Hidup itu Pilihan

Salah satu pekerjaan rutin saya setiap tahun adalah menonton ratusan film pendek. Semuanya buatan dalam negeri. Banyak yang bagus, lebih banyak lagi yang tidak bagus.
Dari ratusan film pendek itu, saya memberikan penilaian. Mana yang pantas untuk dipertontonkan, mana yang kurang pas. Tentu saja sesuai dengan kriteria yang sudah saya dan tim tetapkan bersama.

Yang menarik adalah proses menonton itu sendiri. Meskipun sebisa mungkin saya tidak perlu tahu siapa pembuat film, apalagi latar belakangnya, tak jarang ada rasa penasaran muncul.

“Eh, film ini bagus. Siapa yang bikin?”
“Oh, anak baru, mas. Baru pertama kali bikin film.”
“Oh ya? Dari mana?”
(misalnya) “Dari Jayapura.”
“Wah! Keren juga.”

Di saat seperti itu, saya suka tergoda mengambil kesimpulan cepat: berarti anak-anak Jayapura sudah bisa bikin film pendek yang bagus ya.

Lalu saya melanjutkan seleksi film lagi. Menonton satu per satu. Awal-awal masih semangat. Tetapi seringnya terasa letih dan lelah. Mata sudah capek melihat layar televisi atau laptop. Apalagi kalau film-film yang ditonton secara berturut-turut kualitasnya kurang baik.
Kalau sudah begitu, kadang tak sengaja saya lihat latar belakang pembuatnya.

“Ini dari tadi nonton film buatan komunitas X. Ya ampun. Jelek-jelek semua. Saking jeleknya, pas logo komunitas mereka keluar, gue udah curiga duluan. Dari mana sih?”
“Itu dari (misalnya) Jayapura, mas.”
“Ha? Dari Jayapura juga? Tapi bukan sama seperti yang bagus yang kita tonton kemarin kan?”
“Bukan.”
“Kok bisa sih, yang satu bagus banget, yang satu hancur banget?”
“Ya nggak tahu.”

Dan saya memang tidak mencari tahu lebih lanjut. Tetapi saya bisa menduga-duga sambil berkhayal.

Acap kali saya membaca atau mendengar komentar orang yang mempertanyakan, kenapa kualitas karya, dalam hal ini karya seni visual, dari teman-teman di luar Jakarta atau di luar Jawa, hasilnya kurang bagus. Saya cuma mengernyitkan kening, setengah protes. Nggak kok. Yang jelek ada, yang bagus ada. Mereka menghirup udara yang sama.

Ada yang memberikan hipotesa, kalau adanya keterbatasan akses informasi. Karena terbatas, jadi tidak banyak referensi. Saya mengernyitkan kening lagi. Nggak kok. Yang jelek ada, yang bagus ada. Mereka menghirup udara yang sama. Mereka sama-sama melek internet.
Kalau yang satu memilih sinetron sebagai acuan referensi, sementara yang lain memilih Youtube, atau rela mengutak-atik VPN demi akses ke Vimeo, maka itu sudah pilihan masing-masing.

Dan semua karya berpulang pada pilihan.

shutterstock_230171401

Sama-sama punya kuota data, tapi ada yang memilih untuk menghabiskannya demi eksis di media sosial, ada yang memilih untuk mengunduh materi belajar.
Sama-sama punya akses ke Youtube, tapi ada yang memiliih untuk menonton kucing berbicara, ada juga yang memilih untuk melihat tutorial mengoperasikan kamera.

Saya jadi ingat cerita pak Aris Prasetyo. Dia guru pembina ekstra kurikuler film di SMP Negeri 4 Satu Satap di kaki Gunung Slamet, kabupaten Purbalingga. Saat saya bertemu langsung dengannya dua tahun lalu, kami semua bertanya, bagaimana dia bisa menjadi pembina ekstra kurikuler film di tempat terpencil.
Lalu dia bercerita. Dia meminjam kamera video temannya. Kamera video ini sederhana, karena biasa dipakai untuk dokumentasi acara pernikahan. Pak Aris tidak pernah mengoperasikan kamera sebelumnya.
Lalu dari mana dia belajar? Dari Youtube. Dia tonton satu per satu video tutorial mengoperasikan kamera video, termasuk membenahi kalau ada kerusakan. Lalu ilmunya dia tularkan ke anak didiknya.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau anak-anak di kaki Gunung Slamet ini lebih memilih untuk putus sekolah, bekerja membantu orang tua mereka di sawah, atau pergi ke kota sekitar mencari pekerjaan. Namun pak Aris tidak ingin anak-anak ini putus sekolah. Maka diciptakannya ekstrakurikuler membuat film. Anak-anaknya ketagihan. Mereka betah di sekolah. Lalu mereka berbondong-bondong membuat film pendek. Film-film mereka banyak memenangkan penghargaan tingkat nasional, mengangkat nama kota mereka.

Pilihan. Kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan setiap detik.

Apalagi di saat-saat seperti ini, kala nalar kita dan kemampuan berpikir logis kita sedang diuji.
Stupidity is contagious. Maka pilihan untuk mempertahankan kewarasan pikiran menjadi hal mutlak yang perlu dilakukan.

Mulai membaca buku lagi. Belajar bahasa asing baru. Menonton film dokumenter. Ikut kuliah online gratis. Menyadari bahwa di luar Indonesia ada bagian dunia yang lebih luas lagi dengan ragam agama, budaya, kebiasaan dan aturan yang mungkin kita belum tahu. Tidak perlu ke sana kalau belum mampu, cukup mencari tahu. Berbicara pada orang lain karena ingin mendengar apa yang dia katakan.

Selalu ada pilihan untuk hidup, dan hidup lebih baik.

(Courtesy of manataka.org)
(Courtesy of manataka.org)

Posted in: @linimasa

Tagged as:

7 thoughts on “Hidup itu Pilihan Leave a comment

  1. Selalu ada pilihan untuk hidup, dan hidup lebih baik.

    Dan selalu ada alasan untuk tidak memilih jadi lebih baik. *ups *just saying.

    Mas Nauval, boleh kalimat ini saya bikin semacam photoquotes? Makasih.

    Yenni

Leave a Reply