POSISI BINTANG LAUT

Waktu itu bertepatan dengan hari Mahkamah Konstitusi mengumumkan hasil gugatan pemilu presiden, aku diminta menulis di situs ini. Temanya terserah. Deadline dibagikan mingguan. Aku pilih soal gaya hidup dan sex dan hari Senin.

Senin karena biasanya hari minggu ndak terlalu banyak kegiatan. Gaya hidup dan sex, bukan berarti aku tau banyak soal ini. Tapi, aku bisa menikmati sekaligus membuatnya jadi berguna. Berguna untukku. Kalau ternyata berguna untuk orang lain, aku pastikan itu hanya kebetulan belaka. Seluruhnya terinspirasi dari orang-orang terdekat. Kawan-kawan yang mau membagikan kisahnya. Lingkungan yang tiba-tiba membeberkan semuanya. Bisa jadi ini tidak berkaitan sama sekali. Atau bahkan baru saja terjadi dalam kehidupan seseorang. Lalu akan aku kisahkan ulang dari sudut pandang pribadiku. Tanpa campur tangan norma, agama, tekanan sosial dan tata-krama. Seperti yang berikut ini…

Empat dari sepuluh orang bilang hubungan sexnya memburuk setelah dua tahun pernikahan. Sisanya percaya baik-baik saja. Suami dari tiga diantaranya berselingkuh. Dan, tujuh dari sepuluh mengaku pernah dalam posisi bintang laut. Statistik kasar ini aku ambil dari hasil wawancara dengan rekan kerja, kawan makan siang, dan suami-suami yang aku tiduri.

starfish

Persis seperti bintang laut. Terlentang pasrah tanpa banyak bergerak. Yang penting lawan sex puas. Bisa dialami suami maupun istri. Juga pasangan belum menikah dan sex komersial. Sebagian besar alasannya karena males. Sebagian kecil ndak mood, sakit, malu, ndak cinta lagi, bosen, pelacur amatir. Lebih kronis lagi, banyak yang anggap posisi bintang laut baik-baik saja. Normal dalam tiap tahap hubungan. Sementara prinsip dasar hubungan sexual adalah: timbal balik.

Tanpa unsur “saling” sex bisa digolongkan sebagai perkosaan. Pertanyaannya sederhana. Untuk yang beralasan di atas: kenapa melakukan hubungan sex kalau males, ndak mood, sakit, malu, ndak cinta lagi, bosen? Khusus untuk pelacur, silakan minta diskon. Aku ndak akan menuliskan jawabannya di sini. Percuma. Semua lebih bersifat alasan ketimbang jawaban. Pertanyaan selanjutnya: pernahkan hal ini dibicarakan dengan pasangan sex kalian? Tepat, seratus persen menjawab “Ya enggaklah! Gila apa?!

Ini hasil bawaan tabunya sex dalam masyarakat. Bukan hanya pendidikan sex usia muda saja yang disalah artikan. Bahkan komunikasi sexual orang dewasanya ndak jalan. Kebebasan manusia untuk memilih dan menikmati sex terkhianati. Sex sebagai anugerah diredam pada strata naluriah. Gejala alam dan waktu menentukan, macam hewan. Itupun, ketika tiba saatnya ditekan sedemikian rupa hingga nikmat yang dihasilkan setara dengan rasa bersalah yang ditanggung. Jangan campurkan dengan aneka dosa, pengabdian dan pengorbanan supaya tulisan ini ndak jadi omong-kosong.

Untuk ndak bilang posisi bintang laut setara perkosaan, mari kita anggap ia adalah akibat dari tidak hadirnya komunikasi sexual dalam suatu hubungan. Terdengar politis memang. Tapi mau bilang apa lagi? Kenyataan. Kita masih percaya sex bukan untuk dibacarakan. Apalagi di bahas di depan kelas. Di kamar-kamar pengantin barupun sex hanya akan dimulai dengan diam-diam. Grelia tangan yang merangsang tetek berbalas kuluman pelir (hasil konsensus penulis Linimasa untuk kata ganti kontol) berakhir penetrasi. Tetek dan pelir dibiarkan saling komunikasi. Kalau keduanya meregang ya tinggal dilanjutkan. Perempuan yang sudah menikah lebih dari sepuluh tahun juga ada yang belum pernah lihat pelir pasangannya. Jarang ada percakapan membangun pasca sex. Seringnya diakhiri dengan bersih-bersih dan tidur. Kalau satu pihak ada yang mau mulai membahas tentang semalam, pihak lain akan diam. Entah enak atau ndak. Sex cuma tinggal di ranjang. Semua yang berkaitan dengannya di luar ranjang jadi tabu. Lalu, sama-sama diakui sebagai baik-baik aja… Biasa aja ah. Gandrasta berlebihan.

Baiklah, aku tunggu percakapan seperti, “Sayang, ngewe yuk?” sebelum mulai. “Pake jari aja, biar kita sama-sama keluar” saat penetrasi. Dan “kamu apain aku semalem kok memar gini ya?” setelah semua tuntas.

Advertisements

3 thoughts on “POSISI BINTANG LAUT

  1. Pingback: LINIMASAKami

  2. Pingback: Titit: Kenali, Pahami, Nikmati | BE NOTED

Leave a Reply