Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.

 

Momen

Beberapa hari lalu, saya membeli buku karya David Thomson, penulis spesialis film asal Inggris. Judul bukunya “Moments that Made the Movies”. Ini sedikit cukilannya:

“Do you remember the movies you saw, like whole vessels serene on the seas of time? Or do you just retain moments from them …? Most people, I find, remember moments from films they saw as children or adolescents (so true film buffs like to extend those stages of life). Yet often the moment has overwhelmed the film itself.”

Kalau Anda sekarang berusia akhir 20-an, dan mulai rajin nonton film waktu umur 10 tahun, paling tidak pergi ke bioskop 2 minggu sekali, paling tidak sudah lebih dari 350 film yang Anda tonton sampai sekarang. Apakah Anda bisa mengingat satu per satu jalan cerita dari ratusan film itu? Atau hanya sebagian kecil dari adegan film yang bisa diingat, yang kemudian mewakili seluruh kenangan dan ingatan tentang film yang telah ditonton? Yakin masih bisa cerita dari awal sampai akhir film E.T., dan gak cuma ingat adegan sepeda melayang di depan bulan?

Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)
Moments That Made The Movies. (Courtesy of asos.com)

Tentu saja kata film di sini juga bisa diganti dengan kata benda lain.
Buku, lagu, atau tahun.

Mari kita bayangkan diri kita tidak jauh-jauh dari sekarang. Misalnya, 3 minggu dari sekarang. Saat itu sudah masuk minggu pertama bulan Januari.
Apakah kita masih bisa mengingat apa yang persis terjadi sepanjang tahun 2014 kemarin? Tentu saja kalau semua hal ditulis di jurnal harian, maka kita masih bisa mengingatnya. Itu pun tidak setiap saat saat kita rekam dalam
tulisan. Atau hanya sebagian kecil moment saja yang bisa kita ingat?

Moments that define us are often moments that just pass us by.

Momen yang membentuk diri kita terkadang hanya sekedar momen yang berlalu begitu saja.

Dan dalam setahun, ada begitu banyak penanda waktu yang kadang terlewat begitu saja, di tengah kesibukan kita. Namun terkadang, momen itu begitu kuat, sehingga kita masih akan teringat terus, seperti layaknya twists dalam cerita film yang kadang kemunculannya tidak akan pernah kita sangka.

Mungkin itulah yang dirasakan Fradita Wanda Sari, saat menulis “These Movies Define Me” di blognya. Pilihan filmnya, Like Father Like Son, terasa begitu kuat di kami di Linimasa yang membacanya. Terlebih saat Dita bercerita bagaimana film ini seperti mencerminkan hubungan Dita dengan ayahnya yang sedang diuji tahun ini. Membaca tulisan Dita jadi seperti membayangkan film tentang ayah dan anak dalam kehidupan nyata.

Momen yang terasa dekat dengan kami juga saat membaca tulisan “Sometimes The Wrong Train Will Get You To The Right Direction” di blog milik Bang Bernard. Ada satu kejujuran yang menggelitik, yang tidak saya pikirkan sebelumnya. Bernard menulis: “kalo nonton film di pesawat, buat gue kekuatan cerita itu nomor satu. Special effect sih gak ngaruh, orang nontonnya pake headphone.” Senang rasanya membaca cerita dari orang yang percaya pada kekuatan cerita di atas segalanya.

Dan lewat medium apapun, cerita bisa membawa perubahan. Kami pilih film, karena film terasa lengkap menggambarkan bahasa visual yang bisa mewakili apa yang ingin kita proyeksikan di kehidupan sehari-hari. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Inilah yang Agnes Gultom tulis di “Old & New – 2 Mujur (Sangkar)”. Menonton film di layar notebook yang kecil, yang ternyata buat Agnes, seperti dikutip dari blognya: “Bukan hanya membekas, tapi meresap serta mengubah.” Siapa sangka keputusan hidupnya menjadi berubah setelah menonton film?

Perubahan hidup tidak harus besar. Terkadang kesan atau impresi yang kuat pun bisa membekas begitu lama, sehingga bisa mengubah persepsi kita terhadap sesuatu. Sepertinya itu yang dirasakan Nadya Laras saat menulis “1st post: Jawab Pertanyaan Linimasa” di blog yang baru saja dia buat khusus untuk ini. Kekuatan film yang bisa mengubah persepsi kita terhadap aktor atau aktris yang selama ini kita kenal, bisa membuat orang akhirnya tergerak untuk melakukan hal yang simple, yang bisa jadi tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Dan yang tidak terpikirkan oleh Dhoni Fadliansyah saat menonton X-Men: Days of Future Past dan The Raid 2 tahun ini adalah bahwa sebentar lagi, dia akan belajar bela diri, dan saling menghargai orang lain. Itu yang dia tulis di blognya, “Film Yang Berkesan”. Perubahan dimulai dari hal yang kecil dan simple, toh?
After all, the timing is right: talk about New Year’s Resolutions!

Lima momen yang sudah dishare inilah yang membuat kami memutuskan untuk memberikan hadiah di Kuis Linimasa Volume 1 kepada mereka.

Selamat!

Terima kasih sudah berbagi momen-momen spesial di tahun 2014 ini. Oh ya, tolong kirim email berisi nama lengkap, alamat pengiriman dan nomer telpon yang bisa dihubungi ya.

Isn’t it great to be able to share special moments?

Lucky Number 13

Ini tulisan ke-13 saya di sini. Tidak terasa. Sudah tiga bulan saya dan teman-teman bergantian menulis untuk Linimasa.
Sudah serupa warteg. Tulisan-tulisan yang disuguhkan rasanya berbeda-beda. Beda orang beda karakter, katanya.

Tulisan Nauval seringnya melankolis, kerap menyentil pojok hati yang kadang sudah berdebu karena ditinggalkan—atau malah sengaja dilupakan. Setiap membaca tulisan-tulisannya ulu hati selalu hangat. Kadang mata pun berembun.

Long-long paling piawai mengajak merenung lewat kata-kata. Rasanya adem. Sementara tulisan-tulisan Masagun selalu penuh analisa dan matang. Yang paling lembut di antara kami bertujuh justru Gandrasta. Orang ini penuh rasa cinta.

Aku suka sekali gaya tutur Papah Glenn yang apa adanya. Suka atau ndak suka, semua dijembrengin. Sementara Masungu itu Linimasmas yang paling puitis. Kaya diksi. Romantis. Lihat saja betapa indahnya resensi yang dia buat setiap pagi. Kalau tulisan-tulisan kami ini film, maka Masungu adalah Roger Ebert-nya.


 

Selain mereka berenam, ada beberapa orang lain yang “rumah”nya sering saya kunjungi. Hari ini saya ingin mengenalkan mereka kepada kalian:

1. SASTRI

sastri

Sama seperti namanya. Blog ini milik Sastri, seorang travel journalist. Tulisan-tulisan Sastri begitu “bersih”. Deskriptif sekali. Mengalir. Sekilas mengingatkan saya dengan tulisan Ahmad Yunus.

Gak cuma pintar bertutur, Sastri juga pintar motret. Tulisan-tulisan dia yang cantik itu ditunjang dengan foto yang gak kalah bagusnya. Keliatan jelas kalau setiap perjalanan dia selalu pakai hati.

2. CHIPPING IN

eva

Sama seperti Long-long, tulisan-tulisan mbak Eva Muchtar selalu bikin adem. Di saat yang sama tulisannya begitu… dalem. Mengajak kita untuk mendengar. Satu hal yang sering banget terlupakan.

3. TERSENGAT KALIMAT

teguh

Teguh Afandi mahir sekali menulis cerpen. Gayanya antara surealis dan realis, tapi ndak “ketinggian”. Saya paling suka kalau dia sudah bahas soal kultur atau kebiasaan masyarakat tertentu. Semoga suatu saat tulisan dia ini bisa dibukukan.

 

Apa blog favoritmu? bolehkah dibagi di kolom komentar? 🙂

Karena Kita Butuh Lebih Banyak Hati

sumber: koleksi Bung Tomo
sumber foto: koleksi pribadi dari akun path Dyah Ayu Prasetyo Utami

Seperti rak berisi buku, internet boleh diisi bermacam-macam jenis informasi. Soal sepakbola, puisi, teknologi luar angkasa, iklan pembesar payudara, filsafat islam mahzab mu’tazilah, politik dagang sapi, bahkan berisi sekadar caci maki. Berangkat dari kesadaran keanekaragaman itulah linimasa hadir. Kami mencari ruang kosong sebisa kami dan mengisi beberapa deret di antara buku-buku lainnya dengan tulisan yang muncul dari hati.

Nauval Yazid adalah salah satu temanku yang ikut mengisi rak buku sub bagian linimasa. Dia dikenal baik oleh kami sebagai pria yang kontemplatif sekaligus melankolis. Kadarnya akut. Semua hal dipikir dalam-dalam. Sedangkan Agun Wiriadisasra, anak hipster asli tanah Pasundan. Soal lagu, filem, bahkan isu terkini sudah ia ketahui sebelum si pembuat lagu, penulis naskah filem dan penyebar isu tersebut merilis resmi. Sedangkan Gandrasta Bangko itu banci karbit. Pendapat ini dilontarkan sahabat baiknya, Glenn Marsalim. Nah, Glenn Marsalim sendiri adalah pria dengan tattoo naga warna biru di tubuhnya namun begitu takut apabila Jokowi lekas mati. “Kasihan para pendukungnya. Apalagi Jokowi mati sebelum sempat balas budi“. Entahlah apakah ini alasan yang mengada-ada. Namun ketegasannya saat memberikan alasan tersebut, kami yakin Glenn sedang bicara serius. Adapun Dragono Halim, seorang pemuda yang begitu mencintai ajaran buddhisme. Kami yakin, 9 dari 10 tulisannya kemarin, sekarang dan yang akan datang berisi soal ajaran buddha. Aku pribadi mulai curiga bahwa dirinya membawa misi tersendiri untuk mengembalikan ajaran yang dihayatinya seperti di era keemasan Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan Farah Dompas adalah gadis muda yang ternyata, diam-diam, begitu berbakat sebagai mak comblang namun dia sendiri agak khawatir dengan karir asmaranya. “Aku berkejaran dengan menyusutnya ovarium di dalam tubuhku“, katanya suatu ketika. Kami, tentu saja, tidak menanggapinya.

Kami, bertujuh, sejak 24 Agustus 2014 mengawali pagi dengan memberikan pandangan, gagasan, igauan, gurauan, keseriusan, bahkan fatwa yang sekiranya berguna. Ukuran berguna yang kami maksud disini dibatasi setidaknya menurut ukuran masing-masing penulisnya sendiri. Maka, saat menulis postingan kali ini, kami telah menulis setiap hari untuk satu bulan pertama.

Setiap hari.

Tanpa jeda.

Ini kami lakukan bukan untuk menyaingi harian Jawa Pos. Sama sekali bukan. Kami hanya berupaya menjadi blog rame-rame yang paling teratas dan terunggul di negeri ini. Hanya itu. Indoprogress? lewat! Apalagi MidJournal. Kalau SeratKata? … *batuk*

+++

Puthut EA  menulis dengan baik dan dirangkum dalam bukunya yang berjudul Mengantar Dari Luar. Salah satu artikel yang disampaikannya bicara mengenai Agus Suwage, pelukis papan atas Indonesia. Bagi teman sepermainannya selama sekolah di De Britto akhir tahun 70-an, Agus Suwage tidak dikenal. Mereka lebih akrab memanggilnya Agus Kenthu. Entah apa sebabnya. Oh bukan. Kami sama sekali tidak sedang membicarakan soal kenthu-mengenthu. Apalagi yang khidmat. Karena kami percaya dan selalu percaya, perkenthuan hanya pantas untuk dipraktekkan dan tak perlu dibahas. Saat membaca artikel soal Agus Suwage tersebut, aku tertarik dengan pendapatnya soal lukisan hasil karyanya sendiri: “Lukisanku itu bukan semacam penisilin. Bukan karya seni untuk mengobati luka atau orang lain memperoleh manfaatnya. Tapi setidaknya dengan melukis, dapat menjadi semacam terapi buat diriku sendiri.”

Begitu juga dengan kami. Atau katakan saja, biar adil, aku. Menulis adalah terapi. Soal apakah bermanfaat bagi pembaca, itu urusan lain. Bahkan ketika Paramita Mohamad, ratu skeptis Indonesia yang wajahnya terkesan selalu murung, mengejek kami bahwa tulisan linimasa terlalu membawa pesan moral, gayanya semacam “chicken soup”, terlalu naif dan ketinggalan dari isu terkini, kami hanya bisa mengingat dan menerapkan aforisma latin: “Caper diem”. Orang yang lagi caper, maka sebaiknya respon yang ditampilkan adalah diem. Kecuali kita ingin meladeninya. Tapi tidak. Kami tidak berani membalasnya. Juga ketika Zen RS mengenalkan kami pada kata-kata yang termuat dalam KBBI seperti sangkil dan mangkus, juga mengajari kami perbedaan soal surat terbuka, petisi, atau laporan jurnalistik, kami hanya terdiam. Eh, ndak. Kecuali Fa (Farah Dompas). Dia susah menerima kenyataan ketika tulisannya yang mengusung topik surat terbuka dibilang oleh Zen jelek. Bahkan bukan hanya jelek, tapi ditambah dengan emotikon lidah menjulur.

jelek :p

Fa menangis berbulan-bulan karenanya.

Lalu, kenapa hati?

Banyak pembaca yang bertanya kepada kami dengan kata “hati” di ujung tagline kami. Ya. Hati. Serupa cinta yang tidak melulu soal hati tapi juga perlu nyali. Maenjadi masalahan ketika ‘nyali’ di ranah internet, apalagi media sosial sudah terlalu banyak bertebaran. Nyali kami terlalu ciut. Nyali diobral dan dipertontonkan di luar sana. Saling ejek, twitwar, saling gugat, caci maki, juga ada yang dengan sukarela memberikan belahan dada dan mulusnya paha dengan bungkus untuk dan atasnama lomba. Salah? Tidak! Masalahnya cuma satu: kami tak memiliki nyali. Kami hanya memberanikan diri menawarkan hati.

Jangan pernah pertanyakan soal hati kepada kami. Aku yakin hati Gandrasta adalah hati terbesar yang pernah dimiliki umat manusia sejak peristiwa Malari. Kenapa Malari? karena itu yang terlintas di benakku saat ini. Hati Gandrasta menaungi kami. Tapi kalau soal nyali, maka nyaliku adalah nyali paling sedikit diantara penulis yang lain. Bahkan untuk menampilkan nama sesuai akta kelahiranpun tak sanggup. Entah kenapa.

Hati sepertinya sesuatu yang paling penting harus diingat dan dikagumi. Kedalaman laut dapat diukur, tapi dalamnya hati siapa yang tahu. Perih-bahasa ini melekat erat di benak kami. Hati-hati, saat main hati, nanti bisa patah hati. Anak itu wajahnya seram, tapi hatinya baik. Lihat itu besan Presiden, namanya keren: Hati Rajasi. Oke, kali ini #ngok.

Tapi dengan serius dapat kami sampaikan, bahwa secara hati-hati linimasa hadir bukan untuk menjadi media. Kami berangkat dan akan berakhir sekadar blog. Berbagi, juga sebagai pemicu dalam berdiskusi. Ketawa-ketiwi.  Membicarakan isu terkini, Bicara perilaku banci ibukota, artis yang sedang naik daun, cinta platonis, kondisi politik negeri ini, juga soal “asmaragama”, sebuah teori fusi tentang asmara dan agama. Bahkan pernah kami terjebak dalam diskusi bagaimana sebaiknya mencukur rambut kemaluan yang baik dan benar. Kami, bertujuh, menjelma dari para pengisi kolom blog yang terus belajar menulis, menjadi penggosip nomor satu negeri ini. Sepanjang hari. Tanpa henti.

Bagi kami soal hati adalah soal duniawi yang begitu diharapkan mengantarkan kami ke alam surgawi. Eh, ralat. Bukan “kami” karena Gandrasta tidak. Hingga saat ini dia percaya bahwa hidup sebenarnya bukan saat ini. Kelak ketika saatnya dia mati, maka dia akan kembali kepada kesejatian dirinya di kehidupan lanjutan yang lebih hakiki: Sebagai Miss Universe. Kami, sebagai sahabatnya, percaya dan akan selalu percaya perkataannya, seperti rasa percaya kami bahwa SBY bisa galak di depan Bu Ani.

Dalam bukunya, Puthut EA mengutip begini: “Terlalu bersemangat…“, kata salah satu Panglima perang Amerika Selatan, “…bisa menjelma menjadi pembunuh utamamu“. Itulah kami. Menjaga agar semangat kami tak terlalu berkobar, berkibar, apalagi kabur. Semangat kami dijaga sebisa mungkin sedang-sedang saja. Tugas piket dengan tertib dijalankan. Pembagiannya cukup jelas, setiap penulis akan merilis tulisannya seminggu sekali. Lebih dari itu kami haramkan, kecuali mengisinya di blog pribadi atau kolom path milik sendiri. Jadual selonggar inipun rasanya tetap berat sekali. Kelemahan kami adalah soal disiplin diri. Karena sadar akan hal itu, maka jadual menulis diatur setiap minggu, mau-tidak mau harus dipenuhi. Demi apa? Untuk hal itu hingga saat ini menjadi pertanyaan besar bagi kami sendiri. Diam-diam selalu muncul dari pikiran masing-masing penulis. Untuk apa? Kemasyhuran? Uang? Atau sekadar memenuhi hasrat dan kegenitan intelektual semata?

Sepertinya tidak.

Kami adalah keluarga. Itu kesimpulan kami. Ketika pembaca linimasa ada yang memberi saran soal navigasi web, tampilan blog, ukuran font, dan kepraktisan saat membaca, kami anggap sebagai bahan masukkan yang berarti. Kami segera diskusikan. Lalu ditindaklanjuti? Belum tentu. Masih dipikir-pikir lagi. Kami menyukai tampilan blog saat ini, walaupun kelemahannya adalah belum tercantum jelas nama penulis di setiap postingan setiap harinya. Ndakpapa. Pelan-pelan. Toh akhirnya pembaca mengetahui sendiri siapa yang tugas jaga dan piket hari ini. Fa Jumat, Roy Sabtu, Glenn Minggu, Gandrasta Senin, Agun Selasa, Gono Rabu, dan Nauval di hari Kamis. Ketika postingan muncul di hari itu, berarti petugas jaga-lah yang menulisnya.

+++

Linimasa Quo Vadis.

Hingga saat ini aku dan teman-teman linimasa tak tahu mau berujung dan berakhir dengan gaya macam apa linimasa ini. Dijual kepada raja media-kah? Diisi dengan berbagai iklan yang bejibun mirip dengkul dan koreng yang datang silih berganti di laman detik.com, mati suri tanpa alasan yang jelas, atau diam-diam menjelma sebagai situs properti yang menawarkan harga perumahan, pemakaman dan info kos-kosan. Entahlah. Aku ndak tahu. Satu yang jelas: kami masih begitu menikmatinya. Apalagi jika anda, pembaca mau untuk mengisi kolom komentar, atau susah payah mention akun twitter salah satu akun penulis, atau dengan mengirimi kami puja-puji. Bohong jika kami tidak menikmati itu. Respon pembaca bagian dari semangat linimasa.

Tulisan ini sebetulnya sebuah contoh kecil kecurangan. Alasannya sederhana.  Karena tulisan kali ini tidak menampilkan topik apapun kecuali menceritakan diri sendiri. Apa boleh bikin. Catatan kecil ini aku tulis buat teman-teman para penulis linimasa yang setiap hari telah dengan sudi, (mungkin) agak berat hati, menampilkan pendapat, berbagi informasi dan opini. Ada saatnya untuk selfie. Bukan lewat gambar, tapi postingan. Semoga Fa, Glenn, Gandrasta, Agun, Gono, dan Nauval dapat memaklumi.  Aku cinta kalian.

Terima kasih. Terima kasih. Dan terima kasih.

oh ya satu lagi. HIDUP SCIENTOLOGY !!!