Bukan Pantat Ayam

Ucapan membuat manusia gembira, ucapan pula yang membuat manusia menderita.

Ada yang bilang, hati itu jauh dari tenggorokan. Jadi, banyak kata yang diucapkan tanpa perasaan. Barangkali pemeo itu benar, karena kita jauh lebih mudah menemukan manusia yang berbicara tanpa simpati, tujuannya pun untuk menyakiti.

Bahasa dijadikan senjata; dilontarkan untuk menyerang orang lain. Bicara pun dilakukan hanya untuk menghakimi, mencaci maki, mengolok, maupun berdebat tiada henti. Tak kalah tercelanya dengan mereka yang hanya bisa membicarakan orang lain dari belakang. Namun jika ditantang duel, pengecut bukan main. Apabila demikian, ibarat pantat ayam, mulut hanya menjadi rongga yang buang tahi sembarangan.

Ironis, tak jarang manusia itu adalah diri kita sendiri. Kita, yang kerap lebih cepat berbicara tanpa sempat berpikir sebelumnya. Lalu berujung pada penyesalan dengan efek ganda. Menyesal karena telah melakukan kesalahan, dan menyesal karena sadar bahwa penyesalan tersebut tak ada gunanya.


“Dasar gembrot!”

“Dasar jelek!”

“Dasar miskin!”

“Dasar bencong!”

“Dasar Cina!”

“Dasar pecun!”

“Dasar bego!”

“Dasar kafir!”

“Dasar miskin!”

“Dasar janda gatel!”

“Dasar kampungan!”

Semua kalimat tersebut kerap kita dengar. Sang pengucap merasa pantas menghina, dan seolah menganggap bahwa si lawan bicara bukan manusia; pantas dihina. Delusi. Padahal tidak ada jaminan bahwa sang penghina lebih baik dibandingkan yang dihina. Contohnya, ketika Norman Kamaru yang kini sedang menjalankan usaha warung makan, ia dihina habis-habisan. Padahal bukan berarti para penghina itu lebih baik daripada Norman, bukan?

 

Kasus lain. Merokok atau tidak merokok adalah pilihan setiap orang. Dan sudah muncul anggapan umum, perokok adalah orang yang tidak peduli kesehatan (diri sendiri, dan pada tingkat berbahaya, keluarga serta orang lain), boros, dan dinilai nakal (terutama pada remaja). Saya bukan seorang perokok, dan sering merasa terganggu dengan kepulan asap rokok dalam sebuah ruangan tertutup. Namun, apakah saya yang bukan perokok sudah pantas mengata-ngatai para perokok? Apalagi merendahkan mereka? Asumsi berujung stereotip tentu tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan penghakiman. Beda ceritanya apabila ada perokok yang melanggar aturan “No Smoking”, atau ngudut di luar bilik asap pada tempat publik.

Kondisi serupa juga terjadi pada dikotomi kelompok ultra-ASI dan pihak seberangnya. Masih kerap kita dengar atau baca komentar sinis serta relatif merendahkan dari oknum kelompok ultra-ASI, kepada para wanita yang memutuskan untuk tidak memberikan putingnya ke sang bayi. Kedua pihak memang memiliki alasannya masing-masing, dan kita berhak setuju dengan salah satunya atau memilih netral. Akan tetapi, pada akhirnya, seseorang tidak berhak melakukan pemaksaan terhadap orang lain dalam memperlakukan tubuhnya sendiri (kecuali yang melanggar hukum positif). Termasuk mengintimidasi lewat ucapan-ucapan tidak menyenangkan.


Cerita berbeda.

Pa, nanti kalau nganter Dedek ke sekolah, ndak usah turun dari mobil ya,

Loh, kenapa Dek?

Soalnya Papa suka diolok-olokin. Dedek ndak suka,

Dialog tersebut terjadi antara seorang bocah SD dan sang ayah. Ia merasa sangat terganggu dengan ejekan teman-temannya, yang menjadikan tubuh besar sang ayah sebagai bahan tertawaan.

Kita mungkin prihatin namun bisa memaklumi keadaan tersebut, lantaran pelakunya masih anak-anak. Barangkali kita akan lebih menyalahkan orangtua mereka, yang tidak mampu mendidik dan mengajarkan pentingnya menghormati sesama manusia tanpa memandang fisik. Namun situasinya menjadi sangat berbeda, sebab ternyata para orangtua anak-anak tersebut ikut terlibat dalam aktivitas yang sama. Ya, mereka juga senang sekali menggunjingkan status sang ayah yang seorang duda. Dengan cekakak cekikik yang terdengar menjijikan, mereka membicarakan sang suami yang diisukan begini dan mantan istri yang digosipkan begitu. Hinaan dan celaan tersebut disampaikan begitu saja, seolah-olah merupakan hiburan.

Sayangnya, cerita di atas bukan sekadar ilustrasi, tapi benar-benar terjadi.

Terkait hal ini, bisa jadi para orangtua tunggal dan gay adalah kelompok manusia yang paling kebal. Kebal, bukan berarti tidak sakit hati. Tapi ditahan sampai nyerinya tak ada lagi. Hinaan terus digencarkan para homophobic, maupun orang-orang yang mendadak punya mulut lebih b*tchy daripada banci. Mau tidak mau, mereka harus mampu bertahan. Bila tak kuat lagi, mungkin bisa bunuh diri.

Jadi, sebelum bersusah payah menyumpah serapah, lebih baik kita membayangkan berada di posisi mereka. Sudah seberapa kuat kah kita menerima hinaan serupa? Percuma jika mengaku memiliki kualitas diri setinggi langit, namun nyatanya menggunakan mulut sembarangan. Toh perkara baik buruknya orang lain, bukan tugas mulut kita untuk memberikan penilaian.

Lagipula, bagi Anda pemilik mulut berbisa, dapat untung apa sih dengan menghina orang lain? Berasa lebih baik, hebat, unggul? Lebih baik, hebat, unggul apanya? Terus, emang situ seberapa oke?

[]

Advertisements

7 thoughts on “Bukan Pantat Ayam

  1. Pingback: Hari yang Spesial – LINIMASA

Leave a Reply