Beberapa waktu lalu, saya mendapat sebuah pertanyaan serupa selama beberapa kali. Pertanyaannya kurang lebih seperti ini, “Kenapa tidak lagi menulis di Linimasa?”
Dan setiap kali mendapat pertanyaan yang sama, jawaban saya kurang lebih sama, “Entahlah, apa masih bisa menulis lagi seperti dulu.”
Kalau yang bertanya tidak ingin menggali lebih dalam, biasanya cukup merespon dengan “Oh, gitu”, lalu kami akan membicarakan hal lain. Ada juga yang bertanya lebih lanjut, “Maksudnya apa tuh, nggak bisa lagi nulis kayak dulu?”
Lalu saya akan bilang dengan bahasa yang berputar-putar, salah satu ciri khas saya kalau ingin menyampaikan banyak hal secara tidak runut, tapi intinya kurang lebih seperti ini, “Saya tidak tahu apa saya masih bisa menulis seperti dulu, soal hal-hal kecil dalam hidup, sementara yang terjadi akhir-akhir ini di dunia adalah hal-hal besar, sebagian benar-benar di luar kuasa kita.”
Lagi-lagi ada yang mengangguk dan membelokkan pembicaraan ke hal lain, namun ada juga yang bersikeras ingin saya menjelaskan lebih lanjut.
Yang saya ingat, saya menghela nafas dalam, lalu melanjutkan, “Ini sebenarnya mulai terjadi di masa pandemi. Waktu itu, saya mulai merasa, kok kayanya ada sesuatu yang lebih besar dari hidup kita sedang terjadi, nih. Dan sesuatu yang lebih besar itu berujung pada kematian. It’s a matter of life and death that is happening next to us. Apa ya pantas saya menulis soal remeh-temeh dalam hidup? Karena terus menerus mempertanyakan hal itu sendirian dalam pikiran, karena tidak bisa berbagi secara langsung dengan orang lain waktu itu kan, ada social distancing, akhirnya merasa overwhelmed dengan situasi yang ada. Dan tahu kan, kalau kita merasa overwhelmed, akhirnya kita malah tidak mau mengerjakan hal yang pernah atau seharusnya kita kerjakan. Kita jadi malas, dan pakai alasan atau excuse macam-macam. So that’s what happened.“
Mau tahu reaksi yang bertanya?
Cukup singkat saja, “But you do realise kan, that people still do small things you often write about, meskipun dunia sedang tidak baik-baik saja?”
Jawaban singkat itu cukup membuat saya kaget. Setelah terdiam cukup lama, saya hanya membalas dengan dua kata terpasrah dalam bahasa Indonesia, yaitu, “Iya, sih”. Dan cukup lama saya menyadari hal itu.
Apakah teman-teman sudah pernah menonton serial “Mo” di Netflix? Di salah satu episode di season ke-2, karakter ibu Mo tidak pernah lepas menatap layar ponselnya untuk mengikuti perkembangan konflik di Palestina. Anaknya, Nadia, mengingatkan ibunya, bahwa sebagai keturunan Palestina, mereka harus kuat dan bertahan hidup. Caranya? Tetap hidup, tidak melulu melihat layar ponsel, karena seperti yang diungkapkan di dialognya “It’s on us to pass who we are to our kids. This is how they’re not going to erase us. No matter how hard they try. We’re more than our pain and suffering, Mom. You wouldn’t know that watching this news.“
Lalu saya ingat juga bagian kecil dari novel “Pulang” karya Leila S. Chudori. Salah satu karakter utama di novel itu, Lintang, malah bercinta saat kerusuhan 1998 terjadi di Jakarta. Demikian pula karakter-karakter di film The Dreamers yang berlatar belakang kerusuhan Paris tahun 1968, dan banyak lagi cerita-cerita lainnya, yang menggambarkan berbagai aktivitas dalam hidup yang mungkin tidak kita asosiasikan dengan kejadian tertentu dalam sejarah.
Waktu masih tinggal serumah dengan orang tua di masa sekolah dulu, saya ingat pernah bertanya ke ibu saya, bagaimana situasi waktu tahun 1965, terutama di bulan September dan Oktober. Ibu saya memulai ceritanya tidak dengan mendeskripsikan situasi yang mencekam seperti di film dan buku sejarah, tapi dia bilang “Ya waktu itu mama masih SMP, ya seneng-seneng aja sekolah pada libur, jadi ya ada waktu buat main sama temen-temen. Banyak demo, tapi ya kita tahunya cuma main sama temen-temen.”

Saat ini, hidup memang terasa berat. Keadaan ekonomi dan politis negara kita dan dunia secara keseluruhan membuat mental kita mudah jatuh, menambah beban yang harus kita tanggung. Secara tak sengaja, saya melihat seorang teman menulis status di akunnya, kurang lebih berkata, “Kalau sudah urusan perut dan biaya hidup, urusan lain, apalagi soal cinta-cintaan, jadi nggak penting lagi.”
Saya tersenyum membacanya, membenarkan sekaligus memaklumi sambil berusaha memahami. Meskipun pemahaman saya mungkin tidak (akan pernah tercapai), saya teringat lagi ucapan ini yang pernah disampaikan langsung ke saya, “People fall in love all the time. Mau perang, mau krisis, we will still find people find love with one another. Nggak kelihatan, nggak kasat mata, because they’re the ones who feel it.“
Dan inilah hidup, yang terasa berat dan harus dilalui, ternyata bisa dilalui lewat hal-hal kecil yang membuat kita terus berjalan.

Semoga saya bisa menulis secara rutin di Linimasa lagi.
Dan semoga kita bisa mengalami hal kecl ini, yang membuat hidup lebih menyenangkan.

Tinggalkan komentar