Mengizinkan Diri untuk Minta Maaf dan Memaafkan

BESOK sudah Lebaran lagi; hari kemenangan bagi kawan-kawan muslim yang sudah menjalankan ibadah puasa Ramadan meski masih dalam situasi pandemi. Menang, karena telah berhasil mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, dan mengikuti semua ketentuan yang berlaku. Menang, karena telah berusaha semaksimal mungkin kembali ke fitrah, ditandai dengan saling bermaafan … dan saya justru melihatnya sebagai ujian paling akhir.

Bisakah kita meminta maaf setulus hati?
Bisakah kita ikhlas memaafkan?

Ketulusan dan keikhlasan seseorang hanya diketahui oleh yang bersangkutan, dan tuhan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa mengukur kesungguhan hati manusia lainnya, karena yang terlihat hanya sebatas di bola mata; yang terdengar hanya sebatas di daun telinga; yang terasa hanya sebatas di permukaan kulit; dan yang dipahami hanya sebatas anggapan.

Namun, biarlah itu kembali menjadi urusan pribadi masing-masing. Ada yang meminta maaf demi kesopanan dan tata krama belaka, tetap dengan benak penuh sinisme dan kepalsuan. Ada pula yang mengucap maaf demi pencitraan, berusaha meninggalkan kesan sebagai seseorang yang bijaksana dan penuh belas kasihan. Wajar, namanya juga manusia biasa. Lantaran orang-orang yang sungguh-sungguh meminta maaf, dan mampu memberi maaf, telah berhasil melewati dan memenangkan pergulatan dengan dirinya sendiri. Mereka seperti berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan beban batin yang terserak di mana-mana tanpa bersisa menjadi sebuah blok beton besar, lalu meninggalkannya utuh-utuh tanpa setitik pun niat untuk berbalik dan menyeret-nyeretnya kembali. Tentu tidak mudah.

Walaupun demikian, meminta dan memberi maaf bukan berarti melupakan. Apa pun kejadian atau peristiwa yang terjadi sebelumnya tetap dilihat sebagaimana adanya; pengalaman dan pembelajaran. Untuk setiap kesalahan yang dilakukan orang lain, kita maafkan orangnya, tetapi kita pahami apa yang telah terjadi agar bisa menghindarinya di kemudian hari. Termasuk, bila kita harus sangat berhati-hati, atau bahkan menjauhi orang tersebut. Bukan menyimpan dendam, kok. Hanya berjaga-jaga, karena pernah dibuat susah sebelumnya.

Untuk setiap kesalahan yang kita lakukan, cobalah awali dengan jujur pada diri sendiri. Apakah kesalahan tersebut sengaja kita lakukan untuk menyusahkan dan menyakiti orang lain, ataukah merupakan sebuah ketidaksengajaan? Apabila tujuannya memang untuk menyusahkan dan menyakiti, tidak ada gunanya meminta maaf kepada orang lain sebelum benar-benar meminta maaf kepada diri sendiri. Sebab keberanian untuk minta maaf kepada diri sendiri pasti akan diikuti penyesalan, dan dorongan untuk berubah. Minimal agar tidak mengulanginya.

Apabila kesalahan tersebut adalah buah dari ketidaksengajaan, mintalah maaf setulus hati karena setidaknya kita tahu apa yang sudah diperbuat, berikut konsekuensi yang bisa kita dapatkan. Namun, tetaplah persiapkan hati, karena orang lain berhak untuk tidak memberikan maaf. Jangan berharap atau membangun ekspektasi terlalu tinggi, apalagi memaksa. Sebab yang terjadi, telah terjadi.

… dan semua ini hanya bisa terjadi manakala kita sungguh-sungguh mengizinkan diri untuk minta maaf, atau memaafkan.

Mohon maaf lahir batin.

[]

Leave a Reply