SI ITIL BAJA

Senin lalu aku ketemu kawan lama. Perempuan. Sudah menikah. Tapi belum punya anak. Namanya ndak setenar julukannya, maaf: SI ITIL BAJA. Ya, ini tentang klitoris. Untuk yang pernah disunat, baik dengan membuang keseluruhan, sebagian atau hanya melukai; peluk erat. Sebelum pada protes aku sok tau, aku pernah tidur dengan perempuan lho. Bahkan menghasilkan anak. Tulisan ini sekaligus membuang mimpi buruk waktu aku bertekuk lutut di depan labia mayora… amit-amit.

Aku harus kembali ke satu dekade silam. Waktu kejadian itu bermula. Sebelum ia dianugerahi gelar SI ITIL BAJA, Ia adalah gadis Jakarta biasa. Umur 27-an. Punya pacar. Punya kerja. Aktif secara seksual dan itilnya belum menunjukkan gejala apa-apa. Singkat cerita. Hubungannya dengan sang pacar bubar. Kami, kawan-kawannya, baru tau seminggu kemudian kalau alasan putusnya mereka karena urusan sex. Seingatku, begini katanya: “aku juga nggak tau, tapi butuh lebih dari dua jam baru orgasme...”

Dua jam! Buat laki-laki ini kerja keras. Mimpi buruk untuk yang udah selesai dalam dua menit. Klitoris kawanku tadi butuh dua jam stimulasi. Pacarnya menyerah. Kerja di Jakarta berat sekali. Aku paham situasinya. Ia pernah coba mengalami orgasme baik menggunakan hanya klitoris, vagina, atau semua tiga lubang. Sampai sini, harusnya aku mual. Demi Linimasa, ok, kita lanjutkan. Klitorisnya suka sentuhan itu, dan vaginanya merengek-rengek minta juga. Tapi kemudian mereka tampak sibuk baca Forbes atau apalah. Sentuhan apapun kebal. Ndak ada rasanya. Percuma. Masalahnya, kejadian ini bukan hanya sekali. Tiga pacar ke depan juga mundur karena hal yang sama. Begitu pentingnya klimaks di waktu bersamaan, sehingga syarat jodoh SI ITIL BAJA bertambah satu: SABAR.

Akhirnya ia menikah dan julukan itu pelan-pelan hilang. Mari kita berasumsi. Masalah ini selesai karena tiga hal. Ia bertemu suami yang sabar, sensitivitas klitorisnya kembali normal, atau keduanya sekaligus. Suami yang sabar, tentu ndak ada yang bisa bantu. Tapi alasan kedua, kita semua ingin tau.

Baru beberapa tahun sebelum menikah ia mengalami orgasme terbaik di dunia. Dengan satu kekasih, yang ia butuhkan tinggal mengetahui kalau mereka akan berhubungan sex dan merasakan pelir pacarnya masuk vagina. He’d slide in and the world would explode! Itu terjadi tahun 2010. Pada tahun 2012 ia punya kekasih lain, hal yang sama. Ndak butuh foreplay apapun. Ndak wajib dimulai dengan rangsangan klitoris, meski hal itu menambah sensasi.

sumber: Google

sumber: Google

SI ITIL BAJA bisa jadi disebabkan stimulasi yang terus-menerus. Klitoris jadi capek. Boleh lah disebut clitoral fatigue. Kejadian ini harus dipecahkan dengan kemampuan sex yang lebih kreatif. Hingga tingkat penetrasi berulang yang menimbulkan efek rangsangan berbeda-beda. Atau cukup beri waktu satu-dua hari supaya klitoris bisa beristirahat dan memulihkan staminanya. Ingat, klitoris adalah satu dari sekian organ seksual perempuan yang merasakan nikmat dan menimbulkan orgasme. Stimulasi klitoris tunggal biasanya dilakukan pasangan muda yang belum mau penetrasi. Setelah menginjak umur lebih dari 21, kebanyakan perempuan mencapai orgasme lewat aneka stimulasi. Karena stimulasi klitoris tunggal akan susah menghasilkan orgasme seperti halnya sex lengkap dengan melibatkan banyak organ dan cinta.

Kalau dipikir lagi. Julukan SI ITIL BAJA ndak relevan dengan kejadian sebenarnya. Lebih cocok SI ITIL SUTRA kan ya?

Advertisements

One thought on “SI ITIL BAJA

  1. Pingback: LINIMASAKami

Leave a Reply