Kapan terakhir menulis surat? Menulis surat di sini bukan surat elektronik, tapi surat dengan tulisan tangan. Masih ingat, kapan terakhir menulis surat dengan tulisan tangan sendiri?
Dan apa masih ingat, kapan terakhir menerima dan membaca surat dari orang lain, yang ditulis tangan?
Kalau pertanyaan itu ditujukan ke saya, jujur saja, saya juga tidak ingat. Tapi seperti semacam takdir yang menghampiri, tiba-tiba saja dikejutkan dengan sebuah pesan masuk beberapa minggu lalu. Pesan yang datang dari seseorang yang sudah sangat lama saya tidak berkomunikasi dengannya.
Pesannya cukup singkat, cuma berkata, “Hai, apa kabar?”
Berhubung saya menerima pesan itu di saat sedang melakukan pekerjaan, dan menerima pesan-pesan lain yang berhubungan dengan pekerjaan (ide siapa sih sebenarnya yang membiasakan terbentuknya grup-grup WhatsApp untuk pekerjaan kita?), reaksi spontan dalam hati saya cuma, “Hah?”
Setelah membalas pesan-pesan lain, saya cuma membalas singkat pesan tadi, “Hai, I’m good. Apa kabar juga? Tumben. What’s up?“
Tak lama dia membalas, “Baik juga. Nggak ada apa-apa kok. Ini tadi bersih-bersih rumah, nggak sengaja nemu surat-surat dari kamu.”
Pesan tersebut tidak saya langsung baca, karena saya menaruh ponsel di meja setelah mengetik pesan yang menanyakan kabarnya, lalu saya bekerja dengan komputer. Jadi ada jeda waktu saat saya melihat pesan tersebut. Apa reaksi saya saat membaca pesan itu? Terus terang, kaget. Lalu tertawa sendiri, dan menaruh emoji ketawa di pesan tersebut.
Kaget, karena surat-surat tersebut saya kirim jauh sebelum pandemi berlangsung. Tertawa, karena spontan saja saya ingin menertawakan diri sendiri, dan rasa heran yang muncul melihat pesan itu.
Dari kecil, saya suka menulis surat dengan tulisan tangan sendiri. Maklum, waktu kecil dulu belum ada internet, komputer hanya dipakai untuk mengetik di WordStar dan membuat tabel di Lotus.
Yang saya ingat, ada teman SD yang pindah ke luar kota, dan saya terus berteman dengannya lewat surat-surat yang kami kirimkan ke satu sama lain. Pernah punya beberapa sahabat pena, dari dalam dan luar negeri, meski tidak ada yang awet.
Sampai SMA dan kuliah pun, saya masih menulis, mengirim dan menerima surat dengan tulisan tangan ke dan dari beberapa teman. Saat kuliah di luar negeri dan sering bepergian, frekuensi menulis surat mulai berkurang, karena surat dengan tulisan tangan tergantikan oleh surat elektronik. Namun beberapa kali saya mengirim kartu pos yang saya tulis sendiri ke teman-teman saat bepergian.

Dari beberapa orang yang pernah menjadi tujuan saya menulis surat, ternyata ada sekelompok orang yang menjadi dambaan hati saya. Sebagai orang yang acap kali bimbang dan ragu dalam menyatakan isi hati secara langsung, surat dengan tulisan tangan menjadi media saya untuk menyampaikan, kadang meluapkan, perasaan yang tersimpan dalam hati.
Sepertinya saya percaya, proses menulis dengan pena dari tangan kita ikut membuat tulisan kita lebih terasa. Apalagi kalau surat itu dibuat dengan maksud menyampaikan perasaan dalam hati, pasti kita berusaha sebisa mungkin membuat tulisan di surat bisa terbaca dengan baik. Untuk seseorang dengan tulisan tangan yang cenderung jelek seperti saya, akibat kebiasaan harus menulis dengan cepat saat kuliah, tentu saja ini perlu waktu ekstra.
Demikian pula kalau menulis surat untuk melampiaskan amarah, sepertinya membaca tulisan tangan yang bernada makian lebih terasa emosinya, dibanding membaca tulisan yang diketik.
Jadi saya pernah menulis surat dengan tulisan tangan untuk orang-orang yang saat itu sedang ditaksir. Demikian sebaliknya, saya pernah menulis surat dengan tulisan tangan setelah putus. Yang pertama, tentu saja menulisnya dengan banyak tersenyum dan melamun, sehingga tulisannya terlihat indah, bisa dibaca dengan jelas, dan bernada positif. Sementara yang kedua, ditulis dalam keadaan marah, banyak coretan, menulis sambil menangis, dan sering kali bernada negatif.
Yang membuat saya heran, adalah saat penerima masih menyimpan surat-surat tersebut. Saat mengirim surat-surat tersebut, tidak pernah sama sekali terbersit keinginan agar surat-surat saya disimpan. Biasnaya berharap dibalas, tapi anehnya, kalau saya ingat-ingat lagi, saya pun tidak pernah sampai “baper” kalau surat saya tidak dibalas. Somehow, kelegaan saya sudah tercapai saat saya pergi ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu.
Yang membuat saya juga heran, beberapa orang yang pernah menerima surat-surat saya, mengontak saya beberapa tahun kemudian, saat rasa sudah berubah, dari ada menjadi tiada.
Dan kejadian di awal tulisan ini tidak hanya sekali terjadi, tapi sudah beberapa kali. Tentu saja tidak pernah terjadi di saat yang bersamaan, karena saya sangat lugu untuk tidak pernah suka sama lebih dari satu orang di kurun waktu yang sama atau berdekatan. Kasihan, ya?
Setiap menerima kejadian “hey, saya masih menyimpan surat-suratmu, nih!”, biasanya saya spontan tertawa. Seperti diingatkan lagi oleh semesta tentang bagian dari hidup yang seringnya saya sudah lupa. Seperti diingatkan lagi oleh semesta, bahwa it always feels great to share and to check on other people, through our letters.
Mungkin itu juga yang membuat mereka menyimpan surat-surat tersebut. Saat tidak sengaja menemukannya, mereka juga teringat lagi akan satu, atau beberapa, momen dalam hidup yang mungkin mereka juga lupa.
Dan sesaat kita sadar, bahwa kita pernah dekat, meski tak selalu dua arah. Sesaat kita sadar, bahwa kita pernah menjadi bagian satu sama lain, meski tak selalu lekang.
And for once, through letters, we feel alive by being seen.
Mungkin kita harus menulis surat lagi dengan tulisan tangan.
Sepertinya saya siap.
What about you?

Tinggalkan Balasan ke Lagu Ini Saya Dedikasikan Untuk Kita – LINIMASA Batalkan balasan