Ulang Tahun Yang Berulang

Selamat ulang tahun.

Saat kita membaca tulisan di atas, maka reaksi kita biasanya dimulai dengan dua kata. Dua kata ini bisa terdiri dari “Oh, iya!”, saat kita sadar kalau hari ini adalah hari ulang tahun teman atau saudara. Bisa juga dua kata tersebut terdiri dari “Thank you” atau “terima kasih”, karena Anda sedang berulang tahun saat membaca tulisan ini. 

Selamat ulang tahun, ya! Semoga hari ulang tahun ini bisa dirayakan sesuai dengan apa yang diinginkan atau direncanakan.

Ulang tahun saya sendiri akan berlangsung beberapa hari lagi, dari tanggal tulisan ini dimuat. Kebetulan juga, tanggal lahir saya dan Roy Sayur, pemilik situs ini, sama. Cuma beda tahun saja. Mungkin juga beda tradisi cara merayakannya.

Beberapa tahun lalu, saya selalu pergi ke luar kota setiap ulang tahun. Sebisa mungkin tradisi ini saya lakukan, meskipun sedang ada pekerjaan yang menghimpit waktu. Pernah juga akhirnya tidak bisa pergi ke luar kota, karena benar-benar harus standby di dalam kota. Dan tidak pernah mengganti di lain waktu, karena dulu saya berpikir, kalau bepergian di lain waktu, maka “momennya akan hilang”. 

Terakhir saya pergi ke luar kota saat ulang tahun, tentu saja saya lakukan di tahun 2019. Setahun berikutnya, tanpa pernah kita duga, kita tidak bisa lagi bepergian secara bebas, karena pandemi. Dan selama setahun terakhir, banyak hal yang membuat saya berpikir ulang tentang ulang tahun.

Yang paling obvious atau kentara, adalah betapa pandemi ini membuat kita banyak berpikir. Terutama soal kematian dan kepergian. Setahun lalu saya pernah menulis tentang coping with loss dari pandemi yang akan membekas cukup lama. Setahun di masa pandemi ini, kita sudah dan sedang menjalani hal tersebut. Kita dipaksa dan terpaksa mengucap kata perpisahan terhadap kawan dan kerabat yang berpulang. Kadang belum habis kita menerima kenyataan kepergian seseorang, kita harus mendengar kabar rekan lain yang juga pergi terlebih dahulu meninggalkan kita.

Masa pandemi ini luar biasa memecut mental kita. Menguras daya tahan, emosi dan kesabaran kita. Acap kali, secara tidak sadar hal ini mempengaruhi fisik kita.

(source: unsplash.com)

Setelah cukup lama bertahan dengan kondisi fisik yang a la kadarnya, karena frekuensi dan jenis olahraga berganti cukup drastis, tiba-tiba beberapa penyakit menimpa saya dalam beberapa minggu terakhir. Cukup membuat kaget. Belum selesai satu penyakit, muncul penyakit lain. Mencoba memaklumi kehadiran penyakit-penyakit ini, namun di sisi lain, saya tidak mau memaklumi. Saya mau sembuh.

Dan untuk itu, mau tidak mau saya terpaksa mendengarkan badan lebih intensif lagi. Tidak bisa lagi menapis nyeri kecil yang ada di dada. Tidak bisa lagi menganggap enteng batuk kecil yang terus menerus terjadi. Akhirnya, mau tidak mau, saya sering berkonsultasi dengan dokter. Menjadwalkan pemeriksaan medis menyeluruh secara rutin dan berkala. Mengurus asuransi kesehatan, memastikan bahwa ada yang bisa meng-cover rawat jalan dan rawat inap, meskipun harus menggunakan produk asuransi yang berbeda.

Akhirnya saya tidak lagi menganggap enteng ulang tahun. Sama seperti kita tidak lagi menganggap remeh ucapan “stay healthy!” dari rekan atau kerabat yang menanyakan kabar atau sedang ngobrol dengan kita. 

Dalam sebuah episode kecil saat saya sedang sakit, pikiran saya sempat melayang dan bermuara pada pertanyaan, “What if?” 

What if I wouldn’t make it past a certain age?

What if this illness stayed?

What if I wouldn’t love again?

Masih banyak lagi pertanyaan “what if”s yang berkecamuk di pikiran. Tidak ada yang terjawab. Semuanya pelan-pelan menguap saat saya memutuskan utnuk melakukan apa yang sudah saya tulis di atas, yaitu mempersiapkan diri dengan asuransi, menjaga pola makan, menyempatkan olahraga rutin di sela-sela rutinitas, dan menerima kenyataan bahwa every moment counts.

Pandemi membuat kita tidak bisa merencanakan kegiatan dalam jangka panjang. Atau, belum bisa. Kita melihat dan menunggu perkembangan yang terjadi setiap hari. Akhirnya, kita semakin menghargai setiap waktu yang kita jalani. Kita sering berpikir, this pandemic, this present moment, won’t last.

Saya akan merindukan ucapan “selamat ulang tahun” dari beberapa teman yang sudah tiada. Saya juga masih dan akan merindukan mengucapkan “selamat ulang tahun” kepada mereka. Sebagai gantinya, saya kadang menutup mata sejenak saat ingat mereka, dan mendoakan sebisanya untuk mereka.

Ulang tahun kita tidak akan terulang lagi. Because every year, our birthday will always be different. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Saya tidak tahu juga, sampai kapan saya akan berulang tahun. Saya cuma tahu, bahwa setiap ulang tahun yang kita rayakan adalah one giant blessing that we are still here. 

Cheers!

Leave a Reply