Spirit Doll: Klenik Thailand Itu Bukan Buddhisme

SEJUJURNYA, enggak nyangka bakal menulis tentang ini di Linimasa. Haha! Soalnya bukan perkara tren perbincangan, atau current issue, apalagi Luk Thep sebenarnya bukan hal yang baru-baru banget; sudah populer di Thailand sejak beberapa tahun lalu sebagai kepercayaan setempat. Kemudian menjadi populer, dan akhirnya banyak diikuti warga negara lain, termasuk Indonesia.

Para early adopter-nya di sini–bisa ditebak–adalah orang-orang yang berstatus sebagai pemeluk agama Buddha, atau setidaknya para simpatisan, alias mereka yang memiliki ketertarikan dengan budaya maupun tradisi ritual Buddhisme khas Thailand. Sampai di sini, mestinya hanya akan menjadi perbincangan untuk kalangan sendiri. Hingga akhirnya Spirit Doll mulai mengemuka belakangan ini, lantaran juga dipelihara oleh figur publik serta anggota kelompok masyarakat yang lebih luas, dan barangkali minim bersinggungan dengan perihal budaya klenik Thailand, atau pun perbedaannya dengan Buddhisme yang kebetulan sudah kental berpadu dengan tradisi lokal di Thailand.

Seiring maraknya perbincangan tentang Luk Thep yang muncul di mana-mana, lengkap pula dengan jargon-jargon khas dalam Buddhisme yang melekat atasnya, bikin pengin nulis soal ini. Bukan untuk beradu argumentasi dan menghakimi kegemaran orang lain, tetapi sedikit memperkenalkan beberapa hal mendasar yang menunjukkan bahwa klenik Thailand dan termasuk sangkut pautnya dengan Luk Thep berada di kompartemen berbeda dengan Buddhisme.

Screenshot: Artikel Detik.

Mengambil contoh cuplikan artikel daring di atas, frasa “memupuk karma baik”, “pelimpahan jasa”, dan “karma buruk di masa lalunya” merupakan terminologi yang jamak digunakan dalam lingkungan umat Buddha Indonesia, dalam pembahasan konsep-konsep Buddhisme, bahkan dalam ceramah. Pada akhirnya, istilah-istilah tersebut pun menghiasi halaman deskripsi para pelapak yang menjual Luk Thep di berbagai lokapasar. Tidak menutup kemungkinkan, akan muncul mispersepsi-mispersepsi lewat penjelasan yang diawali dengan: “Menurut kepercayaan agama Buddha…

> Ritual untuk boneka dilakukan oleh Bhikkhu?

Screenshot: Artikel Tirto.

Pada dasarnya, pelaku atau pembelajar Buddhisme terbagi menjadi tiga kategori:

  1. Petapa maupun umat perumah tangga yang telah merealisasi ajaran, atau umumnya sebut saja … yang telah mencapai kesucian.
  2. Petapa biasa, masih berlatih agar bisa merealisasi ajaran.
  3. Umat perumah tangga, masih berlatih agar bisa merealisasi ajaran.

Sebagai petapa (kategori 2), para Bhikkhu berikrar melatih diri dalam Buddhisme dengan komitmen yang berbeda dengan umat perumah tangga (kategori 3). Mereka menjalankan gaya hidup khusus, mematuhi lebih banyak peraturan moralitas dibanding umat biasa, dan mendedikasikan hidupnya selama berjubah untuk memperdalam pemahaman ajaran (pernah diceritakan sebelumnya di “Antara Biksu, Bhikkhu, dan yang Palsu“).

Karena itu pulalah, para Bhikkhu secara otomatis ditempatkan sebagai pembimbing umat perumah tangga. Misalnya dalam menyampaikan petikan-petikan ajaran Buddhisme, memandu meditasi, memberikan nasihat dan pandangan yang bukan berupa nujum.

Namun, terlepas dari aspek-aspek sosial tersebut, para Bhikkhu tetap terikat dengan peraturan. Yang salah satunya adalah…

Dikutip dari: “The Bhikkhus’ Rules
A Guide for Laypeople
The Theravadin Buddhist Monk’s Rules
Compiled and Explained”
oleh
Bhikkhu Ariyesako

Petikan di atas merupakan salah satu bagian dari kitab komentar untuk Vinaya Piṭaka, bagian dari Tipiṭaka yang khusus berisi aturan beserta aspek-aspeknya. Dari sini, jelas bahwa para Bhikkhu tidak boleh melakukan aktivitas atau ritual dengan tujuan-tujuan klenik dan sejenisnya, meskipun mereka mengaku sakti dan bisa melakukannya.

Kalau demikian, mengapa banyak Bhikkhu Thailand yang terlihat mengurusi Luk Thep?

Berbeda dengan Indonesia, yang jumlah Bhikkhunya hanya kurang dari 150 orang (mazhab Theravāda, aliran mayoritas yang sama seperti di Thailand), Thailand memiliki lebih dari 340 ribu Bhikkhu. Tapi tidak semuanya menjalankan Buddhisme secara baku, seragam, dan terawasi dengan paripurna. Tetap ada sebagian besar kelompok Bhikkhu yang justru menjalankan campuran antara Buddhisme dan animisme atau kepercayaan lokal yang diajarkan dari guru ke murid, walaupun lebih banyak porsi kepercayaan lokal daripada prinsip-prinsip Buddhismenya. Bagi yang tujuannya macem-macem, mungkin lebih tertarik belajar sama guru yang beginian, daripada sama Bhikkhu yang sungguhan.

Maka, tidak aneh bila berkunjung ke Thailand, kita bisa melihat ada Bhikkhu yang berbelanja di pasar, menjual liontin besar-besar, bikin tato rajah, bahkan sampai melanggar hukum dan ditangkap polisi.

Țară raid Dezacord how to get to amulet market bangkok -  thecheesypopcorn.com
Ngapaen om?
Iya, fotonya masih alamy

Jadi, kalau ada Bhikkhu yang, katanya, bisa melakukan pengarwahan Spirit Doll, bisa dirancukan dengan dukun, yang jelas-jelas branding-annya seperti itu.

Padahal, dalam Buddhisme tidak ada konsep arwah, jimat, dan mediumisasi. Jadinya, apa yang diisi apa?

Oh, dan satu lagi, secara teknis, Buddhisme tidak mengenal konsep reinkarnasi, atau kelahiran berulang dari satu roh yang tetap. Ya itu, wong konsep arwah atau roh saja dianggap invalid, kok. Haha! 😅

> Pelimpahan jasa adalah tindakan perenungan.

Teorinya, secara sederhana, pelimpahan jasa adalah upaya seseorang untuk membagikan kebahagiaan dari perbuatan baik yang dilakukannya, kepada sanak dan keluarga, atau leluhur yang telah meninggal agar mereka dapat turut bergembira atas kebajikan yang telah terlaksana. DENGAN CATATAN, sasaran pelimpahan jasa tersebut adalah makhluk Peta (sebutan untuk jenis entitas setan kelaparan dalam kosmologi Buddhis), khususnya yang berjenis Paradattupajivika Peta atau makhluk Peta yang keberadaannya bergantung pada pemberian orang lain melalui pelimpahan jasa. Bukan jenis yang lain.

Karena tingkatannya berada di bawah manusia, makhluk Peta jenis ini hanya bisa menderita dan meratapi eksistensinya. Sampai ada seseorang yang melakukan perbuatan baik, lalu secara sadar memancarkan kebahagiaan (karena telah melakukan kebaikan) tersebut kepada si makhluk Peta tadi. Setelah si makhluk Peta turut bersukacita, kegembiraan yang dirasakan membuat eksistensinya (sebagai makhluk Peta) musnah, dan kesadarannya beralih ke alam kehidupan selanjutnya sesuai simpanan karma yang dimiliki.

TLDR: Ya … begitulah.

Nah, kalau boneka-boneka arwah yang dijual tersebut harus dirawat dengan pelimpahan jasa oleh pemiliknya, apakah berarti Spirit Doll tersebut “diisi” oleh Paradattupajivika Peta? Yang boro-boro bisa “diangkut dan dimasukkan” ke dalam boneka, padahal sepanjang eksistensinya mereka hanya bisa meratap?

Kalau ternyata “isinya” bukan Paradattupajivika Peta, berarti, tidak sesuai dengan konsep Buddhis, dong? Gimana coba? 😅

Dalam tradisi Buddhisme Theravāda (termasuk di Thailand), tindakan pelimpahan jasa diilustrasikan dengan menuang air setelah melakukan kebaikan tertentu.

Bagi saya, tindakan pelimpahan jasa ini lebih menekankan pada perenungan, alih-alih menjadi tindakan fungsional. Yakni kita sebagai manusia, makhluk dengan kapasitas fisik dan mental, agar terus melakukan kebaikan-kebaikan praktis dalam kehidupan sehari-hari sambil mengenang para leluhur yang telah meninggal termasuk jasa-jasa kebaikannya sewaktu hidup. Ketimbang difungsikan semata-mata sebagai ritual untuk “mengantarkan” makhluk Peta mengalami kelahiran kembali.

Pernyataan tentang pelimpahan jasa di atas mungkin termasuk unpopular opinion bagi kalangan Buddhis, cuma, bagi saya, inilah yang dapat diterima dan mungkin terjadi, sampai terbukti sebaliknya.

[]

2 thoughts on “Spirit Doll: Klenik Thailand Itu Bukan Buddhisme

  1. wah dapet informasi baru. Makasi Mas Dragono buat pemahamannya. Aku baru tahu loh kalo Buddhisme itu ga kenal konsep reinkarnasi.

    1. Terima kasih sudah membaca.

      Perkara “reinkarnasi” vs. “kelahiran kembali” dalam Buddhisme ini memang agak dalam. Mesti dua-duanya kadang saru satu sama lain. 😅

Leave a Reply