Lulusan Twitter Institute

“Untung aku homo!” Begitulah reaksi spontan lega sebagian dari kita saat mengetahui biaya kuliah di Jakarta sekarang. Sebuah blog membagi pendidikan tinggi ke dalam 3 bagian. Relatif MahalCukup Mahal dan Sangat Mahal. Kategori Relatif Mahal membutuhkan biaya 110-120 juta. Cukup Mahal dipatok 120 sampai 160 juta. Dan Sangat Mahal itu sekitar 130-250 juta. Tinggal dipilih saja, mana yang sesuai dengan kemampuan anak dan kocek orang tua. Selain ilmu dan gelar, banyak juga perguruan tinggi yang juga mampu menghasilkan lulusan yang akan berbicara sehari-hari seperti Cinta Laura.

Sejak anak dilahirkan, bahkan sejak masih janin, para orang tua pun mulai giat untuk menabung dan berinvestasi supaya anak kelak bisa sekolah sampai jenjang tertinggi sesuai dengan “passion’-nya. Atau sesuai dengan panggilan jiwanya. Atau panggilan teman-temannya. Atau arahan orang tuanya. Dan ketika lulus, gelar pun diraih. Gelar akademik atau gelar akademis menurut Wikipedia adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel (dari bahasa Latin titulus).

Matteo kesal luar biasa ketika sedang merencanakan undangan pernikahannya. Matteo tak ingin gelarnya ditulis. “Come on, it’s personal. Nobody cares…” kata Matteo yang lulusan perguruan tinggi kategori “relatif mahal’. Matteo tak benar sepenuhnya. Orang tuanya care. Bagi orang tua Matteo, gelar anaknya adalah simbol keberhasilan sebagai orang tua. Lunas tuntas tugas orang tua menyekolahkan anaknya sampai anak tangga tertinggi. Dengan biaya pendidikan setara satu mobil atau DP rumah. Gelar pun menjadi simbol kepandaian, kecerdasan dan tak jarang kebijakan. Sampai suatu hari bukan tidak mungkin menjadi simbol kebodohan. Kebodohan?

Karena sekarang ada Twitter Institute. Sebuah institusi yang bisa memberikan gelar kepada semua pemakainya.

Minggu siang itu, Viona sedang asik Twitteran sambil gegoleran di sofa. Di samping Viona ada buku resep yang terbuka lebar sebagai panduannya. Dengan lancar dan penuh keyakinan, Viona mengtweet-salin bahan, cara masak dan tips-tips memasak ke dalam sebuah kultwit yang jumlahnya lebih banyak daripada resep yang cuma setengah halaman. Bukan sekali dua kali, tapi setiap hari. Viona rupanya senang berbagi. Jumlah pengintilnya pun semakin banyak. Sampai suatu hari salah seorang pengintil menjawab tweet Viona dengan “Terima kasih ya kak, tips memasaknya sangat berguna. You are my Hero Chef”. Gelar pertama berhasil diraih. Tak berhenti di situ, Viona yang semakin populer di dunia maya kini tampil di berbagai media cetak dan elektronik. Gelar Viona pun bertambah. Yang terakhir adalah Celebrity Chef.

Dengan gelar itu bukan tak mungkin Viona mendapatkan penghasilan duit. Jumlahnya bisa jadi cukup banyak. Dan kalau Viona pandai menggoreng ketenarannya, Viona bisa lebih sukses dari Chef lulusan sekolah memasak. Bayangkan, meraih gelar Chef tanpa pernah menyalakan kompor sekali pun. Pandai bukan? Viona tak sendirian. Ada “Urban Photographer” yang diraih karena tweetpic dan instagram yang diposting banyak memotret kejadian di perkotaan. Salah satu foto tweetpicnya bahkan pernah meraih jumlah retweet lebih banyak daripada fotografer kondang lulusan luar negeri. Atau “Social Media Activist” karena tweet-tweetnya selalu menyerukan soal kemanusiaan. Ajakan untuk berdonasi, menyumbang darah, mengumpulkan pakaian bekas dan sebagainya. Tanpa perlu sekolah tinggi-tinggi mengenai ilmu sosial, antropologi dan psikologi. “Social Media Politician”? Ah silakan scroll saja timeline dan temukan sendiri beragam gelar-gelar yang lahir dari Twitter. Social Media Expert, Fashionista, Community Organizer, Creative Expert, dan semua bisa diraih dengan satu syarat mutlak: rajin-rajinlah ngetweet satu hal, lebih rajin daripada masuk kelas. Apalagi sejak Twitter Institute berafiliasi dengan Google University dan Wikipedia Academy, banjir gelar pun tak kenal musim. Dengan gelar yang sudah diraih, tinggal selangkah lagi menjadi speaker, coach, narasumber di berbagai acara yang dihadiri ratusan hingga ribuan peserta. Fantastis!

Sesuatu yang terus menerus dilakukan bisa menciptakan realita, kata sebuah buku jaman masih kuliah. Rumus ini sekarang semakin nyata dengan adanya beragam social media. Karena social media, dalam hal judul tulisan ini adalah Twitter, memberikan update yang setiap hari, setiap jam bahkan setiap detik. Tapi kan itu gelar di dunia maya, gelarnya maya juga dong, menyanggah. Bukankah dunia maya dan dunia nyata kini terjalin semakin mesra? Situs entrepreneur.com bahkan pernah menulis judul “Fake It Until You Make It’ sebagai salah satu kiat Personal Branding.

Gelar dunia maya atau pun gelar dunia nyata membutuhkan konsistensi. Konsisten belajar dan konsisten mengupdate status. Gelar dunia nyata diberikan oleh dosen dan rektor. Gelar dunia maya diberikan oleh diri sendiri, pengintil atau media. Lulusan dunia nyata memberikan embel-embel Cum Laude bagi lulusan terbaiknya. Lulusan dunia maya? Cum Loud. Bagi peraih gelar di dunia nyata tidak perlu sakit hati apalagi kecewa kalau sempat dikepot oleh peraih gelar dunia maya. Kan tujuan utama bersekolah bukan untuk meraih gelar. “Come on, it’s personal. Nobody cares…” Ya kan? YA KAN?

2012-11-02 22.10.44

Ku dapat melintas bumi,

Ku dapat merajai hari

Ku dapat melukis langit,

Ku dapat buatmu berseri

Tapi ku dapat melangkah pergi

Bila kau tipu aku disini

Ku dapat melangkah pergi 

Ku dapat hal itu

Tapi buka dulu topengmu

Buka dulu topengmu

Biar ku lihat warnamu

Kan kulihat warnamu

Kau dapat cerahkan aku,

kau dapat buatku berseri

Kau dapat buatku mati,

Kau dapat hitamkan pelangi

Tapi ku dapat melangkah pergi

Bila kau tipu aku disini

Kudapat melangkah pergi

Ku dapat hal itu

Lirik “Topeng” – Peterpan

 

Posted in: ringan

6 thoughts on “Lulusan Twitter Institute Leave a comment

  1. Ping-balik: LINIMASAKami
  2. Ping-balik: Mrs. Mom. Me.

Tinggalkan Balasan