieve beauty a woman must first achieve health” – Elizabeth Arden

 

Salam hangat di hari Sabtu,

Roy, yang sedang main fisik dan keranjingan ngegowes.

Iklan

11 thoughts on “Perempuan Merah Delima Dengan Tas Jinjing Di Lengannya

  1. Masalahnya… Sebagian–kalau gak boleh nyebut kebanyakan–orang menganggap “cantik” adalah dandan kumplit dari ubun-ubun sampe kelingking kaki. Atau, awet muda (yang dianggap salah satu syarat “cantik”) bisa dicapai dengan mengoleskan krim anti-keriput seharga jutaan.

    Kenyataannya? Yang tampak cantik di usia senja sih biasanya justru mereka yang jarang dandan, banyak beramal, dan sering ketawa. Berbuat baik untuk orang lain bikin bahagia. Ketawa mencegah penuaan dini; sebaliknya, stres memicu penuaan dini. Jadi, daripada duitku dihambur-hamburkan buat kosmetik yang bersifat kuratif, mending preventif. Syoping game pas Steam Sale, misalnya. Bahagia luar biasa tuh!

    Ini beda lho dengan penampilan rapi. Rambut disisir abis keramas, pakai baju sesuai situasi, pakai deodoran kalau bau badan balapan sama pasar ikan, itu sih bukan dandan, melainkan menghormati diri sendiri dan orang lain. Gak cuma cewe sih yang wajib melakukannya. Dulu aku bisa pundung kalo kencan sama Mas Ibnu, dan dia pakai kaus bolong-bolong. Alhamdulillaah setelah nikah, dia bisa membedakan baju yang pas buat kerja, baju yang enak buat tidur, dan keset.

    Disukai oleh 1 orang

    1. komentar yang sungguh laaaarbyasak! betul untuk cantik paripurna kudu muncul dari “dalem”. kalau memang tampak wajah agak memprihatinkan ya ndak perlu dipaksa. cukup tonjolkan yang lain.. hoho.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s