Pertemanan

Sudah pernah menonton film berjudul Stand By Me (1986)?
Bukan, ini bukan film mengenai kucing ajaib dari Jepang, meskipun berjudul sama. Film ini diangkat dari novelet karya Stephen King, “The Body”, yang berkisah tentang empat orang anak berusia 12-13 tahun di tahun 1959.

Mereka mengawali liburan musim panas sebelum masuk SMP dengan mencari mayat teman mereka yang diberitakan hilang. Penasaran dengan berita di radio dan hasil dari mencuri dengar omongan orang-orang yang lebih tua di sekitar rumah, mereka pun bergegas menelusuri jejak perjalanan orang hilang ini.

Film pun bergerak menjadi film road trip. Mereka berjalan kaki sepanjang hari dalam masa satu akhir pekan, mendirikan tenda untuk tidur, terkena lintah di sekujur badan, dan saling menangis saat bercerita tentang kerasnya tempaan orang tua masing-masing.

Semua itu dihadirkan secara singkat, hanya dalam waktu 88 menit. Namun hampir 30 tahun kemudian, menonton film ini masih meninggalkan rasa haru. Entah sudah berapa kali saya menonton film ini. Mungkin sekitar 5 kali dalam 10 tahun terakhir. Dan setiap menonton selalu tersenyum.

Stand By Me
Stand By Me

Ini adalah satu dari sedikit film dari dekade 1980-an yang penuturan berceritanya sempurna, yang sering dijadikan contoh acuan film dengan penulisan naskah yang baik dan efektif. Film Stand By Me juga sering direferensikan sebagai film yang mengangkat tema coming-of-age atau akil baligh remaja pria, dan tentunya persahabatan.
Jarang sekali memang sebuah film dapat memperlihatkan persahabatan secara nyata dengan sempurna. The Sisterhood of Traveling Pants lebih berkutat dengan kisah masing-masing karakter. Now and Then terasa terlalu ideal, karena pertemanan yang terjadi di masa kecil terasa dipaksakan harus terjadi lagi saat mereka dewasa. Bukannya tidak mungkin. Namun, kenyataannya, sebagian besar pertemanan yang terjadi di masa kecil jarang sekali yang masih terus bertahan sampai di usia dewasa.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan meme di media sosial yang kurang lebih bertuliskan: “if you still befriend your childhood friend, you have not grown up.” Kalau masih berteman dengan teman yang sama, berarti kita tidak berkembang.

Saya sempat protes dalam hati. Tapi tidak lama kemudian, saya malah tersenyum dan membenarkan kalimat itu. Kenapa? Karena kalau ditanya siapa teman TK dan SD saya, jawabnya pun kelabakan. Sudah tidak ingat nama, apalagi wajah. Sempat pindah sekolah, lalu pindah kota. Dan pertemanan pun tidak bisa dipaksakan, apalagi mati-matian dipertahankan.

Stand By Me
Stand By Me

Mungkin ada yang dulu selalu bersama-sama jalan ke mall, dan berfoto di photo box yang mengeluarkan foto sticker, tapi sekarang terpisahkan oleh tugas rumah tangga sebagai ibu, ada juga yang bekerja di luar negeri, atau ada yang jadi anggota ormas agama garis keras. Ada juga yang dulu teman main basket, sekarang terpisah karena satu lebih nyaman di lingkungan teman-teman dengan orientasi seksual yang sama, sementara yang lain mati-matian meniti karir menjadi politisi. Teman yang dikenalkan pacar pun bisa menjadi teman kita meskipun pacaran sudah berakhir, atau teman kita bisa jadi teman mantan pacar. Terdengar ribet? Nggak kok. Kalau dijalani begitu saja, tidak akan pernah terasa.

Tidak ada yang tahu kapan pertemanan berakhir menjadi “sekedar kenalan”, atau pernah kenal. Dan tidak ada yang tahu juga kalau bisa saja yang terjadi malah sebaliknya.

Pertemanan tak lebih dari menghargai momen yang sedang berjalan. Kita tidak pernah akan mengingat berapa lama kita berteman dengan si A atau si B. Yang akan kita selalu ingat adalah apa saja yang pernah kita jalani dengan mereka, dan apa yang kita rasakan saat itu.

Mengutip kalimat terakhir di film Stand By Me:

I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?

Iklan

11 thoughts on “Pertemanan

  1. Jadi pengen nonton lagi film ini… Huhuhu, Nauval… baca tulisan ini jadi mellow…. Inget temen2ku yang udah temenan dari jaman SMA, terus berteman sampe kita kuliah, kerja, nikah, punya anak… Tapi semakin lama intensitas bertemu semakin berkurang, ngobrol online pun semakin jarang, karena ya itu tadi, tinggalnya udah pada beda pulau sampe beda negara, udah ada yang semakin sibuk dengan karir, semakin sibuk dengan anak, cara berpikir pun semakin beda… Belum ada yang jadi anggota ormas agama garis keras sih, haha. Once we made a pledge, “friends ’till the end!” But, are we still considered friends now, since we only meet once in a blue moon? Hiks… thinking of them and wishing them well

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s