Selamat Ulang Tahun, Jurnal!

Akhirnya, saya bisa punya jurnal pribadi tahunan. Tepatnya jurnal pribadi tahunan yang pertama. 

Hari ini, tepat setahun yang lalu, saya mulai menulis tiga hal yang membuat saya bersyukur setiap harinya. Di sebuah buku yang sudah lama tidak terpakai, saya menulis dengan tulisan tangan, “Three Things You’re Grateful of”. Setiap hari hanya menuliskan 3 hal. Tidak kurang, tidak lebih. Latar belakang kenapa saya menulis ini, pernah saya bagi di tulisan berjudul “Track Record” tahun lalu.

Alasan utama melakukan hal ini, tentu saja karena saya ingin tetap waras di masa pandemi. Tidak ada alasan lain sepertinya, selain masalah menjaga kewarasan ini. Seperti yang beberapa kali saya ceritakan juga, kemampuan saya untuk rutin menulis catatan harian pribadi dan menjaga agar tetap terus konsisten mengisi catatan, sangat rendah. Tidak pernah ada jurnal pribadi yang bertahan lebih dari 3 atau 4 bulan. Itu saja sudah luar biasa.

Makanya, saya sempat takjub, kok bisa ya, kali ini bisa bertahan setahun?

Mungkin karena ada batasan tidak lebih dari 3 items setiap hari yang ditulis. Ada kalanya saya bingung, mana saja yang harus ditulis. Mau tidak mau, memilih mana yang harus ditulis ini memaksa saya untuk membuat skala prioritas.

(source: inc.com)

Di sisi lain, ada kalanya saya bingung, apa yang perlu ditulis, karena hari yang berlalu sepertinya terasa biasa-biasa saja. Kalau sudah terbentur dengan perasaan seperti ini, mau tidak mau saya harus mengingat-ingat kembali rangkaian kejadian dari pagi sampai malam hari. Apa saja yang sudah dilakukan selama seharian. Lalu memilih hal yang baik, yang layak untuk dicatat. Akhirnya hal ini melatih saya untuk berusaha melihat sisi positif dari hal-hal yang terjadi sehari-hari. 

Saya tidak tahu persisnya, kapan kebiasaan menulis rutin tentang 3 hal baik setiap hari ini menjadi kebiasaan yang tidak terpisahkan. Kalau ada yang bilang, melakukan hal baru secara rutin selama 3 minggu berturut-turut akan membuat hal baru ini menjadi sebuah kebiasaan, kok tidak terjadi pada saya. 

Yang saya ingat, pasca 3 minggu pertama, masih perlu effort untuk membangkitkan semangat agar mau menulis. Setelah lewat 3 bulan pun, acap kali ada hari-hari yang terlewat, sehingga mau tidak mau ketika saya menulisnya, misalnya 2 hari kemudian, maka saya perlu berpikir ekstra keras, apa yang terjadi pada 2 hari lalu. Maklum, semakin berumur, daya ingat semakin pendek rupanya.

(source: writingcooperative.com)

Untungnya, kemampuan mengingat dan acknowledge-and-appreciate little things in life ini sedikit demi sedikit terasah dari kegiatan rutin menulis setiap hari. Semakin hari, semakin mengapresiasi hal-hal kecil. Misalnya, dari beberapa hari lalu, kaki kanan saya sudah bisa menapak lantai lagi, setelah sebelumnya nyaris tidak bisa digerakkan karena sakit. Karena sudah bisa menapak lantai atau tanah, maka saya bisa berjalan. Tentu saja memperhatikan hal-hal kecil semacam ini akan saya catat, supaya tidak lupa.

Kadang-kadang ada juga dorongan spontan setelah menemui hal-hal baru, “Eh, lucu juga kalau hal ini dicatat nanti,” meskipun yang dicatat nantinya berbeda. Buat saya, that’s fine. Namanya juga pilihan.

Dan hari ini saya ingin merayakan pilihan untuk keep myself occupied di masa pandemi setahun terakhir ini. Akhirnya ada hal rutin yang bisa saya lakukan, dan sudah bisa berulang tahun. Semoga ini menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup.

Jadi, “ulang tahun” apa yang teman-teman peroleh dari masa pandemi ini?

(source: infed.org)

Dan saya share lagi video yang menginspirasi rutinitas ini. Perhatikan poin terakhir:

Leave a Reply