“Bolehkah Saya…”

DI KANTOR, kita kian sering mendengar;

Lebih baik minta maaf daripada minta izin,
yang penting jalan dulu.

Ungkapan ini disampaikan dengan penuh percaya diri dalam internal tim, serta keyakinan yang tinggi bahwa rencana atau project yang akan digulirkan bisa berbuah keberhasilan, meskipun bisa saja tetap mengundang kontroversi, pertanyaan, maupun keraguan dari tim-tim lainnya. Rasanya, seolah-olah ingin memberikan kesuksesan yang mengejutkan, ketimbang yang sudah terperkirakan.

Rasa percaya diri menghasilkan keberanian, dan keberanian mendorong semangat untuk segera melakukan, tidak menunda-nunda, dan menghindari segala hal yang berpotensi menghambat. Termasuk sikap meminta izin, atau validasi atas sebuah rencana karena bisa menimbulkan diskusi lanjutan yang dianggap memperlambat pelaksanaan.

Sebagai lawan dari ungkapan di atas, sikap meminta izin dan validasi atas tindakan yang akan dilakukan diasosiasikan dengan amatir, orang baru dengan pengalaman minim, maupun mereka yang masih takut-takut, dan tidak yakin terhadap apa yang akan mereka jalani. Di sisi lain, banyak atasan yang terkadang juga menyikapinya dengan gemas, atau memberikan respons yang ambigu. Misalnya: “Menurut kamu sudah oke? Ya, sudah, jalankan saja“; “Untuk yang begini-begini, bisa diputuskan sendiri lah…“; dan lain sebagainya.

Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah termasuk orang-orang yang selalu sat-set-bat-bet berbekal kemampuan kerja (yang kadang terkontaminasi dengan sikap menyepelekan sesuatu), atau cenderung lebih sering meminta arahan dan validasi sebelum melakukan sesuatu (baik karena benar-benar butuh petunjuk, atau sekadar formalitas sopan santun)?

Idealnya, ada keseimbangan antara dua sikap tersebut, serta dibarengi dengan kemampuan untuk menempatkan diri. Segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik, termasuk dalam hal-hal yang kita anggap paling dikuasai sekalipun.

Selalu berani, percaya diri dengan rencana dan apa yang dimiliki diri sendiri bersama tim berpotensi melenakan. Kalau sudah begitu, biasanya memunculkan blind spot, potensi masalah atau efek samping negatif yang abai dan tidak sempat diperhitungkan sebelumnya. Yang berikutnya, keterlenaan memunculkan rasa sombong, meremehkan apa yang bisa dihadapi. Apabila ini yang terjadi, apa pun hasilnya nanti; berhasil atau gagal, bisa sama-sama mengarah pada keburukan. Keberhasilan mempertebal keakuan dan keangkuhan, “Berhasil, kan?” Sedangkan kegagalan, apabila tidak bisa diterima dengan bijaksana, justru akan menghasilkan pukulan berat, disangkal dan menjadi denial, melemparkan kesalahan, bahkan terpuruk sangat dalam.

Sebaliknya, sikap yang selalu minta izin, minta arahan, dan minta petunjuk terlebih dahulu juga tidak luput dari aspek negatifnya. Seseorang yang terbiasa, dan dibiasakan untuk bersikap demikian cenderung takut, tidak pernah bisa menginisiasi, terkesan lamban (karena selalu menunggu terlebih dahulu), cenderung hanya bisa menjadi pengikut. Sama seperti penjelasan paragraf sebelumnya, keberhasilan maupun kegagalan bisa disikapi berbeda. Saat berhasil, mereka tidak bisa mengapresiasi diri sendiri, karena keberhasilan yang diperoleh dianggap berkat arahan dan petunjuk orang lain. Jika gagal, seakan-akan apa yang mereka pikirkan sebelumnya menjadi kenyataan. Lebih parahnya lagi, situasi ini menimbulkan sikap inferior dan rendah diri. Mereka memposisikan diri sebagai individu yang tidak bisa apa-apa, dan selalu gagal adanya.

Bagaimana kita sebaiknya? Mencoba untuk menjadi biasa-biasa saja. Mengawali dengan mencoba berpikir sedalam mungkin, lalu mendiskusikan apa-apa saja yang barangkali perlu ditambahkan, lalu menjalankannya dengan kesadaran dan waspada. Agar apa pun hasil yang diperoleh bisa berdampak semaksimal mungkin bagi penambahan wawasan. Sukses tidak euforia, gagal tidak nestapa.

Terus belajar, dan tetap meminta dengan baik. Bukan menodong atau merendahkan orang lain.

[]

Leave a Reply