Kau Jari-Jemari Yang Mencekik Bidadari Pagi *

BANGUN!

Bangun! Matahari yang kaupuja, kemarin gemilang

dan burung-burung berkibar bagai daunan

di depan jendelamu kau jenguk pagi, mawar mengembang

sebelum kembali kucium jejak musim hujan

[ Abdul Hadi W.M 1977]

Pagi ini saya bangun kesiangan dan semalam saya ketiduran dengan penuh perasaan bersalah saat terjaga. Pasalnya hanya satu: saya janjian dengan Farah Dompas yang sedang mengurus kepulangannya di Konjen Toronto. Nah, mumpung dia sedang ngota, Saya pesan sesuatu dan saat dirinya di toko tersebut saya malah tidur. Tidak dalam keadaan daring. Iya. Saya offline. Padahal janjinya saat di toko dia akan ambil gambar barang terebut, dan saya memilih. Pastinya dia cemas. Posisi saat itu pukul sebelas malam. Saya baru buka gawai pada posisi jam satu pagi. Saat saya hubungi via WhatsApp dia sedang makan siang. Hahahaha. Maaf ya Fa.

Itu pun saya bangun karena ada notifikasi di path dari Saudara Irfan Toni H, yang ngetag soal Banksy.

katanya: “Mz Roy, sudah baca ini Mz?”

Terima kasih Mz Tonton. Saya belum baca, dan jika berkenan hambok saya dipinjemin.

Baiklah, karena ini adalah hari dimana saya jadual piket menulis, maka saya akan menulis soal seputaran media sosial, karya seni, dan tentu saja: puisi. Boleh kita mulai?


Perang Suci Kita Adalah Olah Seni

Persetan dengan gambar Ketua KPK, Abraham Samad yang menikmati asmarandananya dengan Putri Indonesia, atau Budi Gunawan dengan rekening tambunnya. Setidaknya “tambun”, bagian dari wilayah Bekasi menjadi buah bibir dan hangat kembali. Tidak! Saya ndak mau bicara soal itu. Perang antara eksistensi KPK dan Polisi, Cicak Buaya, sudah lewat masanya. Biarin aja mereka berperang sendiri.

Saya lebih percaya bahwa foto itu adalah rekayasa semua. Hanya sebagian dari karya Agan Harahap. Hahaha.

Kita bicarakan saja soal lain yang lebih berbudaya. Ini soal seni. Soal olah rasa, jiwa dan olah pekerti.

Beberapa waktu yang lalu komik absurd ala Prengki banyak menghiasi linimasa. Kami telah mewawancarai dirinya di artikel ini.  Silakan Anda baca dengan seksama wawancara saya dengan anak mahasiswa yang belum kelar-kelar juga itu. Sebagai petunjuk, Prengki adalah tokoh komik tiga panel karya Ncek.

Mari kita bicara kekinian.  Bagi yang antusias dengan media sosial, maka tak asing lagi dengan beberapa deret gambar berikut ini.

 

Dibuat oleh Putu Aditya Nugraha (@commaditya), dan meluas hingga ke pelosok gawai. Resah, punya kaitan dan tertohok. Karena kamus menurut dirinya adalah kamus pengalaman hati. Risalah yang diejawantahkan dalam gambar lanskap nuansa instagram dan dibubuhi kata-kata yang relevan. Kekuatannya ada pada konteks. Iya. Begitu kontekstual. MetroTV menangkap tren ini. Adit telah diwawancarai media layar kaca. Oleh karena itu, linimasa urungkan rencana untuk ngobrol banyak dengannya.

Media sosial semakin mendapat tempat di hati pengguna karena kedekatannya dengan realitas sosial. Meme, suatu bentuk karya yang mudah disebarluaskan. Ringkas, efektif, efisien, dan pas.

Negeri kita kaya akan orang kreatif. Karena seperti apa yang disebut oleh Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki pada 6 April 1977, bahwa salah satu ciri masyarakat Indonesia adalah menyukai seni. Artistik. Ini adalah satu-satunya ciri anak Indonesia yang positif di antara enam sifat. Lainnya, menurut Mochtar adalah: (1) munafik, (2) enggan bertanggung jawab, (3) feodal, (4) percaya tahayul, dan (5) boros.

Artistik. Ini yang menolong kita. Budaya unggul yang layak dipertahankan.

Seni bersifat universal, namun identik dengan selera lokal. Ini sama seperti Banksy yang mendapat tempat di dunia barat. Bisa jadi kita pun menyukainya. Gaya yang disajikan agak berbeda, namun soal rasa dan nilai, sudah selayaknya sama.

Dalam filem dokumenter dengan judul Exit Through The Gift Shop (2010) Banksy begitu dikagumi oleh seorang Thierry Guetta, seorang imigran Prancis yang tinggal di Los Angeles. Namun pada akhirnya Banksy kecewa, karena seni jalanan disalahartikan oleh Thierry menjadi sebuah komoditi. Banksy kecewa. Banksy sakit hati. Tetapi mereka tetap bersahabat. Ya, radikal itu menjual. Karya jalanan saat ini banyak yang terpeleset di meja Southeby’s dan Christie’s.

Menurut Joseph Heat, pengajar filsafat di University of Toronto,  dan Andrew Potter, pengajar filsafat pada Universite’ du Quebec a Montreal, dalam bukunya The Rebel Sell (2004), yang telah diterjemahkan oleh penerbit Antipasti dengan judul: “Radikal itu Menjual” (2009), bahwa ada kegamangan akut diantara individu masa kini. Budaya perlawanan atau budaya pemasaran. Pejuang itu harus radikal. Namun radikal macam apa? Mengapa yang radikal malah menjadi obyek dari pasar?

Masih ingat bagaimana muka Che Guevara bisa diposisikan dimana saja. Dari tato di atas vagina hingga tembok balai desa di kampung Janeponto, Sulawesi Selatan sana. Dari sablonan di atas topi ala Andrea Hirata hingga kaos abang-abang di pasar senggol.

che_guevara_by_bpeciko666-d7so895

Terlepas dari soal jebakan ekonomi, tapi setidaknya perang kreatif lebih menarik untuk diikuti. Tentunya Anda tahu juga bagaimana perang meme antara Om Leo dan The Popoh, atau Made Indar dan Rendy Imandita.


Dahulu kita mengenal Perang Sastra. Polemik Kebudayaan yang digaungkan antara pokok pikian St. Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Dr. Poerbatjaraka, Dr. Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, Dr. M. Amir dan Ki Hajar Dewantara. Berterima kasihlah dengan mereka dan kepada Achdiat K. Mihardja yang susah payah mengumpulkan “perang kata-kata” ini dan terbit menjadi buku dengan judul Polemik Kebudayaan (Pustaka Jaya, 1948).

Zaman berubah. Perang meme pun tak apa. Toh ada nilai yang saling dipertaruhkan. Siapa lebih unggul. Siapa lebih kreatif. Dalam tataran media, kita sekarang semarak dengan media alternatif yang oke punya. Ada MidJournal, ada Mojok.co, dan tentu saja Linimasa. Kita berperang dalam kebahagiaan. Menciptakan sesuatu yang bisa jadi berarti bagi orang lain. Semoga.

Atau malah kita beraliansi menjadi media yang bukan media. Media dengan “suara lain”.


Dunia kreatif, Dunia tanpa batas.

Dalam dunia ilustrasi, saya begitu menyukai Pascal Campion. Gambarnya gilak! Bicara soal fragmen hidup bahwa bahagia itu ndak mesti dari pencapaian besar. Menikmati alam, menghabiskan waktu dengan teman, pacar, adalah bahagia yang secukupnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bagi Pascal, momen adalah anugerah yang selalu saja patut diabadikan. Sudut pandang soal aktivitas manusianya begitu mumpuni. Penggalan gambar bagaimana salju turun, memancing bersama ayah, bertukar cerita dalam dekapan api unggun, dan aktivitas hangat lainnya. Iya, Pascal lebih mengakar dalam aktivitas dan situasi dunia barat. Namun sama halnya dengan karya Banksy yang universal, soal seni adalah soal manusiawi. Soal kehangatan nilai-nilai. Sesuatu yang patut dihargai. Juga dijunjung tinggi.

Pascal Campion menerbitkan bukunya melalui crowdfunding KickStarter dengan judul 3000 moments. Di Indonesia, wadah pencarian dana semacam ini yang saya kenal adalah wujudkan.

Dunia kreatif yang saya sukai tidak melulu kemampuan melukis. Ada karya fotografi yang sederhana namun unggul dalam teknik dan konsep. Saya lupa namanya, namun ini karya-karyanya. Dia berani menampilkan wajah yang sudah dikenal, namun dengan tampilan yang eksentrik. Sederhana namun kaya.

Menarik bukan?


 

Baiklah. Mari kita bicarakan lebih agak serius. Apakah dunia kreatif dekat dengan dunia seni? Dan apakah seni harus menjadi bagian dari realitas sosial?

Boleh jadi kreativitas adalah bagian dari upaya revolusioner. Juga boleh sebatas reaksioner. Tapi apakah iya seni kreatif harus ada hubungannya dengan dunia sekitar?

Dalam dunia sastra, kita mengenal Sastra terlibat atau  commited literature. Sartre sebetulnya pernah menulis soal ini. Dia menamakannya menjadi “literature engage“.  Silakan Anda googling. Tapi, jujur saja,  agak membingungkan. Bukan saja saya, tapi juga menurut Octavio Paz, peraih Nobel Sastra 1990, seorang Dubes Mexico untuk India yang lebih dikenal sebagai penyair.

Dalam esainya, Octavio bicara suara lain. Bicara karya seni. karya sastra. Bicara ancaman dunia kreatif.

Perang seni adalah antara seni dengan ekonomi?

Menurutnya, kesenian tidak terancam oleh suatu doktrin atau partai politik melainkan suatu bahaya yang jauh beda dari zaman perang dingin lampau. Bahaya ini jauh lebih besar karena tidak berwajah, tidak berjiwa, dan tidak berdarah. Namanya proses ekonomi pasar yang sirkuler, impersonal, tidak fleksibel, dan tertanam.

Karena pasar itu buta sekaligus bisu. Sensor panca inderanya tidak bersifat ideologis, tidak menyukai gagasan dan bahkan tidak memiliki wawasan. Makhluk yang begitu paham dan mengenal harga-harga– namun tidak mengenal tentang …. nilai-nilai.

Dunia kreatif mustahil menentang makhluk ini. Begitu brutal, beringas, dan memang sejatinya sulit untuk menolak rayuan ekonomi pasar: keuntungan-keuntungan. Maka dari itu, ketika sosialis totaliter makin meringkus diri, dan mundur perlahan, maka ada jalan lain yang harus ditempuh yaitu menciptakan perjalanan yang lebih elegan, manusiawi dan bermartabat dalam nuansa ekonomi liberal kapitalis.

Bisa?

Jawabannya sih bisa-bisa saja. Dengan alat demokrasi yang diwujudkan secara murni dan konsekwen. Masa dimana yang gagah bukan lagi teriak revolusi, tapi penemuan kembali dan menggali kembali soal kebaikan masa lalu. Renaisans. Bisa jadi terjebak nostalgia. Bicara keindahan yang lama. Bisa jadi usang. Mendambakan kembali masa lalu yang gilang gemilang. Masa kristiani yang gemilang. Masa peradaban islam yang gemilang, walaupun faktanya tidak segemilang apa yang dibayangkan dan terus dicita-citakan.

Dunia seni – dunia kreatif negara dunia ketiga sebetulnya adalah soal jalan alternatif dari masa-masa penindasan. Para pembuat karya mencari jendela yang dapat dipanjat. Mencari genteng yang dapat diterobos. Mendobrak tirani, oligarki, dan intelektual picik yang mengedepankan kepentingan pribadi.

Para pelaku seni bertapa di sudut bar. Bercocok tanam di trotoar jalan.  Meracik mesiu sembari membaca buku. Orang-orang kreatif yang hidup di alam sekitar. Tidak menyendiri di dekat Kabah, atau merenungi nasib di puncak Rinjani.

Dunia saat ini adalah dunia yang belum pernah ada sebelumnya. Fanatisme bahkan makin subur. Teknologi berkembang begitu pesat. Sensitivitas kemanusiaan juga semakin tinggi. Toleransi di satu pihak makin baik, namun di sisi lain, juga semakin menipis. Dunia yang begitu rapuh namun menggugah selera. Charlie Hebdo, sebagai contohnya.

Dimanakah peran seni?

Sama halnya puisi bagi Octavio Paz. Seni meme, ilustrasi media sosial, atau misalnya muatan dalam 9Gag, adalah suara lain. Suara yang tidak muncul dari hegemoni sebuah dominasi budaya. Suara-suara individu yang menyukai kebebasan, persamaan dan persaudaraan.

Ya. Liberty, equality dan fraternity adalah corak demokrasi. Kunci utamanya adalah pada kata fraternity. Bagaimana mungkin bebas sebebas-bebasnya. Dengan keinginan individu yang sedemikian besar, jika diselaraskan dengan perihal equality. Persamaan. Bebas mengapa harus sama? Apakah ini perkara contradictio in terminis?

Seharusnya tidak. Persaudaraan. Inilah kuncinya. Kebebasan dan persamaan akan akur jika dihubungkan dengan sebuah jembatan persaudaraan. Kesamaan visi. Satu cita-cita. Kedepankan toleransi. Nexus antara liberty dan equality. Persaudaraan. Solidaritas.

Bukankah Romawi kuno begitu mengagungkan kata charity dan pada akhirnya disempurnakan menjadi Kristiani.  Charity, sikap kedermawanan. Sikap mulia dengan kemurahan hati.

Seni yang bertemu realitas bahwa jalan baru yang dapat ditempuh adalah jalan dimana secara sederhana kita tetap rendah hati dan jelas, dalam mengarungi kehidupan dengan sikap hidup benar dan bermartabat.

Seni menyederhanakan hati. Kreativitas mencegah kita menjadi beringas.

Seni, sama halnya puisi berdiri di tengah antara revolusi dan agama. Suara lain yang sayup-sayup dibaca dan diperbincangkan. Ada namun tiada. Seperti elemen air saat membangun dinding. Tanpa bekas ketika telah berdiri kokoh.

Seni, hanya dapat didengar dengan hati dan dilihat dengan pikiran jernih.


Kepada Minoritas Tak Terpermanai

Juan Ramon Jimenez menulis buku dengan judul “Kepada Minoritas yang Tak Terpermanai”.

Ini soal ukuran dalam dimensi lain. Minoritas adalah soal hitung-menghitung namun sulit dipastikan berapa jumlahnya. Yang jelas, dalam sebuah himpunan maka minoritas berarti paling sedikit.

Tak terpermanai. Ini berarti tak berhingga. Maka memang demikianlah lawan kata dari yang dapat ditentukan. Maka soal seni, soal pusi, soal nilai yang diusung, bisa jadi diminati dan disukai hanya oleh sedikit orang. Oleh kaum minoritas. Namun ia tak terpermanai. kesukaan, kegilaan, fanatisme, dan daya gugahnya tak terpermanai. Sedikit namun radikal. Kecil tapi cabe rawit. Asal jangan bergaul dengan cabe yang kalau naik motor sukanya bonceng tiga.

Dunia kreatif ndak perlu kuatir dengan peminat yang tak kolosal. Karena seni, walaupun harus diterima masyarakat agar dapat dianggap menyumbang peradaban, namun tak perlu memusingkan jumlah penikmat.

Diam-diam, dalam solitude sebagian orang mengagumi sebuah karya. Pembaca yang tak kasat mata. Bahkan pembuat karya pun rela tak kasat mata. Melempar gagasan secara gratis, tanpa nama, dengan anonimitas, tanpa syarat.

Media sosial sangat memungkinkan tumbuhnya gejala ini. Hubungan transpersonal. Individu dengan individu lainnya yang membangun jejaring hakikatnya tak terlihat namun nyata. Efeknya pun luar biasa. Saling memengaruhi satu dengan lainnya. menciptakan gagasan bersama. Bisa jadi, tanpa perlu dikomando, mereka memiliki cita-cita yang sama.

Untuk menjadi manusia seutuhnya.

Sebagai pengakhir tulisan, sebuah bait lagi dari puisi Abdul Hadi, Madura, 1967:

dari perjalanan ini

aku membawa timbun puisi

bahwa aku selalu asyik mencari

keteduhan mimpi

Salam hangat, Roy

 

 

 

*) dari lirik lagu Pelawak Sekarang Lestari Mendatang, The Marsh Kids. 2014. Jika judul dan isi berbeda, jangan marah. itu seni!

Iklan

6 thoughts on “Kau Jari-Jemari Yang Mencekik Bidadari Pagi *

  1. “Ada namun tiada. Seperti elemen air saat membangun dinding. Tanpa bekas ketika telah berdiri kokoh.”

    Oke, saya daftar jadi pengagum kesekian tulisan-tulisan Roy Sayur. Selalu kesengsem baca linimasa edisi Sabtu.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s