MY FAMILY TREE

Gambar berikut menceritakan segalanya tentang hidupku. Kesalahan, juga keputusan masa lalu. Kekuatan dan kelemahan yang dibentur-benturkan tanpa ampun. Menambah satu garis air mukaku selain patah hati dan gravitasi.

My Family Tree

Aku temukan kertas ini dalam tumpukan kertas lain di meja ruang perpustakaan. Nilainya 20, bertanggal 11 September 2014. Judulnya My Family Tree. Isinya pohon keluarga yang pincang. Ada nenek-kakek. Ayah dan Ibu digambar samar-samar. Kakak, adik, paman dan lainnya dalam posisi mendatar. Selebihnya sudah melalui proses tulis-hapus berulang kali. Tulis-hapus berulang kali… Berulang kali. Seakan ragu. Atau begitu beratnya sampai anakku ndak mampu.

Sumpah demi apapun di langit dan bumi. Aku sudah antisipasi ini jauh-jauh hari. Mempersiapkan diri, bahkan untuk yang terburuk. Eh, ndak sangka tendangannya sekuat ini. Sesaat aku kesulitan mencerna oksigen dari tarikan napasku sendiri. Paru-paruku tersinggung karena ndak bisa membela diri. Ia berhenti bekerja. Aku harus mengalah pada detak jantung yang berkejaran dengan isi kepala. Aliran darah melipir ke pelipis kanan supaya dekat dengan telinga. Lalu berbisik: “Apa yang sudah kau lakukan, gandrasta?

Selama surga-neraka, dosa-pahala menentukan bagaimana hidup sepatutnya, anak kita adalah target terbuka panah-panah idealisme aneka norma. Begini lho hidup yang betul. Ini salah, itu benar. Dia masuk neraka, kita masuk surga. Kok kamu ndak punya Mama?

Ah ya, pertanyaan itu sudah kami atasi. Sekar punya jawaban yang ia tahu akan beguna. Bukan. Pisau itu menjelma dalam bentuk rahasia. Ndak ada yang lebih mengecewakan ketimbang anak kita menyembunyikan beban hatinya. Dan ndak ada yang lebih menyakitkan ketimbang kita terlambat mengetahuinya.

Sekolahan bukan hanya medan perang anak-anak kita, tapi juga orang tua mereka. Percayalah. Aku berani jadi saksi. Sekolahan melaksanakan arahan kurikulum. Memberi pengetahuan sesuai budaya manusia seutuhnya. Buku-buku ndak punya toleransi terhadap latar belakang pembacanya. Sedikit sekali sekolahan yang mau paham kisah di balik tiap anak didik. Hitam-putih berlaku universal. Ndak memberi ruang untuk abu-abu. Apalagi pelangi. Sementara di luar sekolah, hitam-putih jadi relatif. Hidup berkompromi dengan banyak sekali keputusan harian yang kita buat. Alam menyajikan warna agar manusia bahagia. Mentari pasti berganti bulan. Tapi, sesekali mereka sejajar. Ndak gelap, ndak juga terang. Kita hanya ndak punya waktu untuk lebih pengertian. Maka, Untuk anakku, jujur itu nilainya 20.

Sore hari. Kami baru bisa bicara setelah lewat 10 menit berkendara. Berselingan pohon Pondok Rangon arah Trans Yogi. Suasananya tenang. Teduh. Anakku duduk mendengarkan Eternal Sunshine-nya Jhene Aiko. Volume hampir serupa bisikkan. Tapi isinya seperti teriakkan: “Maybe I have made mistakes and been through my fair share of pain. But all in all, it’s been okay. I’ve lived well.

Perjalanan terlama yang pernah aku rasakan. Memulai pembicaraan seperti mau menabuh genderang perang. Ini saatnya? Atau nanti aja? Aku yang menempatkan dia dalam posisi ini. Memberikan keluarga cacat yang ndak masuk akal kurikulum. Secara ndak langsung, aku pernah bikin keputusan untuk membesarkan anak yang akan jadi contoh keluarga ndak sempurna di sekolahannya. Aku penyebab nilai 20, sejak 10 tahun lalu?… Atas nama cinta, gandrasta, bicaralah!

Om Gendut udah liat My Family Tree. Ndak apa-apa kok kak. Apa kata Bu Guru?

Kata Bu Guru kakak harus tulis semua orang yang sayang sama kakak. Bingung deh… kan banyak.

Posted in: ringan

7 thoughts on “MY FAMILY TREE Leave a comment

  1. Reblogged this on Serendipity and commented:

    “Sekolahan bukan hanya medan perang anak-anak kita, tapi juga orang tua mereka. Percayalah. Aku berani jadi saksi. Sekolahan melaksanakan arahan kurikulum. Memberi pengetahuan sesuai budaya manusia seutuhnya. Buku-buku ndak punya toleransi terhadap latar belakang pembacanya. Sedikit sekali sekolahan yang mau paham kisah di balik tiap anak didik. Hitam-putih berlaku universal. Ndak memberi ruang untuk abu-abu. Apalagi pelangi.”

  2. peluk kaka sekar..
    gadis manis yang tanggal lahirnya sama dengan gadis kecilku

    akhirnya bisa baca tulisan Om Gandrasta, walau seminggu sekali

  3. Sekolahan tidak memberikan ruang untuk area abu abu.. Sampai sekarang anak yang hanya hidup dg mama seorang janda juga harus berjuang melawan pendapat teman temannya. Kurikulum juga masih mempertahankan contoh keluarga ‘ideal’ bagi anak didiknya.

Leave a Reply