“Kita” Adalah Isi Perut Kita?

PERTANYAAN yang menjadi judul tulisan di atas muncul setelah membaca twit berikut, dan lanjut membaca serangkaian utas yang ditautkan di dalamnya, hingga sedikit Googling saking penasarannya.

Sebagai seseorang yang awam soal biologi dan cabang-cabang keilmuannya, pandangan ini menggelitik sekaligus mengundang untuk mikir macem-macem. Sederhananya, segala dorongan tindakan, aktivitas organ tubuh dan fisiologis, gejolak hormonal, serta kesan, sensasi, maupun persepsi rasa yang kita alami, semuanya gara-gara 40 triliunan mikrob dalam usus. Sementara total sel yang ada dalam tubuh manusianya “hanya” 30 triliun.

Yang kita ketahui selama ini, otak merupakan kepala pemerintahan seluruh tubuh. Katakanlah seperti seorang gubernur, pemimpin sebuah provinsi yang kompleks (fisik), agar bisa menjadi satu kesatuan sistem yang utuh supaya mampu mengerjakan sesuatu dan mencapai yang diinginkan (aspirasi). Lalu, ibarat mafia yang diam-diam memiliki pengaruh jauh lebih kuat dibanding pemerintah, mikrob pencernaan dalam usus tadi justru bisa menyetir gubernur; mengatur apa yang harus dilakukan, kapan, dan bagaimana caranya. Terutama untuk hal-hal yang berhubungan atau bisa berdampak pada sekumpulan mikrob tersebut. Secara spesifik, semua lubang tubuh yang terhubung dengan “markas besarnya”, yaitu usus.

Ketika terjadi, yang muncul di permukaan, dan kita rasakan adalah berbagai sensasi badaniah. Termasuk di antaranya rasa lapar, kehausan, kegelisahan, perasaan nikmat, kesegaran, dan sebagainya. Dari sensasi-sensasi badaniah tersebut, ada yang merupakan dorongan agar kita segera melakukan dan mendapatkan sesuatu, ada pula yang merupakan efek setelah kita melakukan dan mendapatkan sesuatu.

Penggambaran ini mungkin terdengar sangat imajinatif, tetapi … begitulah yang bisa saya tangkap sebagai seorang awam. Coba saja bayangkan, di tingkat yang paling dasar, semua tindakan manusia bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup (regenerasi dalam konteks sel), dan meneruskan keberadaannya lewat berkembang biak (reproduksi).

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup, kita makan, minum, tidur, serta buang air (besar, kecil, keringat, menstruasi, ejakulasi, dan keluaran-keluaran tubuh lainnya), termasuk bernapas yang terjadi secara terus-menerus dan otomatis. Orang-orang yang menderita psikosis, atau sakit jiwa pun akan tetap melakukan keempat aktivitas tersebut meskipun mereka tidak lagi memiliki persepsi atas kelayakan.

Secara umum, semua yang didapatkan dari empat aktivitas tersebut akan menjadi asupan bagi tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Otak akan mengatur distribusi nutrisi dari pencernaan ke seluruh tubuh, dan “memerintahkan” organ-organ tubuh agar bekerja sebagaimana mestinya. Di luar dari mekanisme tersebut, mikrob dalam usus juga mendapatkan apa yang mereka (atau “dia”? Karena barangkali merupakan kesatuan tunggal? Entahlah…) inginkan, yakni–katanya–mobilitas, atau pertukaran, atau kemajemukan mikrob. Ada jenis mikrob baru yang masuk, ada pula yang keluar … dan ini sudah terjadi sejak seseorang masih dalam kandungan.

Janin mendapatkan transfer nutrisi dan mikrob dari ibunya. Mikrob ibunya pun mengalami kemajemukan lewat makan, minum, pertukaran cairan tubuh baik dalam bentuk berciuman atau hubungan seksual (reproduksi). Setelah sang anak lahir, ia tetap disusui, diberi makan, minum hingga tumbuh dewasa, akan menangis saat merasakan ketidaknyamanan untuk minta diasup sesuatu, dan mengalami fase reproduksi, persis seperti orang tuanya dahulu. Apakah mikrob usus dari ibunya–dan ayahnya–tetap ada di sana? Bisa jadi.

Manakala mikrob usus ini bermasalah, seperti kurang nutrisi, kurang mobilitas, bahkan kurang beragam, disebut memengaruhi stres dan tingkat kecemasan seseorang, malah bisa sampai di level psikis (hanya bisa diredakan, tidak bisa dikembalikan seperti sebelumnya).

Imajinasi makin liar, saya pun menduga bahwa kita, manusia, diperkenalkan dan diakrabkan dengan sensasi nikmat, sedap, menyenangkan, agar secara tidak sadar selalu menggemari dan menggandrungi asupan-asupan buat tubuh, dan mikrob usus. Manusia dan hewan lainnya sama-sama makan, tetapi bisa jadi hanya kita yang memiliki persepsi rasa lezat dan tidak. Kita mengenalinya sebagai akal budi dan nilai artistik, padahal aslinya adalah impuls dari sekumpulan mikrob usus.

Sama halnya dengan persetubuhan. Semua makhluk hidup melakukan reproduksi, tetapi hanya manusia (dan mungkin beberapa jenis primata lainnya, seperti Bonobo) yang memiliki persepsi tentang kenikmatan seksual dan hormonal. Sehingga manusia memiliki pilihan setiap kali bersetubuh: Ingin meneruskan keturunan, atau sekadar mencari kenikmatan dalam kehangatan dan gelinjang.

Padahal, dalam konteks mikrob usus, kehadiran individu baru (hasil pembuahan) berarti adanya wahana baru, platform baru, tempat menumpang yang baru.

Ketika seseorang meninggal otaknya berhenti bekerja, begitu pula jantung, dan segala organ tubuhnya yang lain. Bagaimana dengan mikrob usus tadi? Keluar dari tubuh yang terurai dan mengalami pembusukan. Apakah musnah? Tampaknya tidak. Entah diserap dalam tanah; menjadi nutrien atau zat hara yang menumbuhkan rumput, pohon, buah, dan bunga; atau terikut dimakan cacing tanah, yang kemudian mungkin akan dimangsa hewan lain yang lebih besar. Bisa jadi, ia abadi.

… dan kita, di sini, terus merayakan eksistensi diri sebagai makhluk paling berkuasa di muka bumi.

Photo: Jannes Jacobs

[]

Leave a Reply