Lupakan Florence Sihombing, Mari Kita Berinvestasi

Jika anda memiliki uang berlebih dan ingin berwisata ke kota yang jarang dikunjungi orang, datanglah saat Paskah ke Larantuka. Anda akan menemui Tuan Ma dan Tuan Ana, yang sosok keduanya sudah dikenal baik oleh kita. Pasti!

Khusus pada hari Paskah, masyarakat Katolik Larantuka akan membopong beramai-ramai Tuan Ma dan Tuan Ana berkeliling kota. Ritual ini oleh warga Larantuka disebut Semana Santa, sebuah prosesi budaya dan agama warisan Portugis. Lantas siapakah Tuan Ma dan Tuan Ana yang digambarkan dengan mimik muka tanpa senyum dan merunduk ini? Tuan Ma adalah panggilan sayang warga Larantuka untuk Tuhan Yesus. Sedangkan Tuan Ana, sosoknya lebih kita kenal dengan Bunda Maria. Sosok Tuan Ana yang tak tersenyum dan merunduk ini oleh sebagian warga dikenal juga sebagai Patung Bunda Maria Berdukacita. Karena mayoritas warga beragama Katolik, tak heran jika gereja dan komunitasnya, menjadi sentral sarana berinteraksi masyarakat kota ini.

Larantuka sebenarnya adalah nama sebuah kecamatan di Kabupaten Flores Timur.  Berbeda dengan Kupang yang berada di Pulau Timor, Larantuka dapat dilalui dengan jalan darat dari Kota Maumere menuju arah timur. Sebaliknya, apabila kita menelusuri ke bagian barat pulau Flores, kita akan menemui kota Ende dan Ruteng yang berhawa lebih sejuk dari kota-kota lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tak heran jika tanaman kopi tumbuh subur di daerah ini. Larantuka masih kalah pamor dibandingkan dengan daerah wisata lainnya di provinsi tersebut, seperti Labuhan Bajo dan pulau Komodo. Kota yang relatif tenang dan senyap. Penduduknya, tidak lebih dari 50 ribu jiwa.  Sebagian dari mereka banyak yang mengadu nasib ke kota besar seperti Denpasar, Surabaya, Makasar, Jakarta dan Batam dengan profesi beragam: menjadi buruh kasar, penjaga malam dan pembantu rumah tangga.

___

Pada bulan Desember 2013 ketenangan Larantuka tiba-tiba terusik. Senyap yang berangsur-angsur sirna. Kenapa?

Maaf.

Jika mengira ketenangan dan senyapnya Larantuka karena ulah mahasiswi, maka anda salah terka. Penyebabnya bukan karena gadis manis ekspresif, lincah, centil, lucu bernama Florence Sihombing. Larantuka, sama sekali bukan Jogja. Sumber riuhnya Larantuka hanyasatu orang bernama Nikolas Ladi, pemilik sekaligus pengelola Lembaga Keuangan Finansial Mitra Tiara.

Berduyun-duyun warga berkumpul setiap hari di halaman kantor LKF Mitra Tiara. Mereka berharap uang investasi yang telah ditanamkan pada lembaga tersebut kembali. Tercatat lebih dari 16ribu warga berinvestasi di lembaga tersebut. Diduga LKF Mitra Tiara mengelola lebih dari Rp500milyar. Menakjubkan bukan? Konon katanya, dari buruh tani, pegawai negeri, bupati hingga orang nomor satu di negeri itu menanamkan uangnya. Awalnya setiap bulan setiap investor mendapat imbal hasil hingga 10%. Jika menanam Rp.100juta maka bulan berikutnya, si investor memiliki “tabungan” sebesar Rp.110juta. Apalagi sejak tahun 2010 ketika LKF Mitra Tiara ini didirikan, tak pernah sesenpun Nikolas Ladi ingkar janji. kapanpun, berapapun warga hendak mengambil dananya kembali, Nikolas Ladi siap beraksi: mengembalikan pokok plus bunga saat itu juga. Kurang apalagi?

Tergiur Janji Manis?

Namun, sudah patut diduga, investasi dengan tingkat pengembalian bunga yang begitu tinggi tak bertahan lama. Sebagian warga yang menanamkan dananya sejak awal, secara matematis telah “balik modal”. Apa daya, sifat dasar manusia yang cenderung serakah, melihat peluang emas semacam ini, banyak warga yang rela menjual tanah, mobil, meminjam uang ke sanak famili, hingga  beranikan diri meminjam uang dari lembaga keuangan resmi seperti koperasi atau bank. Bagai menenggak air laut, semakin banyak minum airnya, haus makin terasa. Warga terus percaya pada Nikolas Ladi. Apalagi ketika Nikolas memugar bangunan kantornya, membangun hotel dan perusahaan transportasi antar kota. Warga makin percaya, Nikolas Ladi pahlawan ekonomi.

Pertengahan tahun 2013, para investor mulai merasa kesulitan. Gejala awalnya adalah penurunan suku “bunga”. Dari 10% menjadi 8%. Bulan berikutnya investor tidak dapat menarik pokok, dan hanya dapat menarik bunganya saja. Keadaan semakin sulit, LKF Mitra Tiara memberi persyaratan baru: “Jika ingin mengambil bunga, beritahu seminggu sebelumnya”. Celakanya, warga masih saja berharap situasi membaik. Sebagian warga malah menambah jumlah nominal investasi.  Jumlah investor pun bertambah. Tidak hanya berasal dari Larantuka, warga Maumere dan Ende turut serta.

Bulan Desember 2013, Nikolas Ladi tak pernah hadir lagi. Desas-desus mengatakan Nikolas Ladi berada di Jakarta mencari dana segar dan menyelesaikan janji investasi. Warga  yang menjadi investor setiap pagi berkumpul di halaman kantor LKF Mitra Tiara. Lebih dari 200-an warga “absen pagi” dan berharap melihat wajah Nikolas Ladi. Anehnya, tak seorang pun warga yang memberanikan diri melaporkan Nikolas Ladi kepada Polisi. Mereka masih berharap pada Nikolas. Pikir mereka, jika Nikolas ditangkap polisi, siapa yang akan mengembalikan uang. Polisi? Mana mungkin! Lama-kelamaan warga multi beraksi. Pot tanaman yang menghiasi halaman kantor diam-diam dijual orang. Mobil operasional kantor yang dijaga karyawan LKF Mitra Tiara secara damai diambil warga. Perabot dan furnitur lobby maupun kamar hotel milik Nikolas Ladi diboyong entah kemana, entah oleh siapa. Seperti gadis manis yang lupa diri, sedikit-demi sedikit membiarkan dirinya digerayangi.

Menuhankan Uang Untuk Menghamba Pada Tuhan.

Fenomena investasi sebagaimana yang dilakukan Nikolas Ladi bukan hal baru. Anehnya, investor tetap saja banyak yang berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi korban. Apakah sudah pasti ini adalah semacam tipu-tipu? Belum tentu.

Akhir-akhir ini kita mendengar banyak kesempatan investasi dengan bunga begitu tinggi. Ada juga pelaku semacam ini yang meramunya dengan sentimen agama. Menjual paket combo: investasi dan pahala ilahi. Dengan berkedok pengelolanya telah mendapat restu MUI, sebuah perusahaan meraup begitu banyak uang investasi lalu menghilang dan sulit dicari. Tiba-tiba perusahaan tersebut bertatus pailit. Lain halnya dengan pemuka agama yang selain berdakwah juga rajin berwira usaha. Getol menawarkan jalan surga sembari investasi. Suatu ketika, saat akan dimintakan keterangan oleh pihak otoritas apakah perusahaannya memiliki izin pengelolaan investasi, dengan sigap sang relijius kapitalis ini berkelit:

“Kami sekarang kenakan baju koperasi. Dari kami, oleh kami, untuk kami. Kenapa ente ikut urusan kami?”

Jemaahnya mendukung dan memberi tepuk tangan penuh harapan akan pahala dan keuntungan. Mereka percaya Tuhan Maha Pemurah. Jika kita beri satu akan tumbuh seribu. Beramal satu pahalanya seribu. Bagi mereka, Tuhannya dijadikan semacam rekan bisnis. Hubungan transaksional antara hamba dan sang pencipta.

Dahulu, kita sempat mendengar mendengar perusahaan investasi Qisar, juga Wahana Globalindo. Baru-baru ini kita juga dikagetkan dengan Koperasi Langit Biru yang konon katanya mengelola dana hingga mencapai angka satu trilyun lebih. Pemiliknya, pada akhirnya tewas saat menginap di rumah tahanan. Di luar negeri fenomena serupa sudah lama muncul. Kita mendengar nama Bernard Maddof. Lantas, apa bedanya antara penipuan berkedok investasi ini di dalam negeri dan di luar negeri? Di sana, korban utama bisnis ala skema ponzi adalah pengurus pengelola dana pensiun dan pemilik modal cukup namun tak ingin sisa dana yang dipergunakan untuk bisnis utamanya menganggur dan mati gaya. Mereka berharap bukan pada sekadar bunga tinggi, tapi juga kepastian dalam berinvestasi. Semacam menaruh telur pada beberapa keranjang. Diversifikasi investasi. Cara Maddof meyakinkan korbannya sedikit agak berbeda dengan penipu lokal nusantara. Dia justru seringkali menolak penempatan investasi yang dinilai relatif dalam jumlah banyak. Dia tak mematok bunga terlalu tinggi. Dia ingin memberi kesan kepada calon korban bahwa dirinya tak sembarangan menawarkan investasi. Walaupun pada akhirnya yang ditolak tersebut menanamkan investasi jauh lebih banyak. Jauh lebih percaya.

Sedangkan di Indonesia, korban penipuan investasi lebih banyak berasal dari warga biasa, jika tidak ingin dikatakan warga ambang batas garis kemiskinan, yang berharap mendapatkan sesuatu tanpa perlu banyak bekerja. Mengangkat derajat hidup. Manusia membantu manusia. Tidak sedikit para investor adalah karyawan level rendahan biasa yang bosan hidup ala kadarnya. Alih-alih mendapat rejeki, akhirnya mereka justru gigit jari.

Tak jarang juga Engkoh Cicik pemilik uang bejibun menjadi korban. Namun bukan saja tergiur karena bunga tinggi. Lebih sering mereka tergiur janji manis lainnya: “Tanpa Pajak”. Cara berinvestasinya pun dibuat mudah dan seringkas mungkin: Tarik deposito, masukkan lagi ke rekening tabungan atas nama perusahaan investasi yang tercatat pada bank yang sama atau bank yang berbeda. Lalu, bukti transfer atau pindah buku dianggap bukti investasi. Mudah bukan?

Tanpa dipotong pajak? tentu saja. Bunga tinggi? Ya! Maka, sang Engkoh pun bernyanyi dalam hati: “subidub bidup..cuan cuan cuan” dan si Cicik tersenyum berseri-seri.

Tipuan Yang Disodorkan Secara Jujur

Jika dicermati, salah satu model bisnis yang mudah tumbuh adalah model bisnis semacam MLM dengan tanpa kejelasan bisnis utama peraup labanya. Tanpa produk yang jelas dan mengutamakan ajakan menjadi anggota. Biasanya mereka akan memunculkan satu role model yang sukses. Punya rumah besar, suami ganteng, giginya putih, masa lalunya ibu rumah tangga biasa, dan bisa disentuh, diraba, tepuk tangan bersama, teriak bersama. Menjual mimpi tanpa henti.

Hebatnya lagi, beberapa model bisnis semacam ini secara nyata memplokamirkan diri bahwa usahanya sebagai usaha dengan skema ponzi. Coba saja ketik “mmm” lewat google. Tertulis dengan jelas: “Ponzi Scheme Company“. Lantas dalam berbisnis model ini ada pihak yang menamakan dirinya Mavrodi. Siapa sih dia? silakan ketik saja. MMM yang konon  pendirinya baru saja berganti nama menjadi Local Wisdom Nusantara mengakui bahwa model bisnis yang ditawarkan adalah investasi dengan skema ponzi. Rupanya jauh-jauh hari mereka telah antisipasi bahwa jika akhirnya ada yang melaporkan mereka ke pihak polisi dengan, misalnya pengenaan delik penipuan, mereka dengan mudahnya berkata:

“Menipu apa? sejak awal kami bilang bahwa kami mengajak menjadi anggota dengan skema ponzi? siapa yang menipu? Bukankah kami bicara apa adanya?”

Akhirnya, kembali lagi: para anggota yang memiliki potensi risiko terbesar untuk rugi. Harapan keuntungan dan kemakmuran yang menjelma bumerang. Sudah bukan lagi zamannya “bagai membeli kucing dalam karung”, melainkan “bagai membeli aroma kucing dalam karung”.

Apa yang seharusnya dilakukan?

Pakar keuangan zaman sekarang selalu bilang: “Menabung pangkal kaya itu masa lalu. Dengan bunga tabungan yang sedemikian kecil maka sejatinya nilai dalam uang tabungan kita menyusut. Harga barang naik. Inflasi. Kita merugi”. Lalu berduyun-duyunlah seruan ” Mari investasi”. Kita mengenal Bapak Garpu, Nyonya Tinjuan Lo Apa, Om Hari Lebaran yang selalu siap membantu. “Investasi adalah sebuah langkah cerdas!”, kata mereka. Benar! Tetapi investasi macam apa dulu? Tinjuan Lo Apa dulu?

Jika seorang rentenir menghilang. Siapa yang rugi? Dengan pengenaan bunga mencekik leher, Pokok plus bunga, embok yang beranak dan anaknya jadi embok dan melahirkan anak lagi menjadikan uang pinjaman untuk beli motor mengharuskan kita menjual rumah untuk melunasinya. Rentenir kabur, warga riang gembira. Lantas bagaimana jika pengelola investasi kabur? Celaka! Warga heboh! Itulah bedanya. Penghimpunan dana tidak sembarang pihak boleh melakukannya. Bahkan sumbangan RT/RW pun perlu izin. Hal ini semata-mata untuk memastikan ketertiban umum dan melindungi warga. Menyangkut hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu menghimpun dana perlu izin dan diawasi.

KIta tahu bahwa bank, asuransi, perusahaan pembiayaan diberi izin dan diawasi oleh OJK. Koperasi diawasi anggotanya dan kementrian koperasi. Sedangkan MLM dan metode bisnis penjualan langsung lainnya diawasi oleh Kementrian Perdagangan. Investasi langsung dan permodalan dari luar negeri diawasi BKPM. Investasi perdagangan emas oleh Bappebti.  Semua ada caranya. Semua ada izinnya. Semua ada yang mengawasi. Pada pokoknya, lembaga tersebut beri iIzin, awasi, dan jika perlu beri sanksi.

Maka apabila anda ragu apakah model bisnis yang ditawarkan teman-lama-yang-jarang-bersua-lalu-datang-tiba-tiba-sembari-menjanjikan-anda-lekas-kaya itu merupakan investasi abal-abal, jangan ragu untuk bertanya pada lembaga pengawasan resmi. Toh, sekarang semuanya serba canggih. Jangan hanya canggih membully, tapi juga canggih untuk bertanya soal investasi. Malu tersesat, bertanyalah di jalan. Ingin cara paling mudah? kirimkan surat elektronik ke instansi tersebut atau carilah nomor kontak suara. Tidak digubris, kirim sekali lagi dan tembuskan pada Ombudsman. Dijamin surat anda akan ditanggapi. Jika perlu, cobalah sesekali hubungi Kontak Suara 021.500-655 atau email ke waspadainvestasi@ojk.go.id. Investasi apapun halal untuk ditanyakan.

Apakah saat bertanya pada lembaga pengawas pasti mendapatkan jawaban? Tergantung pertanyaan anda. Bertanyalah secara ringkas, misalnya: “Apakah penawaran bisnis investasi PT. XYZ telah memperoleh izin? Jika iya, dari lembaga apa?”. Kira-kira jawabannya akan seperti ini : “Perusahaan XYZ sejauh penelitian kami, belum pernah mendapatkan izin melakukan pengelolaan investasi dari instansi berwenang. Titik”. Apa artinya? Berarti, usaha yang dilakukan XYZ ilegal dan tidak diawasi. Perusahaan yang tidak jelas jenis kegiatan usahanya, underlying bisnisnya, mekanisme kerjanya, laporan keuangannya, dan hal lainnya yang diperlukan sebelum kita berinvestasi, lebih baik jangan didekati.

Bagaimana? apakah anda ingin berinvestasi? Jika uang anda tergolong pas-pasan, saran kami lebih baik untuk jalan-jalan ke Larantuka saja. Dan ingat satu pesan kami: “Lupakan Florence Sihombing, Mari kita berinvestasi.” Eh ralat, karena ini hari Sabtu akan lebih baik jika kami ganti judulnya menjadi: “Lupakan Florence Sihombing, mari kita tarik selimut lagi…”

Advertisements

6 thoughts on “Lupakan Florence Sihombing, Mari Kita Berinvestasi

Leave a Reply