Mencari Validasi Sampai Mati

BEBERAPA hari lalu, saya tanpa sengaja menonton salah satu episode serial “Star Trek: Voyager” (1995-2001). Ceritanya, Seven of Nine (Jeri Ryan) mengalami kerusakan komponen penting, dan membuatnya mengalami risiko cease to function atau kematian.

Star Trek Women Photo: Seven of Nine | Star trek, Star trek images, Star  trek series
Foto: Pinterest

Dalam kepasrahannya menghadapi kematian, ada salah satu bagian dialog Seven of Nine yang menarik. Yakni bagaimana setelah kematiannya nanti, tidak ada yang tersisa dari keberadaannya. Sebab ia sudah tidak terhubung dengan kesadaran dan ingatan komunal The Collective–mirip, tetapi bukan nama gereja. Sementara setelah kematiannya pun, ia mungkin tidak akan berakhir di akhirat (mungkin karena sudah pernah menjadi separuh robot).

Kurang lebih begini.

“Tidak seperti kalian, yang setelah meninggal akan berakhir di akhirat … validasi atas semua perbuatan semasa hidup.”


Validasi, rekognisi dan pengakuan dari pihak lain, serta ganjaran yang diharapkan atas pengakuan tersebut. Tanpa kita sadari, hidup mengkondisikan, bahkan memaksa kita untuk terus mengejarnya sebagai sebuah keharusan yang wajar.

Semenjak lahir, kita tumbuh dan dibentuk oleh lingkungan sosial yang menempatkan validasi eksternal sebagai parameter yang mahapenting, yang menentukan nilai kita (terhadap orang lain dan masyarakat), atau malah nilai diri kita (terhadap diri sendiri). Sistem dan struktur dalam kehidupan kita, termasuk budaya, nilai-nilai sosial, pendidikan, juga agama mengarahkan kita agar berpikir serta bertindak untuk mengejar validasi.

Terdapat banyak konsep terkait hal ini. Misalnya,

  • Hidup menjadi manfaat bagi sesama.
  • Menjalani hidup yang bernilai.
  • Memberi nilai dan warna dalam kehidupan.
  • Sense of Purpose
  • Menjadi kebanggaan keluarga/masyarakat/bangsa dan negara/agama.

Termasuk

  • Kumpulkan pahala supaya mati masuk surga.

Hal-hal di atas memang positif, tetapi terikat dengan nilai, penilaian, dan tentu saja validasi eksternal. Hidup kita bisa bermanfaat bagi sesama, jika orang lain merasakan manfaat dari apa yang kita perbuat.

Untuk benar-benar memiliki dan menjalani hidup yang bernilai, harus ada nilai, penilai, dan penilaiannya. Bisakah kita menetapkan nilai dan melakukan penilaiannya? Bisa saja, tetapi hasil penilaiannya mungkin tidak berlaku bagi orang lain. Salah satunya berupa rasa bangga. Banyak dari kita yang baru benar-benar bisa bangga pada diri sendiri, setelah mendapatkan validasi kebanggaan dari orang lain. Lantaran sebaliknya, seseorang yang kadung bangga terhadap dirinya sendiri bisa berlaku bias.

Bisakah kita bangga pada diri sendiri tanpa perlu divalidasi pihak lain? Bisa saja, tetapi tetap dalam risiko bersinggungan dengan kaidah-kaidah sosial yang berlaku di masyarakat.

Seseorang yang telah menemukan Sense of Purpose ibarat mendapatkan jati dirinya. Ia sudah mendapatkan tujuan dalam hidup; tahu apa yang akan dituju dan tidak lagi berada dalam kebingungan atau keraguan. Namun, untuk bisa mencapai titik bebas keraguan tersebut, tetap harus ada validasi yang dilakukan dan dicapai baik melalui masukan atau dorongan dari eksternal, maupun yang berasal dari keteguhan hati sendiri.

Hingga menemui titik akhir (bagi sebagian besar orang), kematian. Berdasarkan seperangkat dogma agama, kita melakukan kebajikan, mengumpulkan pahala, menjadi umat yang baik agar layak masuk dan dikumpulkan di surga. Keberhasilan kita masuk surga menjadi validasi atas semua keimanan, kebaikan, ketaatan, dan kepatuhan yang telah kita perbuat semasa hidup.

Kita mengejar validasi.

Demikianlah (telanjur) hidup sebagai manusia.

Mencari dan mendapatkan validasi merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam kehidupan sebagai manusia, menjadi bagian tak terpisahkan dari peliknya menjalani kehidupan … risiko hidup menjadi manusia.

Lalu, bisakah kita menjalani hidup tanpa kekangan nilai dan validasi? Bisa, mungkin, dan tentu saja hanya dalam lingkup individual atau perorangan. Kemerdekaan yang absolut.

[]

2 thoughts on “Mencari Validasi Sampai Mati

Leave a Reply