Syahrini dan Sang Walikota

Beberapa hari yang lalu dikabarkan bahwa Ridwan Kamil, Walikota Bandung, akan melaporkan akun seseorang ke polisi karena dianggap sudah menghina dirinya secara pribadi dengan menggunakan pasal 27 UU ITE. Sampai tulisan ini diturunkan belum tahu kelanjutannya sampai di mana kasus ini.

1410097300336

Perlukah hal itu dilakukan? UU ITE  apa sih? Ini adalah produk hukum buatan DPR tahun 2008 berupa undang – undang yang mengatur kurang lebih mengenai informasi dan transaksi elektronik. Saya akan fokus ke pasal 27 UU ITE karena itu yang sering dipakai untuk menjerat seseorang di media sosial.

Berikut isi dari pasal UU ITE Pasal 27:

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan perjudian.

(3) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

(4) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Melihat pasal di atas, khususnya ayat 3, apakah bisa seseorang menjerat orang lainnya dengan pasal di atas? Bisa. Buktinya sudah ada beberapa. Tapi apakah bisa seseorang bisa mengelak dari jeratan pasal tersebut? Bisa juga. Caranya?

1. Untuk di twitter khususnya–ada yang namanya verified account. Sebuah akun yang telah diverifikasi oleh twitter bahwa betul yang bersangkutan adalah pemilik akun tersebut. @agnezmo dan sejumlah public figure lainnya adalah salah satu contoh akun yang sudah diverifikasi. Dengan kata lain ketika sebuah akun belum terverifikasi maka seseorang bisa mengelak dari tuduhan. Itu yang terjadi dengan akun Trio Macan dan akun anonim busuk lainnya. Tidak pernah ada tuntutan terhadapnya. Sepedas apapun isinya. Kalau mau nuntut pun gimana caranya?

2. Tidak mengakui bahwa akun tersebut adalah milik bersangkutan. Bagaimana polisi bisa membuktikan bahwa akun tersebut adalah miliknya? Kecuali jika yang bersangkutan tertangkap basah sedang nge-tweet dengan akun yang dituduhkan di hadapan aparat kepolisian, maka dengan tidak mengakui akun tersebut adalah miliknya merupakan cara yang paling aman.

3. Lalu foto dan nama? Foto bisa diambil di mana saja. Sekarang sudah era internet. Nama akun? Nama orang bisa sama. Bisa saja itu merupakan kebetulan. Mentok? Balik lagi ke nomor dua.

4. Tutup/deactivate akun. Ini cara yang paling simpel.  Ada bukti screenshot dan print out? Balik lagi ke nomor dua.

Saya tidak menyarankan tapi ketika anda dalam keadaan tersudut mungkin cara di atas bisa jadi pilihan. Ada yang bilang hal tersebut dilakukan untuk menimbulkan efek jera. Mungkin betul. Tapi itu juga bisa menimbulkan efek samping yang tidak bagus, yaitu (bisa berpotensi) melahirkan pemimpin anti kritik, karena setiap perkataaan apapun yang dianggap mencemarkan nama baik bisa dijerat dengan pasal di atas. Hal yang tentunya tidak diinginkan.

Screenshot_2014-09-07-21-02-15-1

Ketika seseorang menjadi seorang public figure atau pejabat publik dan aktif di media sosial akan selalu saja ada makian, hinaan, kritik yang terkadang membuat darah seketika medidih dan mata terbelalak membacanya. Tapi itu adalah satu konsekuensi yang harus diterima. Kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang berada di dunia maya. Bagaimana kondisi psikologisnya saat itu. Bagaimana kondisi keuangannya. Berapa umurnya. Apa jenis kelaminnya. Semuanya begitu berpengaruh. Begitu kabur. Semua orang bisa menjadi siapa saja.

Dunia maya kadang bisa sangat mengerikan. Kesabaran, mental yang kuat dan tidak mudah tersinggung sangat dibutuhkan untuk mereka yang aktif di media sosial (di dunia nyata pun sebetulnya tetap dibutuhkan). Contohlah seorang Syahrini. Coba lihat foto di atas. Hidupnya penuh kebahagiaan. Bersenang-senang. Sering bertamasya ke negeri orang. Silakan bicara apa saja tentang dia. Silakan caci maki. Selalu ada ribuan bahkan belasan ribu love di setiap foto yang diunggah. Silakan screenshot dan sebar foto di Instagramnya dan beri komentar fotonya sesuka anda (tentu saja harus rebutan dengan komentar yang ternyata nebeng jualan produk). Syahrini tidak akan menjerat anda dengan pasal apapun. Karena Syahrini penghibur sejati berhati peri. Seorang putri. Seperti nama akun Instagram dan Twitternya.

Ciao Bella.. 

 

(gambar-gambar saya ambil dari internet)

 

Advertisements

2 thoughts on “Syahrini dan Sang Walikota

  1. setuju sih, jika dikatakan : memutuskan berada di depan layar berarti harus menghadapi resiko ( bahkan harus mengetahui ) panasnya spotlight, bla bla bla, bla bla bla, bla bla bla.
    tapi yang saya setuju juga dari tindakan yang diambil Bpk Walikota adalah beliau (membantu)memperjelas batas-batas kebebasan.
    begini deh,
    sebagai manusia kita kan gampang lupa ya,
    nah, anggapla si Bapak sedang mengingatkan para pelaku demokrasi bagaimana sebaiknya sebuah opini disampaikan.
    jangan malu mengakui bahwa taraf pendidikan, bahkan sistem pendidikan kita belum mencapai titik etika dan estetika untuk demokrasi terbuka.

    kenapa si Bapak menggunakan cara itu?
    ya karena mungkin sudah dipertimbangkan sebelumnya.

    kalau syahrini?
    ya memang sudah dipertimbangkan pula reaksinya 🙂

Leave a Reply