Spesial, Pakai Hati

Ndak. Saya ndak pengin menulis tentang Buddhisme pekan ini. Seperti kata Mas Terong dalam artikel narsisistik berjemaahnya, Sabtu lalu.

Emang sih, setelah lihat foto Path-nya Ko Glenn kemarin-kemarin, saya sempat tergoda untuk menulis tentang fenomena vegetarianisme (吃素). Terutama mengenai “kreativitas” para penggiatnya yang dituduh mengelabui diri sendiri; menggunakan gluten untuk memasak sate, rendang, rawon, soto, bahkan steak dan sebagainya. Barangkali prinsipnya: “yang penting bukan daging betulan.”

Dari situ, obrolan bisa menjalar ke banyak hal. Misalnya, jangan dikira seteru antarkelompok religius hanya terjadi pada agama-agama besar dunia. Antara muslim Ahlus-Sunnah wal Jamā’ah (Sunni) dan Syi’ah, atau kebencian besar-besaran terhadap penganut Ahmadiyah. Sedangkan pada rekan-rekan Kristen, seperti penolakan terhadap kelompok Saksi-saksi Yehuwa, juga perang kritik antara denominasi gereja Protestan. Gereja Scientology? Dicemooh habis-habisan.

Dalam struktur masyarakat Buddhis modern saat ini pun, di samping kasus-kasus yang patut dikecam global (biar saya simpan buat nanti-nanti saja, atau ketika ada yang tanya, hehehe…), seteru–pernah atau mungkin masih–terjadi antara penganut sekte sempalan ajaran Maitreya (彌勒大道) dan Ikuandao (一貫道) dengan kelompok Theravāda, salah satu mazhab resmi Buddhisme. Ajaran dua subsekte tersebut menghadirkan figur tuhan yang personal, melakukan praktik paganisme, mempercepat nubuat kebuddhaan dengan figur Buddha Tertawa sebagai ikonnya, melakukan Maitreyaisasi dan Ikuandaoisasi, serta menganggap rendah moralitas penganut Buddhisme Theravāda lantaran masih bisa menyantap daging.

Dah, ceritanya sampai di sini saja. Kembali ke paragraf pertama.


Sebelumnya lagi. Saat membaca artikel Gandrasta yang sarat gejolak asmara, saya sempat tergoda untuk menulis tentang pandangan umum Buddhisme, sejauh yang saya pahami, terhadap preferensi seksual kelompok LGBT (atau GLBT, kata seorang kawan, yang gay, obviously). Oh, ralat deh. Secara spesifik, kelompok T mendapat pembahasan khusus dibanding tiga huruf pertama dari singkatan tersebut.

Perspektif Buddhisme terhadap perkara ini dibagi dua: berdasarkan ketentuan kepatutan, dan ketentuan sosial. Mereka yang belajar Buddhisme mengenal istilah pertama sebagai Sīla dalam bahasa India kuno, dialek tutur yang konon digunakan Sang Buddha agar bisa berbicara dengan kasta Sudra, Paria, bahkan Candala. Saya cenderung memilih kata conduct untuk mewakilinya.

Soal ketentuan kepatutan atau Sīla tadi, ndak perlu saya bahas di sini. Ketimbang nanti dikira menjalankan misi mengembalikan kejayaan agama Buddha seperti pada masa Shrivijaya. Singkatnya, Buddhisme memandang orientasi seksual setiap orang sebagai bagian dari tanggung jawab manusiawi yang bersangkutan. Pilihan pribadi. Mau hetero atau homo, penyikapannya sama. Yakni selama tidak mencederai conduct tadi. Pasalnya, kalau conduct sudah jadi misconduct, manusia sudah kehilangan kendali batin. Makin jauh dari tekad realisasi kesadaran tertinggi.

Ilustrasinya, berapa persen sih pengguna Grindr, Jack’d, Hornet, termasuk Tinder dan sebagainya yang benar-benar merasakan kebahagiaan hati, setelah tawaran “fun, yuk?” mereka ditanggapi dengan ketemuan dan eksekusi? Perlakuan yang sama bagi pria dan wanita hetero, yang gampang ONS-an. Bukannya menghakimi, tapi silakan jawab sendiri.

Beda lagi ceritanya dengan mereka yang memutuskan untuk menjadi aseksual, yang disebut Mas Agun sudah jadi gerakan hipster di Jepang. Terlebih hidup selibat, seperti Bhikkhu/Bhikkhuni, Biksu/Biksuni, atau Pastor. Mereka yang menjauhi urusan kedagingan.

Okay, stop it!

Hukum negara dan kesepakatan komunal termasuk dalam ketentuan sosial. Di negara yang hanya mengakui pernikahan antara pria dan wanita, apalagi mesti seagama biar khidmat ngenthu-nya, ikatan cinta antara manusia berjenis kelamin sama mustahil dilangsungkan. Dianggap ilegal. Nah, dalam hal ini, ketentuan Buddhisme seolah berkata “ya sudah, ngikut ketentuan negara aja.” Saya menduga, perspektif ini muncul karena para pemuka agama Buddha pada era modern sepakat bersikap diplomatis, kala menghadapi karakteristik agama-agama besar yang mengharamkannya. Dibuat manut arus utama. Itu sebabnya, dalam pemberitaan internasional beberapa tahun lalu, seorang Biksuni Mahayana di Taiwan dengan senang hati memberikan pemberkahan pernikahan kepada sepasang cicik-cicik lesbian. Silakan google sendiri beritanya.

Sumber: google

Kalau ditimbang-timbang, ada baiknya juga sih bila pasangan LGBT diminta bersabar dan patuh pada hukum negara yang berlaku. Soalnya, kalaupun mereka memaksa menikah di luar negeri, atau mengadopsi anak, urusan administrasi legal dan kependudukannya bakal ribet enggak karuan.

“Kalo di luar sana salah satu pasangan meninggal, (hartanya) bisa hibah ke pasangannya. Kalo di sini kan gak bisa, aku meninggal harta aku balik ke keluarga walau aku menikah.

Itu baru urusan warisan. Urusan visa, surat nikah sesama jenis kan ndak bisa dipake.”

“Kalo urusan anak, pesan aku cuma satu buat para gay, jangan korbankan anak demi fantasi hidupmu.

Aku ndak bisa menikahkan anakku nanti. Tunjangan kantor atas anak juga ndak dapat.

Harus ada surat yang menyatakan aku bapaknya. Akta kelahiran harus cantumkan nama bapak dan ibu…

Mau percaya atau tidak, yang pasti lanjutan kalimat dari komentar terakhir benar-benar manis dan mengharukan. Menggambarkan kuatnya kecintaan seorang ayah kepada sang anak. Terlepas dari realitas bahwa sang ayah, juga bisa naksir ayah-ayah lainnya.

Dengan penuh kewaskitaan, komentar-komentar di atas disampaikan beberapa teman gay, yang resah. Resah terhadap masa depan orang-orang kesayangan mereka. Bukan resah cuma karena membayangkan titit dan bodi satpam baru di bank gedung sebelah.

Oke, kembali ke lagi ke paragraf pertama ya.


Ada yang bilang, perbedaan itu berkah. Tapi sayangnya kerap diperlakukan laiknya musibah; dibenci setengah mati. Ya, kita dengan mudahnya membenci hal-hal yang tidak kita pahami. Kita cenderung lebih suka membenci sejak awal, ketimbang berusaha mengerti demi mendinginkan hati, mencari konfirmasi, melakukan verifikasi, atau setidaknya bersikap netral dan memberi toleransi. Padahal kita adalah manusia, makhluk berakal budi.

Parahnya, energi kebencian itu malah acapkali kita lampiaskan, berupa tindakan yang jauh lebih jahat, dibanding kejahatan dan keburukan yang kita tuduhkan.

Sumpah seseorang untuk tidak makan daging seumur hidupnya, bukanlah jaminan yang bisa mengantarkannya menjadi seorang Buddha. Sehingga tidak etis apabila dia memandang rendah orang lain, yang memiliki gaya hidup spiritual berbeda.

Perbedaan ajaran dan tafsiran, juga tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan penyiksaan apalagi pembunuhan. Kita tidak perlu agama untuk menjadi orang baik. Lebih-lebih untuk menjadi orang jahat.

Kemudian, siapapun tetap bisa menjadi anggota masyarakat yang baik, ayah atau ibu teladan, tanpa memandang orientasi seksualnya. Mau bukti? Tak sedikit orangtua heteroseksual yang doyan menyiksa anak-anaknya, baik fisik maupun mental. Lewat tindakan, ucapan, maupun kelakuan. Bukti lainnya, lihat saja kutipan komentar teman saya di atas.

Teringat salah satu respons atas posting-an pertama saya di Linimasa, ada seorang pembaca yang bilang begini:

…bahwa seorang …memiliki kewajiban mengingatkan …Mengingatkan bukan memaksa.

Saya setuju dengan maksud yang disampaikannya. Apabila kita merasa benar, maka beritahu, tegur, dan ingatkan orang yang kita anggap salah. Dalam upaya memberitahu, menegur, dan mengingatkan, tidak ada kebencian yang bertujuan untuk memusnahkan. Melainkan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian.

Lalu, kalaupun semua iktikad baik itu dimentahkan, dikembalikan kepada kita, apakah harus ditanggapi pula dengan kebencian? Kita tidak sesuci malaikat, mereka pun belum tentu lebih sesat ketimbang setan. Anggap saja seperti kiriman yang tak sampai ke tujuan. Setelah itu, boleh dong tetap bersikap tenang. Menjalani hidup seperti biasa, dan fokus menjadikan hidup kita lebih bermakna.


Piket kali ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita adalah manusia dengan segala kualitasnya. Mau jadi baik atau buruk, pilihannya ada di hati kita.

[]

Iklan

7 thoughts on “Spesial, Pakai Hati

  1. love the way you write ..

    “Apabila kita merasa benar, maka beritahu, tegur, dan ingatkan orang yang kita anggap salah. Dalam upaya memberitahu, menegur, dan mengingatkan, tidak ada kebencian yang bertujuan untuk memusnahkan. Melainkan perhatian, kasih sayang, dan kepedulian.

    Lalu, kalaupun semua iktikad baik itu dimentahkan, dikembalikan kepada kita, apakah harus ditanggapi pula dengan kebencian? Kita tidak sesuci malaikat, mereka pun belum tentu lebih sesat ketimbang setan. Anggap saja seperti kiriman yang tak sampai ke tujuan. Setelah itu, boleh dong tetap bersikap tenang. Menjalani hidup seperti biasa, dan fokus menjadikan hidup kita lebih bermakna”

    seperti ter-amin-i apa yang di ‘kampanyaken’ pada orang2 sekitar,
    ketika gejolak rona-rona kehidupan yang dibumbui oleh media,
    menjadikan munculnya juri-juri ( jika tidak mau disebut hakim ) kagetan

    disamping itu,
    kenapa judulnya spesial pake hati ya?
    waktu baca judulnya kirain bakal ada cerita tentang “player” yang insap
    hahahahaha.

    Suka

  2. Kita hidup di era berbeda adalah dosa. Sayangnya jadi berbeda itu bukan selalu akibat pilihan. Kalau boleh milih, aku mau jadi Rihanna…

    Suka

  3. Tulisan apa ini????
    Terlalu moralizing wasaising. HIH! Aku ndak nyangka, setelah sekian jam lakukan tapa bisu di depan kios indomaret dapat menghasilkan tulisan semacam ini.

    oke, setelah baca bolak-balik tiga kali tulisanmu, aku kok malah jadi penasaran dengan “Sila”. Kepatutan itu siapa yang tentukan? Ketentuan sosial pan bisa norma hukum dimana kita berpijak, nah patut -ndak patut ini piye? Otoritas hati? otoritas kebenaran dari siapa yang bisa memberikan garis tegas sila? apakah sama dengan susila? maka ada tindakan asusila?

    Coba deh Gon itu diterangkan sesingkit-singkitnyi.
    Tilimikici.

    Suka

    1. Mesti dibaca bolak-balik sampai tiga kali? Berarti fix memang tulisanku memusingkan. Berarti sukses. 😀

      Secara singkat, kepatutan punya standar universal. Relevan selama jadi manusia. Secara dasar, ada lima: tidak membunuh/menyakiti, dan mencuri untuk alasan apapun, tidak melakukan sexual misconduct (sederhananya), tidak berbohong untuk alasan apapun, dan tidak melemahkan kesadaran secara sengaja menggunakan substansi memabukkan.

      Singkat, kan? 😛

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s