USTADZ WADUD Bagian-1

Subhaanal ladzi khalaqal azwaaja kullahaa mim maa tumbitul ardhu wa min anfusihim wa mim maa laa yalamun (Yaasin (36):36). Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka, maupun dari apa yang mereka tidak ketahui.

Itulah surat penghabisan yang dibacakan Ustadz Wadud pada pengajian terakhir sebelum beliau meninggal dunia dua tahun lalu. Kini tidak satupun umat yang sudi membicarakan perihal Sang Ustadz di Jatinom. Berita meninggalnya Ustadz Wadud tersiar dari Boyolali, Jatinom, Kembang Sari, sampai kota Salatiga. Berita ini berkembang dan berkurang sesuai penuturnya, namun yang pasti sang Ustadz meninggal dalam rajam pada tahun 1998. Hukuman kuno yang melibatkan sejumlah massa dengan melemparkan batu pada terdakwa hingga menemui ajalnya. Kamilah saksinya.

GOJALI

Kini kami kisahkan sang Ustadz. Beliau lahir di Kotacane, Aceh Tenggara tiga puluh dua tahun silam. Terlahir dengan nama Gojali, gelar Wadud didapatkannya setelah mengenyam enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sanawiyah, dan lima kali menuntut ilmu religi di pondok pesantren yang berbeda. Kiranya pendidikan agami inilah yang begitu besar mengukir jiwa beliau, betapa wajahnya bercahaya memancarkan kebijakan. Menurut pak Rahmat yang membawa Gojali ke Jatinom lima tahun lalu, beliau sedari kecil memiliki kecerdasan yang cemerlang, kebetulan ayah Gojali ini kenal dekat dengan pak Rahmat. Tidak salah kalau keluarga Yamin yang sejak Aisyah, Ibu  Gojali, meninggal dunia mencintainya setara putra mereka sendiri. Ia nantinya menjadi putra sulung keluarga Yamin setelah Gatot sang ayah menyerahkannya dalam asuhan keluarga Yamin diperantarai pak Rahmat. Air muka beliau yang tenang dan kemampuannya dalam memahami Islam menjadikannya layak dihormati.

Gojali muda mengenal timangan bunda hanya sebentar, sebelum ia dikirim ke sekolah pengajian Al-Quran di Lhokseumawe. Dari sana Gojali malang melintang dari ponpes satu ke ponpes lainnya. Kabarnya beliau pernah mengalami masa pendidikan di Islamabad, tapi kabar ini belum terang betul kesahihannya. Sekembalinya ia ke Aceh dari Pakistan itulah gelar Wadud mulai diperkenalkan. Awalnya hanya ayah, kemudian saudara-saudara, akhirnya siapapun yang mengenalnya lupa kalau ia bernama Gojali. Padahal kedua nama itu memiliki arti yang sama mulia.

image
Sumber: Google

Al-Wadud merupakan nama Tuhan, satu dari sederet Asmaul Husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Artinya Maha pencinta. Tapi nama ini pulalah yang kelak mematikan jalannya di dunia. Atas nama cinta ia harus kembali pada sang Khalik begitu cepatnya. Warga Jatinom tahu betul kenapa Wadud berpulang, mereka yang mengirim beliau menghadap Tuhannya, atas nama cinta. Atas nama cinta.

Pak Rahmat di hari ketika ia mengenalkannya pada kami berkata kalau Wadud ini harus dipindahkan dari tanah rencong ke Jawa. Beliau hanya berpesan untuk merawat Wadud sebaik mungkin, segala kebaikkan yang ia bawa dan segala keburukan yang ia perbuat sepenuhnya tanggung jawab pak Rahmat, sedangkan keluarga Yamin hanya jadi penjamin pendidikannya saja. Di mana Gatot, ayah kandungnya? tidak satupun dari kami yang paham betul. Yang kami tahu, Ibunya meninggal tahun 1970. Wadud masih berumur 2 tahun kala itu. Pak Rahmat adalah ayah angkatnya, dan keluarga Yamin adalah orangtua angkat Ustadz Wadud.

Kami sering mendapatinya mengaji di langgar dekat kali Juren. Tahajudpun ia kerjakan di langgar itu. Kami menjulukkinya sebagai penunggu langgar Juren, atau kasarnya demit Juren. Ia hanya tersenyum kalau kami teriaki demit Juren! sebagai ucapan salam kala berpapasan di tengah jalan. Minggu demi minggu perempuan-perempuan pinggir kali Juren membludak mendengarkan alunan ayat-ayat Al-Quran yang ia lantunkan. Mereka berkelompok membentuk suatu majelis pengajian yang secara bergiliran menyesaki langgar tiap pukul lima sore, sebelum waktu maghrib tiba.

Alasannya gampang, Wadud ganteng, setidaknya ini yang selalu dielu-elukan Warti pada teman-temannya di kampung seberang. Tidak lama, Kali Juren sudah menjadi pusat pengajian di Kecamatan Jatinom. Tidak mau kalah dengan kaum hawa yang giat mengaji. Pemuda dan bapak-bapak Jatinom juga membentuk majelis serupa di mesjid Agung Jatinom. Namanya mesjid pastilah lebih besar ukurannya, lebih banyak pula manusia yang mampu ditampung di dalamnya. Tak ayal Wadud berubah menjadi Usatdz sejak diundang memimpin pengajian di majelis ini.

Adalah Danang, anak Pak Prapto asal desa Sribit, suatu hari menghadiri majelis pengajian di mesjid Agung Jatinom atas undangan Warti sepupunya. Danang yang baru saja lulus SMA penasaran, kenapa perempuan-perempuan seperti sepupunya itu gandrung betul dengan sang Ustadz. Oleh karena itu, ia jauh-jauh bermotor dari Sribit ke Mesjid Agung demi menyembuhkan penasarannya. Lepas Maghrib, Danang bersama pemuda-pemuda lain duduk melingkar beralaskan karpet hijau dengan poros elips menghadap Ustadz Wadud. Warti dan kerumunan perempuan kampung berada tidak jauh dari situ, mengawasi dari duduknya, kadang mereka tergelitik saat Ustadz Wadud berseloroh tentang kebodohan yang dilakukannya sewaktu kecil, kadang mereka tertegun khusyu mendengarkan alunan Al-Baqarah yang indah bukan kepayang.

Kemahiran bercerita inilah yang memikat segenap warga Jatinom. Ustadz sekaligus pendongeng bagi mereka teramat langka, terlebih seseorang yang imbang antara ilmu agama dan selera humornya. Yu Darmi, janda paruh baya yang suka hura-hura itu bahkan sudi menginjakkan kakinya di Mesjid. Singkat cerita, Ustadz Wadud adalah angin segar di semerata Jatinom saat itu.

Dua tahun tak terasa berlalu dengan cepatnya, kini Wadud punya Fans Club. Juren Demiters. Tahu sendiri siapa pendirinya, Warti. Diam-diam anggotanya mencapai ribuan orang, perempuan-laki, tua-muda, termasuk Danang dan Yu Darmi, secara tidak sengaja menjadi anggota fans club tadi karena seringnya muncul di Mesjid.

Sebagai penyiar kabar keberadaan si ganteng Wadud di Jatinom, Warti merasa jasa-jasanya itu menempatkan dia diatas semua perempuan lain. Ia merasa Wadud adalah miliknya, sekarang dan kelak saat sang Ustadz memperistrinya. Di tengah-tengah usaha Warti menembaki Wadud dengan panah cinta, Yu Darmi maju-jumawa ke tengah gelanggang dengan dalih ia lebih berpengalaman. Serta-merta Warti dan Yu Darmi menjadi dua kutub yang saling menghunus senjata pamungkas.

Pernah suatu hari di pasar wetan, Yu Darmi berhampiran dengan Warti. Tanpa basa-basi, Yu Darmi mengambil terong dan menghantamkannya persis di muka Warti. Tidak mungkin Warti muda yang lincah itu diam saja, ia meradang dan membalas Yu Darmi dengan tendangan keras di perut. Yu Darmi tersungkur penuh kotoran di lantai pasar yang becek. Tidak disangka-sangka wanita bernama Darmi itu sudah siap celurit di tas belanjanya, dengan sigap pula ia bangkit dari Lumpur dan menghujani Warti sabetan-sabetan maut. Satu-dua hujaman celurit Yu Darmi bisa dihindari, tapi saat Warti jatuh diatas ember ikan emas, tubuhnya tersangkut dan Yu Darmi mampu melukai kaki kiri Warti. Perempuan Jatinom bukan perempuan lembek biasa, kini balik Warti menancapkan sebilah bambu penyangga warung di pundak Yu Darmi. Keduanya roboh kesakitan. Sebelum ada nyawa melayang, keduanya dipisahkan warga, tapi siapa bilang mereka sudah selesai bertarung. Tidak ada senjata, mulutpun jadi. Sumpah serapah silih berganti meramaikan suasana pasar.

Sejak saat itu, Ustadz Wadud diminta warga kampung untuk segera beristri. Kekacauan serupa bukan tidak mungkin terjadi lagi dengan tingkat kehancuran yang lebih dahsyat.

Pak Rahmat hanya punya seorang anak perempuan bernama Yuni yang sudah memiliki suami dan dua anak. Dari keluarga Yamin, punya satu anak laki-laki, masih kecil. Diantara ketidakmungkinan menjalin persaudaraan dengan kedua orangtua angkatnya, Usatdz Wadud memilih diam dan pindah sementara ke Sribit.

Danang dan keluarganya dengan senang hati memberikan satu kamarnya untuk Wadud. Sribit berubah menjadi sebuah desa tempat Ustadz Wadud bertafakur, siapa yang akan diperistrinya. Kandidat yang ada, tiba-tiba saja menyusut menjadi hanya dua, Warti atau Yu Darmi. Yang lain merasa rendah diri, tidak berani tampil diantara dua perempuan kuasa itu.

Wadud yang tertutup agaknya merasa sedikit terdesak dan butuh suatu pertimbangan. Kedua orangtua angkatnya menyerahkan sepenuhnya keputusan pelik itu pada Wadud, mereka memilih jalan demikian karena menganggap Wadud sudah cukup bijak memilih-memilah mana manfaat mana mudharat. Di lain pihak, Warti dan Yu Darmi, sudah siap sedia menjadi nyonya Wadud. Sang Ustadz yang gundah itu terpaksa berkeluh-kesah dengan seorang anak berumur 19 tahun bernama Danang. Danang, walau belia punya hati cukup luas untuk menampung cerita Ustadznya.

Atas saran Danang itulah Wadud memilih Warti sebagai istri. Keputusan yang diambil diatas gundah dengan pertimbangan seorang anak muda yang belum cukup pengalaman. Kami sadar, putusan Ustadz Wadud ini tidak lebih baik dari kejadian-kejadian berikutnya. Agaknya inilah tonggak kemerosotan pamor sang Ustadz kelak.

Yu Darmi, pulang sebagai pecundang. Ia hanya bisa diam, keputusan sudah jelas, Wadud memilih Warti ketimbang dirinya. Kemudian Darmi bersumpah, suatu saat Ustadz Wadud pasti akan ditelentangkan diatas ranjangnya, sumpah pastu yang nantinya terbukti terbalik.

(bersambung: Menikah)

Iklan

7 thoughts on “USTADZ WADUD Bagian-1

  1. Ping-balik: LINIMASAKami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s