Yang Pendek, Yang Tak Terlihat

Nama lelaki di foto ini adalah Eko Junianto. Umurnya baru menginjak 15 tahun. Dia duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri 4, Satu Atap, Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah. Sekolah ini terletak di lereng Gunung Slamet. Sulit diakses kendaraan bermotor, karena jalannya rusak.

Eko Junianto
Eko Junianto

Seperti teman-teman sekolahnya, setiap hari Eko jalan kaki dari rumah ke sekolah. Lama perjalanan sekitar 30 menit berjalan kaki. Setiap hari, uang jajannya antara dua ribu sampai tiga ribu rupiah.

Namun tidak seperti kebanyakan teman-temannya, Eko Junianto sudah melihat Jakarta.

Untuk perjalanan pertamanya ke Jakarta, Eko harus berjalan kaki ke perhentian angkutan umum terdekat selama satu jam. Lalu, dia menempuh perjalanan 3 jam naik angkutan umum lain ke stasiun kereta terdekat. Dari situ, dia menghabiskan 7 jam lagi, sebelum sampai ke Jakarta.

Saat pertama kali ke Jakarta ini, Eko bukan lagi seorang anak SMP seperti teman-temannya.

Eko sudah menjadi filmmaker.

Dengan modal satu kamera sumbangan, dan guru ekskul film yang belajar mengoperasikan kamera dari Youtube, Eko sudah membuat 3 film pendek. Satu film pendek animasi, satu film pendek fiksi, dan satu film pendek dokumenter.
Film pendek dokumenternya, berjudul “Mana Janjimu?”, malah menyentil janji-janji kampanye politik. Caranya? Rekam saja pemilihan ketua OSIS di sekolah, berikut bualan mereka.
Hasilnya sangat mencubit, dan sampai membuat ketawa Andy Noya, yang pernah mengundang Eko ke acara talkshow tersohornya.

Ketiga film Eko sudah kenyang penghargaan kompetisi film pendek tingkat nasional.

Google saja “Eko Junianto film pendek”.

Dari ketiga filmnya, sudah belasan juta rupiah Eko raih. Semuanya ia sumbangkan ke pembangunan masjid sekolahnya.

“Soalnya gini, mas. Di sekolah itu ndak ada masjid. Kita susah kalau mau sholat jamaah pas Dhuhur dan Ashar,” katanya waktu bertemu saya beberapa bulan lalu.

Kalaupun ada hadiah barang, semua dia taruh di sekolah. Termasuk hadiah televisi yang ia tenteng bersama gurunya naik kereta pulang dari Jakarta.

_________________________________

Apakah ada satu Eko di Indonesia ini? Untungnya, tidak.

Di setiap kota di Indonesia tanpa aktivitas syuting film sehari-hari, berdirilah komunitas film. Dari sekedar nonton bareng, mereka bergerak bikin film bareng. Lalu lahirlah award-winning filmmakers dari Sabang sampai Merauke. Paling tidak, ada satu komunitas seperti ini di setiap kota.

Masih terpatri di ingatan saya apa kata Adrian Jonathan Pasaribu, kritikus film: “Kalau mau tahu wajah asli Indonesia dalam moving image, jangan cari di bioskop atau di televisi. Lihat film pendeknya.”

Tanpa mempedulikan rating, tanpa memikirkan angka box office, film pendek adalah jenis film yang mudah menggeliat. Siapa saja bisa membuatnya. Modal smartphone berkamera video bagus, apa pun jadi. Aplikasi editing, cukup download semenit saja. Daftar kompetisi? Kirim bisa lewat Dropbox atau Wetransfer. Mau ditonton online saja? Upload di Youtube.

Tinggal niat.

Iklan

3 thoughts on “Yang Pendek, Yang Tak Terlihat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s