Berdialog Lewat Monolog

Di masa pandemi, kita jadi gampang merasa parno atau paranoid kalau kita sakit. Pusing sedikit, sudah curiga kalau terkena Covid-19. Batuk sedikit, sudah langsung pusing tujuh keliling. Artinya, malah semakin pusing. Radang tenggorokan sedikit, sudah langsung berpikir yang aneh-aneh.

Sebagai orang yang juga gampang merasa dan melakukan kejadian-kejadian di atas, mau tidak mau, saya “terpaksa” berolahraga mandiri, dan meningkatkan konsumsi vitamin untuk melindungi tubuh dari potensi penyakit yang ada. Untuk urusan olahraga, tentu saja saya berperang dengan rasa malas tiap hari. Atau seperti orang Jawa Timur bilang, “Muuuuaaallleeess e poool!” Semakin banyak huruf U yang terucap, tingkat kemalasan semakin menjadi-jadi. Untuk urusan konsumsi vitamin, meskipun di awal-awal terasa dipaksakan, akhirnya sekarang terbiasa mengkonsumsi deretan kapsul setiap hari.

Meskipun begitu, tak urung beberapa kali badan ini terasa drop juga. Seringnya, kepala mendadak pusing. Walau tak sampai parah, kepala yang terasa berat mengganggu aktivitas juga. Kalau sudah begitu, mau tidak mau saya banyak rebahan. Berhubung saya tinggal sendiri, merasakan sakit kepala sendirian melelahkan juga.

Entah dari mana awalnya, dan persisnya kapan mulainya, saat saya susah tidur karena kepala masih pusing, saya mulai bergumam kepada diri sendiri. Kurang lebih seperti ini:

Hey, body. Let’s fight this. We’re in this together. We can beat this.

Pertama kali saya melakukan itu dalam keadaan setengah tidur, sehingga mungkin setengah sadar. Tapi saya kaget juga dengan apa yang saya ucapkan, karena diucapkan begitu saja, secara spontan. Lalu setelah saya mulai ngeh dengan apa yang saya ucapkan, saya mengulanginya lagi.

Hey, body. We can fight this. Let’s do it together.”

Ternyata kebiasaan ini saya lakukan lagi keesokan harinya. Demikian pula sampai beberapa hari berikutnya, sampai akhirnya badan ini merasa lebih segar. Lalu saat badan mulai terasa tidak enak lagi, kembali ucapan tersebut saya sampaikan. 

Dan mungkin karena saya kebanyakan nonton serial “The Simpsons” atau “The Family Guy” waktu remaja dulu, saya suka membayangkan sel-sel dalam tubuh saya merespon ucapan saya dengan, “Sir, yes, Sir! We can do this together!” Kalau perlu sambil berbaris dengan muka menggeram penuh ekspresi seolah-olah hendak bertempur di medan laga. 

Tentu saja karena saya “meminta” badan saya untuk melawan penyakit, maka para “penjaga badan” ini juga minta asupan energi, agar mereka bisa bertugas. Maka, meskipun muuuuuuuales berolahraga, kalau sudah ingat di dalam tubuh ini ada pasukan yang hanya bisa bekerja kalau sudah digerakkan, mau tidak mau saya harus bergerak. Meskipun itu sekadar berjalan kaki ribuan langkah, atau makan buah sebagai sarapan setiap hari, saya harus pastikan bahwa pasukan badan bisa berfungsi dengan baik.

Oke, sampai di sini, apakah hal ini terdengar aneh?

Tentu saja! 

Saya sendiri pun merasa aneh saat melakukannya di hari-hari pertama. Demikian pula menuliskannya sekarang.

Hanya saja, saya percaya, bahwa di masa sekarang, tidak ada lagi hal aneh yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan dan kewarasan kita, selama masih masuk akal. Semoga yang saya lakukan masuk akal, ya.

Jadi, dialog apa yang teman-teman sampaikan ke diri sendiri di masa sekarang ini?

(source: medium.com)

Leave a Reply