Begitu Besar Rasa Cintanya Padaku Hingga Cintanya Cukup Untuk Rela Melepaskanku

Bila Anda ingin tahu posisi Anda di sisi Tuhan, lihatlah dimana posisi Tuhan di hati Anda. [ Imam Ja’far ash-Shadiq]

Ja’far ash-Shadiq (Bahasa Arab: جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, menurut wikipedia adalah Imam ke-6 dalam tradisi Islam Syi’ah. Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M.  Ja’far yang juga dikenal dengan julukan Abu Abdillah dimakamkan di Pekuburan Baqi’, Madinah. Ia merupakan ahli ilmu agama dan ahli hukum Islam (fiqih). Aturan-aturan yang dikeluarkannya menjadi dasar utama bagi mazhab Ja’fari atau Dua Belas Imam; ia pun dihormati dan menjadi guru bagi kalangan Sunni karena riwayat yang menyatakan bahwa ia menjadi guru bagi Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki). Perbedaan tentang siapa yang menjadi Imam setelahnya menjadikan mazhab Ismailiyah berbeda pandangan dengan mazhab Dua Belas Imam. [sumber]

Imam. Pemimpin. Doa. Agama. Tuhan. Hidup.  Apakah hidup kita melulu soal ini?

Ya! Menurut filem yang dibuat Rajkumar Hirani, PK, hidup manusia telah terjebak pada persoalan ini.

JEBAKAN?

Filem ini adalah filem hiburan. Tapi gagal untuk menjadi penghibur. Filem ini lebih mirip  khotbah jumat dengan cara lain. Filem ini adalah materi sekolah minggu dalam bentuk lain. Filem ini adalah filem sialan, bangsat, patut dihujat bagi sebagian yang lain. Provokatif, intimidatif, dan subversif. Ndak tanggung-tanggung, yang digugat adalah Tuhan. Bagi sebagian orang, ini adalah filem masturbatif. Begitu menyenangkan logika keimanan. Juga perwujudan dari pelajaran tentang kesalihan. Bicara Kesalihan sosial, tapi.

Tuhan menghilang! Begitu tulisan dalam poster yang ditempel dan dibagikan Tipsy, tokoh utama filem ini.

Dikisahkan Tipsy, pemuda planet lain mendarat di daerah tandus India, Rajashtan.  Hanya ada padang kering kerontang yang dibelah rel kereta. Pesawatnya gunakan kelambu awan. Semacam “Flying Nimbus” (筋斗雲), Kinto’un;  awan milik Guru Roshi yang dihadiahkan pada Goku, sebagai balas jasa menyelamatkan kura-kuranya dalam komik Dragon Ball. Tipsy mendarat dengan tanpa sehelai benangpun, kecuali satu benda: remote control. Bentuknya  seperti mustika kebiru-biruan. Kelap-kelip. Indah dan menarik perhatian. Dengan gawai yang dikalungkannya itu, dia mengendalikan pesawat antariksanya. Sekali usap, pesawatnya terbang. Sekali usap, pesawatnya menghilang, bersembunyi ke atas langit.

Celaka! Belum lama mendarat, kalungnya direbut berandalan tua. Saat akan merebutnya kembali, berandalan itu menaburkan pasir dan berhasil kabur naik gerbong terakhir yang kebetulan melintasi padang. Tipsy hanya berhasil merebut radio  transistor tua milik berandalan. Sejak saat itulah petualangannya dimulai.

Tanpa remote itu, dirinya ndak bisa pulang.

Alurnya jelas. Gurauannya pun cerdas. Bagaimana Tipsy memperoleh pakaian. Gampang. Dia ambil dari “mobil goyang”. Melalui pakaian pun filem ini berhasil mengejek strata sosial. Logika kemanusiaan yang mulai diejek pelan-pelan.

Dari pakaian yang dia ambil dari mobil goyang, banyak uang yang ada dalam dompet. Sebagai yang liyan dia sibuk mengamati. Saat di pasar dia lihat orang lain menukar kertas bergambar dengan makanan. Diikuti apa yang dilakukan orang-orang. Dia ambil kertas itu. Selembar uang bergambar Mahatma Gandhi. Lantas ia berikan pada penjual ubi. Berhasil. Namun yang ada dalam pikirannya adalah gambar itu yang mujarab. Maka seluruh benda dengan  wajah Gandhi ia copot dari dinding. Stiker, poster, surat kabar, dan apapun. Ditukarkannya kertas itu pada penjual. Tentu saja ia dicuekkin. Namun saat uang itu dikeluarkan, penjual paham. Tipsy juga mulai paham bahwa hanya gambar Gandhi dalam selembar kertas kecil bernama uang saja, laparnya bisa hilang.

Tunggu dulu. Belum berhenti sampai disitu. Suatu ketika ia mengenakan seragam polisi hasil mencuri dari mobil goyang yang lain. Ada yang lebih ampuh dari uang! Saat ia kenakan seragam itu dan berjlan di pasar, tanpa mengeluarkan uang, para penjual di pasar datang sendiri menghampiri dia dengan membawa sebungkus makanan.

Datangi, lalu berikan uang, lapar hilang. Dengan seragam polisi, diam saja pun lapar hilang. Makanan datang sendiri.

Filem ini adalah parodi kehidupan. Dengan latar belakang prikehidupan sosial budaya negeri India.

Dalam usaha mencari remote-nya yang hilang dia tertimpa musibah, namun menjadi berkah. Perkenalannya dengan si Penabrak, membuatnya ia berhasil memahami bahasa manusia. Suatu malam, diantarkannya ia ke komplek pelacuran. Ya. Dia tidak bercinta seperti dalam mobil goyang yang ia saksikan. Dia hanya ingin genggam tangan salah satu wanita untuk unduh sistem bahasa. Selama enam jam, di atas dipan berkelambu, ia genggam tangan perempuan itu. Setelahnya, ia lancar berbahasa India. Aca..aca..aca..

Diceritakanlah masalahnya pada Penabrak. Diberi petunjuk ia. Pergilah ke Kota Delhi, karena di kota itu kereta yang mengangkut pencuri remote control menuju. 

Dalam perjalannya, kisah inti dari filem ini bermula. Dalam perjalanan ia sibuk bertanya kemana remote-nya berada. Pertanyaan tak jelas membuat semua orang menduga ia mabuk. Nama Tipsy pun disematkan padanya. Ketika dia bertanya pada orang-orang  di pasar, di jalan, di pos polisi, di sekolahan, di rumah ibadah terkait masalahnya.  jawabannya satu:

“Mengadu saja kepada Tuhan!”

Saat itulah ia pertama kalinya mendengar kata Tuhan. Siapa tuhan, siapa dia. mengapa semuanya mereferensikan Tuhan untuk memecahkan masalahnya. Tuhan apakah orang super yang sanggup memberinya bantuan? Tibalah ia pada sebuah kuil. Atas petunjuk salah satu penjual souvenir ia membeli satu patung tuhan (dewa) sebelum berdoa.

Ia ikuti petunjuknya. Tipsy mulai melakukan percobaan, apakah benar Tuhan itu benar-benar membantunya. Saat berdoa untuk meminta makan, dengan mata terpejam ia khusyuk merapal permintaannya. “Saya lapar Tuhan”.

Kebetulan saat ia duduk di samping fakir. Tangannya diberikan sebungkus makanan oleh penderma. Ia membuka mata. Terbelakak! Kaget! Gembira! Tuhan itu nyata. Seketika diberinya makanan. Kontan saja dia kembali berdoa. meminta remote cotrol-nya. Berdoa. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak juga ada! Tuhan tidak mengabulkan permintaannya. Dia kecewa. Dia protes pada penjual patung dewa. Bukannya mendapat penggantinya, penjual berhasil menjual sesaji lebih mahal lagi. India memang jago nyepik bukan? Dimintanya ia ke kuil agar lebih manjur.

Tetap saja, di depan kuil dia kecewa kembali. Bukannya remote yang diterima tapi sesaji yang telah diberkahi. Dia protes sembari berdesak-desakkan. Dia protes tuhan macam apa yang tidk memberikan bantuan tapi meminta uang sumbangan.

Tipsy tidak menyerah. Dia akhirnya mencoba lagi tanpa berdesak-desakkan. Dibawanya sesaji tersebut dihadapan Tuhan. Dia masuki gereja. Terang saja adegan selanjutnya dapat diterka. Dia dianggap gila. Di sana pendeta membawa anggur. Maka bawalah sebotol anggur esok harinya. Sayangnya saat ia bertanya di mana Tuhan, seorang menunjukkan arah masjid. Adegannya pun sama. Ia dikejar-kejar warga masjid. Tipsy lari membawa botol anggurnya. Beda Tuhan beda selera.

Kejadian demi kejadian menggambarkan soal ini. Bagaimana Tuhan harus didekati dengan beraneka cara. Baik dari pakaian, sesembahan, hingga cara berdoa.  Baginya, Tuhan terlalu ribet. Banyak manajer yang beda selera.  Terkadang saat dekati tuhan harus berjanggut, harus bersorban, harus menghilangkan kumis, harus gunakan cadar. Tapi semuanya sama, Tuhan meminta sumbangan uang.

Tipsy juga menggugat bagaimana Agama bekerja. Tuhan ini benar semestinya, tetapi kenapa jadi sulit. Bagaimana mungkin di India banyak yang kelaparan tapi salah satu ritual beragama dengan cara menuangkan susu sapi ke atas batu dan mengalirkannya di sungai. Bagaimana mungkin untuk berbakti pada tuhan, harus guling-gulingan di atas lantai kuil. Bagaimana mungkin dan bagaimana mungkin yang terus ia pertanyakan. Para manajer Tuhan yang mempersulit semuanya. Bukan tuhan. tapi para manajer yang merasa paling dekat dengan tuhan.

The_White_Tiger

Tema filem ini sebetulnya tidak baru. Tentunya dengan berbagai medium cerita.  Buku pemenang “the Man Booker Prize” beberapa tahun lalu angkat isu yang serupa. The White Tiger dari Aravind Adiga berhasil mengusung tema “perbedaan”.  Bagian yang disentilnya juga soal sensitif:  Agama.  Dalam cerita buku tersebut, sang tokoh, Ashok Sharma menulis panjang kepada Perdana Menteri China, Wen Jiabao. Tulisannya dalam surat:

“Seluruh penulis terkenal dan terpenting juga terbaik yang pernah ada semuanya muslim, Tuan. Ada  Rumi, ada Mirza Ghalib, ada  Muhammad Iqbal, dan yang satunya saya lupa. Aneh bukan? Bagaimana bisa penulis terbesar adalah muslim, padahal seluruh muslim yang saya kenal rata-rata tak dapat menulis dan membaca, Tuan?”

BLARR! Aravind bicara soal pandangan kaum kebanyakkan india yang menganggap muslim India adalah bodoh dan terbelakang. Bercandanya nakal.

Apakah PK syarat sindiran tanpa bicara tarian dan nyanyi-nyanyian? Otentusaja teteup! Nyanyian, tarian bahkan kisah percintaannya dahsyat. Kisah cinta Muslim dan Hindu. Antara Rasfaraz dan Jaggu. Kisah cinta dua diaspora muda India yang menuntut ilmu di Belgia. Terpisah karena kesalahpahaman.  Cinta yang terhalang rintangan agama.

Lewat Jaggu juga Tipsy mendunia. Tipsy diberikan acara televisi. Pertanyaan Tipsy yang aneh namun secara logika benar, menarik perhatian Jaggu, sang reporter tipi yang telah pulang ke Delhi.

Karena acaranya populer, dianggap oleh pemuka agama mengganggu eksistensi otoritas lembaga agama. Tipsy ditantang oleh Yang Mulia, salah satu pemuka agama terkenal.

Pertanyaannya simpel. Apa agama Tipsy? Siapa Tuhan Tipsy? Apakah Muslim yang akan merenggut otoritas ajaran Hindunya? Pertanyaan itu disiarkan luas ke seluruh India. Secara langsung.

Tipsy bingung ditanya seperti itu. Dengan pelan ia menjawab.

“Saya bingung, Tuan”

Yang Mulia tersenyum. Dia merasa menang.

Tipsy melanjutkan. “Tuhan mana yang engkau bicarakan. Begitu banyak tuhan yang saya kenal dan ketahui. Tapi tuhanku hanya satu, yaitu yang menciptakanku. Sedangkan anda selalu berbicara tentang Tuhan yang ada di benak anda. Tuhan yang anda ciptakan. Tuhan yang ingin anda lindungi mati-matian”.

Tipsy menjawab pertanyaan sembari memegang sepatu milik sahabatnya, si penabrak yang tewas, menjadi korban pengeboman di stasiun kereta.

“Saya hanya melindungi Tuhanku, dari orang semacam kamu!” Yang Mulia berkata.

Tipsy menjawab kembali. “Bagaimana Tuan berani berkata seperti itu. Tuhan yang menciptakan miliaran galaksi, dan planet bumi hanya sebagian kecil dari ciptaan-Nya, dan tuan duduk di kursi mungil di sebuah sudut bumi, mau melindungi Tuhan? Sombongnya Tuan. Tuhan tidak perlu dilindungi. Tuan lah yang seharusnya meminta perlindungan.”

Dialog dalam filem ini terus bergulir. Debat di depan kamera.  Filem bejat ini malah lebih berisi dari sekadar ceramah agama. Kesalihan sosial yang selama ini dianaktirikan, bahkan oleh orang-orang yang merasa salih.

Agama. Tuhan. Cinta manusia. Problematika yang tak lekang oleh zaman.

Perkara doa yang terus menerus dipanjatkan.

Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba -Mu yang lain.

Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain, bagiku Engkau saja sudah cukup.

Doa Rabi’ah al-‘Adawiyah kepada Tuhan melulu tentang cinta. Doanya begitu terkenal. Bait di atas adalah doa Rabi’ah yang diterjemahkan penyair Taufiq Ismail. Beda versi dengan yang biasanya kita ketahui? Ndakpapa. Toh, doa adalah bagian paling intim antara makhluk dan penciptanya.

IMG_6956

Perkara doa adalah inti dari filem ini. Apakah filem ini menuai protes? tentu saja! Pro-kontra saat ini masih berlangsung di India. Para pencibir mengharamkan filem produksi rajkumar Hirani. Juga membenci mati-matian Aamir Khan, pemeran Tipsy.

 

 

 

religious-tolerance

 

Filem yang layak ditonton. Kisah cinta manusia dengan tuhannya. Cinta manusia dengan manusia lainnya. cinta manusia bumi dengan planet lain. Cinta manusia dengan sosial budayanya. Cinta manusia dengan kepentingannya. Filem dengan banyak bumbu. Filem kari india.

Juga cinta segitiga. Tipsy, Jaggu dan Rasfaraz.

Jaggu, reporter itu sadar betapa Tipsy diam-diam mencintainya. Dia sadar saat akhirnya Tipsy pamit padanya dengan banyak membawa benda yang melulu tentang bumi. Suara klakson, jangkrik, suara manusia.  Untuk dikenang, katanya. Tipsy berbohong. Jaggu tahu, ada tulisan yang tak sempat terkirim dari Tipsy: “I Love You, Jaggu”.

Jaggu tahu kalau Tipsy tak tahu bahwa dirinya tahu Tipsy mencintainya.

Perpisahan yang menyakitkan. Tipsy yang memendam cintanya pada Jaggu. Tipsy pulang.

Di akhir cerita, Jaggu, akhirnya menjadi penulis buku. Dikisahkan ia membacakan cerita di depan penggemarnya pada sebuh toko buku. Peluncuran buku pertamanya.

Ia bacakan penutup bukunya pada para pembaca :

“Dari manusia bumi, dia belajar bagaimana caranya berbohong. Dari dia aku belajar bagaimana seharusnya manusia mencintai.”

Lanjutnya:

Begitu besar rasa cintanya padaku  hingga  cintanya cukup untuk rela melepaskanku.

Iklan

3 thoughts on “Begitu Besar Rasa Cintanya Padaku Hingga Cintanya Cukup Untuk Rela Melepaskanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s