The Anti Marketing

Pemasaran itu membutuhkan banyak uang. Melalui pihak ketiga itu lazim dilakukan. Entah itu jasa, produk, ataupun apapun itu. Tapi kalau tidak melakukan kegiatan pemasaran lalu dari mana khalayak ramai tahu apa yang sedang dijual atau dipasarkan? Itu betul tapi itu tidak berlaku untuk musisi/penyanyi bernama Beyonce, David Bowie, Radiohead atau Thom Yorke,  Sebelumnya sudah saya singgung sedikit mengenai Beyonce di sini. Beyonce, merilis album terakhirnya tanpa pemberitahuan sama sekali. Tidak ada teaser video, ataupun lagu. Semuanya tertutup rapi. Serapi rambutnya Kim Jong-Un.

antimarketing5

Lalu pada tanggal 13 Desember 2013, di dunia maya dan nyata terjadi histeria massa karena terdengar kabar bukan burung bahwa Beyonce mengeluarkan album baru. Eksklusif hanya di iTunes. Bukan singel, tapi album, yang berisi 14 lagu plus 17 musik video. Belinya gak bisa ngeteng. Harus satu album. Beyonce melakukan pengumuman peluncuran visual album-nya melalui Facebook. Not even a tweet. Cukup melalui Facebook dan seluruh jagad media sosial menjadi riweuh seperti segerombolan semut menemukan gula. Hasilnya? Self-titled albumnya ini mencatatkan sejarah sebagai album dengan penjualan tercepat sepanjang sejarah di iTunes. Hampir tembus satu juta kopi (apakah istilah kopi masih relevan?) hanya dalam waktu tiga hari. Entah kalau versi MURI, saya gak tahu nomer kontak Om Jaya Suprana.

Beyonce bosan melakukan hal yang sama berulang-ulang. Ngabisin duit gak jelas. PR agency melakukan hal yang sama. Hasilnya belum tentu lebih bagus juga. Lady Gaga melakukan persiapan promosi dua tahun untuk album terakhirnya tapi gagal total dari segi penjualan. Beyonce ingin melakukan pengalaman yang berbeda dengan fansnya. Atau mungkin terinspirasi dari David Bowie. Karena mereka berdua berada di bawah satu label rekaman.

David Bowie telah lebih dahulu melakukannya di awal tahun 2013. Merilis singel pertamanya sekaligus dengan musik videonya dalam sepuluh tahun tanpa promosi sama sekali–disusul dengan album penuhnya, The Next Day. Radiohead bahkan sudah melakukan terobosan dengan memutus kontrak dengan Parlophone Records dan mendijitalkan album ketujuhnya, In Rainbows dengan memakai model pay-what-you-want di tahun 2007 melalui website-nya. Terserah mau bayar berapa. Sejak itu industri musik tidak pernah sama lagi.

Hal ini terjadi karena mungkin seringkali kita muak dengan iklan (apa saja) yang berulang-ulang tanpa diundang. Di media apa saja. Atau tagar yang sama bermunculan di depan muka tanpa diminta. Apalagi politisi karbitan yang tiba-tiba menyeruak entah dari mana dengan senyum penuh kepalsuan mencalonkan jadi ini jadi itu. Atau mungkin kita butuh kejutan. A game changer. Kejutan yang menyenangkan itu biasanya berbeda sensasinya.

Apalagi kalau datangnya dari Beyonce, Bowie dan Radiohead. So, bow down bitches!

Posted in: ringan

Leave a Reply